
Friska makan siang sambil membahas Qin bersama Fredy Dan Tiger. Lucky dan Thardo fokus dengan makanan, dalam piring masing-masing.
"Aku khawatir dengan Qin, bagaimana bila kita susun rencana." ujar Friska.
"Rencana apa? Mau susul dia apa mungkin?" Fredy menusuk kentang goreng, lalu dicolek dengan saos.
"Iya, kita buat acara sakit buatan saja." jawab Friska.
"Eh, kenapa si magang kita bernasib seperti ini. Sudahlah bertemu Kak Jenny, yang super misterius itu. Lalu kereta pembantaian, yang sampai sekarang tidak tertangkap pemiliknya." ungkap Tiger.
"Jujur aku cemas sekali, rasanya ingin cepat bebas. Tapi kamu harus yakin Tiger, polisi pasti bisa menangkapnya." Friska menyemangati teman-temannya.
Arka dan Karina terbatuk-batuk, begitupun dengan Qin juga. Arka memasang tali tambang bekas yang tergeletak, lalu memanjat sampai ke loteng. Tangan Arka tertusuk kaca, dan masih harus menarik tambang agar Karina naik ke atas.
__ADS_1
"Semangat Ma, selamatkan diri kalian." ujar Qin.
"Kamu juga harus naik, jangan biarkan kami pergi tanpa kamu." jawab Karina.
Qin mulai memanjat saat tali sudah terpegang, namun keberuntungan belum memihak padanya. Pabrik gas itu digeledah, setelah pintu berhasil didobrak.
"Lebih baik kamu menyerah, atau kami akan menembak tubuhmu sekarang." ancam Wasli.
Qin pasrah menjatuhkan genggaman tangannya lagi, toh kabur juga tak merubah apapun. Dia juga akan ditangkap hidup-hidup. "Baiklah, aku bersedia di penjara bila salah. Namun sebelum itu, harus dibuktikan dengan cara visum."
"Pa, bagaimana Mama bisa tenang, Qin tertangkap. Dia tidak bersalah, dia tidak pantas." Menangisi putrinya di dalam mobil.
"Mama tolong tenangkan diri, nanti Papa minta bantuan Fredy dan teman-teman." jawab Arka.
__ADS_1
Polisi memeriksa mayat teman-teman Wasli untuk dilakukan visum, dan ternyata memang ditembak lebih awal dari pengawal Qin. Bukti rekaman yang tidak ditemukan, membuat Qin semakin panik.
"Prosedur pemeriksaan visum atas korban, menunjukkan adanya serangan yang disengaja. Dari tembakan peluru dan dilihat dari banyaknya bekas, mereka mendapatkan serangan bertubi-tubi. Aliran darah berhenti, jantung tidak bisa memompa darah dengan baik. Akhirnya, mereka tewas di tempat." ucap dokter lantang.
"Baiklah, ini sudah cukup membuktikan." jawab polisi.
Qin masih berusaha menyangkal, untuk membela dirinya yang ditindas. "Pak polisi, ini tidak adil. Pengawal ku menembak teman-temannya, karena mereka menyodorkan senjata. Merekalah yang jahat, mereka telah membunuh anak ketua adat. Jika pengawal tidak waspada dan menyerang, mungkin aku sudah tinggal nama. Kami akan dihabisi dengan gagang besi, sebagaimana kejamnya Wasli memukul anak ketua adat." jelasnya panjang dan lebar.
"Kamu jangan asal menuduh, mana mungkin aku jahat terhadap sepupu sendiri. Kamu itu orang luar, yang cuma buat onar di kampung kami. Kamu yang membunuh anak Paman, tapi tidak mau mengakui." Memasang raut wajah emosi lalu berubah sedih, langsung memeluk pamannya.
Qin ditahan di dalam sel jeruji besi, lalu dia hanya bisa termenung meratapi nasib. Sekelompok orang yang ditahan, tampak tidak suka pada Qin. Mereka mempunyai niat buruk, untuk melakukan kejahatan pada perempuan tersebut.
"Hei kamu, cepat pijat kami." titah seorang pria bertubuh besar pada Qin.
__ADS_1
"Aku tidak mau." Qin menolak.