
Malam hari tidur nyenyak, dengan hujan yang melanda bumi. Angin kencang membuat semuanya menarik selimut, dengan cepat memejamkan mata. Qin melihat bayangan kaki di sela-sela bawah pintu, disaat yang lain sudah memasuki alam bawah sadar masing-masing.
"Apa iya itu? Seperti sesosok bayangan manusia." Bertanya-tanya pada diri sendiri, lalu menoleh ke orang di sebelahnya. "Anyi, bangun dong." Membangunkan temannya yang tidur mendengkur.
"Apa si, mengganggu aku tidur saja." Anyi sibuk memukul-mukul bantal guling, dan menghempaskan tangan Qin saat menggoyangkan pundaknya.
Qin keluar dari kamar dengan berjalan mengendap-endap, lalu memergoki Thardo yang berjalan sambil memejamkan mata.
"Eh Thardo, kamu mau kemana?" Qin bingung melihat seniornya itu.
Tidak terdengar sahutan apapun, kecuali jawaban satu kata. "Hmmm..."
Thardo masuk ke dalam toilet, lalu menutupnya. Tiba-tiba, sebuah kapak melayang ke tangannya.
"Aaaa...!"
Terdengar jeritan kuat, dan tangan kanan menggoyangkan gagang pintu berkali-kali. Sambil menahan sakit, masih berusaha bergerak membuka pintu. Qin membulatkan kedua bola matanya, saat melihat darah keluar dari lubang bawah pintu.
"Thardo, kamu baik-baik saja?" Qin memanggilnya dari luar.
__ADS_1
"Qin, cepat tolong aku." Thardo berteriak.
Qin membuka pintu, dan Thardo ambruk di hadapannya. Anehnya, tidak ada siapapun di dalam kamar mandi. Hanya ada kapak tergeletak, yang tidak tahu
”Ini pasti kelakuan Timon dan bos Rudal. Ini rumah mereka, tidak mungkin mereka belum mengetahui hal ini." Qin membantu Thardo, sampai ke ruangan Fredy.
"Fredy, cepat bangun!" Qin menggoyangkan lengannya.
Fredy mengedipkan mata berkali-kali. "Ada apa Qin, kok tengah malam sibuk membangunkan orang lagi tidur." Mengucek matanya, saat merasakan cairan kental menetes.
"Kamu lihat, ini lengan Thardo terluka." Qin memperlihatkannya.
"Thardo, kenapa bisa ada kejadian seperti ini?" Fredy bingung.
"Ada pembunuh secara halus, sepertinya bos Rudal terlibat. Sesuai dugaan sejak awal, bukan hanya Jenny saja." jawab Qin.
"Kalau gitu, kita harus cepat kabur dari sini." Thardo panik, masih sakit sibuk bergerak.
Qin melihat gagang pintu bergerak. "Shht... tolong semuanya tenang, jangan bergerak iya." Qin berjalan memeriksa pintu, ternyata Lucky yang berdiri di sana.
__ADS_1
"Kamu mengejutkan aku saja." Qin mengusap dadanya, lumayan merasa lega.
"Aku mencari Thardo." jawab Lucky.
Qin celingak-celinguk, takut ada Timon. Dia segera menutup pintu dan menguncinya, saat Lucky sudah masuk ke dalam.
"Lucky, tanganku terluka terkena kapak." keluh Thardo.
"Kita harus menangkap orangnya."
Brak!
Pintu tiba-tiba ditebas oleh kapak, dan Qin menyuruh Fredy membuka jendela kamar. Mereka harus kabur, sebelum sempat ditemukan.
"Cepat kalian kabur duluan, aku harus membangunkan Anyi. Dia tidak tahu bahwa ada bahaya."
"Qin, jangan nekat!" Fredy melompat keluar jendela, bersamaan dengan Lucky dan Thardo.
Sekarang giliran Tiger, dan Qin juga ikut keluar. Qin berkeliling di pinggiran lantai atas, lalu mengetuk jendela kamar. Qin menutup mulutnya, saat pria berpenutup kepala masuk ke kamar Anyi. Timon memaksa Anyi untuk meminum darah manusia, namun dia geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Qin diam-diam ingin melepaskan temannya, masih memilih bersembunyi saat Anyi dibawa dalam kandang ayam. Dia keluar juga belum saatnya, karena penjaga masih berkeliaran.