
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, sekarang ponsel Qin sudah bisa diambil. Friska membawanya ke kantor polisi, bersamaan dengan Fredy juga.
"Ini Pak, bukti bahwa saudari Qin tidak bersalah." ucap Fredy.
Polisi mengambilnya. "Baiklah, terima kasih telah bekerjasama." jawabnya.
Polisi memeriksa ponsel tersebut, dan terbukti Qin tidak bersalah. Awal mula yang membunuh adalah Wasli, lalu Qin berlari saat dikejar. Meski tidak seluruhnya direkam, namun sudah menjelaskan beberapa kejadian awal. Polisi bersiap pergi ke gunung Kiwochi, untuk menangkap Wasli dan teman-temannya.
Qin dan Friska kembali ke perusahaan Kharuga, menyerahkan tugas yang sudah diselesaikan. Perusahaan turut melakukan belasungkawa, atas kematian Tiger yang tragis. Lucky dan Thardo sampai berdiri kaku, bulu kuduknya merinding. Seram sekali, mendengar hal barusan.
"Ada iya orang sejahat itu?" tanya Lucky.
"Iya ada, kalian para senior beruntung tidak mengalami." jawab Friska.
"Nasib kami juga tidak bisa terus terjamin, lihatlah lembur di perusahaan hampir setiap hari." ujar Thardo.
"Aku doakan teman-teman senior baik-baik saja." jawab Friska.
Qin dan Fredy menghampiri Friska, lalu mengajaknya mengobrol di ruangan sebelah.
__ADS_1
"Eh, laporan kita di kantor polisi belum bisa diproses. Sampai sekarang tidak ditemukan, siapa penjahat kereta tengah malam tersebut." ujar Qin.
"Lalu, kita biarkan begitu saja?" jawab Friska.
"Tidak, aku akan mencoba bicara sama Mama. Aku yakin, perusahaan keamanan Opa bisa bekerjasama." ucap Qin.
"Iya sudah, coba saja. Aku takut mereka mencelakai keluargamu, karena semakin berlama-lama bebas." Friska tampak menakutinya, padahal kenyataan begitu.
Tiba-tiba ada nomor tidak dikenal mengirim pesan. Qin memperlihatkannya ke Fredy, dan Friska ikut nimbrung membacanya. Penasaran saja, mengapa Qin bisa panik seperti itu.
"Cepat cabut tuntutan dari kantor polisi, atau kami akan membunuh Mama kamu."
"Kok dia bisa tahu keluarga kamu?" tanya Friska.
Fredy memperhatikan sekeliling. "Apa Lucky dan Thardo termasuk juga?"
"Semuanya harus diselidiki, biar lebih jelas." jawab Qin.
Qin meminta izin dengan bos Rudal, lalu buru-buru berlari ke rumahnya. Sudah ramai aparat polisi bersama Arka juga.
__ADS_1
"Kenapa Pa, apa Mama menghilang?" tanya Qin.
"Iya Qin, padahal tadi masak di dapur. Tidak biasanya, dia pergi tanpa izin dari Papa." jawab Arka. "Tapi, kamu bisa tahu darimana?" Merasa heran.
Qin memperlihatkan pesan ancaman di ponselnya. "Ini pesan singkat, dari nomor tidak dikenal."
"Sebaiknya kamu jangan membatalkan laporan, kamu akan dibully masyarakat Indonesia." Arka melihat kedua bola mata putrinya, yang mulai dipenuhi kecemasan. "Tetap pertahankan laporan di kantor polisi, biar Papa pikirkan cara membebaskan Mama kamu."
"Tapi Pa, kalau tuntutan diproses ke pengadilan, bisa saja mereka tidak sungkan pada Mama." Mulai bersedih, kelemahannya ada pada keluarga.
Karina menggerakkan jari-jarinya yang lemas, karena tenaga tubuhnya sedang dilumpuhkan oleh obat. Karina tidak bisa melakukan perlawanan, meski bisa beladiri.
Bugh!
Ditinju perutnya, lalu mendapatkan tendangan di bagian punggung. Darah keluar dari mulut Karina, namun tidak kuasa melawan manusia dzalim tersebut.
"Kemana si Qin itu, aku keburu menemui selingkuhan ku dalam bar." ujar pria berpenutup kepala, yang badannya paling tinggi.
"Kamu ini, sudah punya banyak istri masih selingkuh." jawab orang di sebelahnya.
__ADS_1
"Biasalah, aku tidak cukup itu-itu saja."
"Sepertinya, Qin tidak akan mencabut tuntutannya." Tertawa, melihat manusia terkulai tidak berdaya.