
Friska menggunakan teropongnya, mengawasi pergerakan dari segala penjuru. Friska mengarahkannya pada sebuah sungai, dan tersedia perahu di sana. Tiba-tiba berpikir untuk kabur, dengan kendaraan air tersebut.
"Fredy, kamu bisa tidak mendayung perahu?" tanya Friska.
"Bisa si, memang kenapa?" Fredy bertanya-tanya balik.
"Tidak banyak waktu lagi, harus sampai ke sana." ucap Friska.
"Tapi, ramai orang disekitar rumah tua." jawab Fredy.
"Kita keluar lewat jendela, agar siapapun tidak melihat." Friska mengusulkan idenya.
"Terserah, yang penting aman." Fredy berjalan mengikuti langkah orang di depannya.
Friska membuka jendela, dan melompat tanpa suara. Lalu setelahnya, Fredy melakukan hal serupa. Friska memapah tubuh Fredy, sampai berhasil meraih tali perahu.
"Hei, jangan kabur kalian." teriak ketua adat.
"Cepat, cepat dorong perahunya." Friska mendorongnya sedikit ke tengah, dan Fredy juga.
__ADS_1
Mereka segera naik, dan mendayung dengan cepat. Wasli menggunakan tembakan, namun percuma karena jaraknya jauh.
"Paman, mari kita berjalan di pinggiran sungai. Tangkap mereka hidup-hidup, sebelum sampai di ujung sungai." ujar Wasli.
"Iya sudah, ayo kejar mereka." ajak bapak ketua adat.
Jalan di pinggiran bukannya mudah, banyak batu-batuan kecil beserta jalan becek menjadi tidak praktis. Sedikit mengalami kesulitan, untuk sampai lebih dulu.
"Wasli, mereka ini siapa sebenarnya? Mengapa membuat ulah di desa kita." ujar ketua adat.
"Tenang Paman, mereka hanyalah anak magang. Aku akan melaporkan perbuatan mereka, pada perusahaan Kharuga." jelas Wasli.
"Kamu kok bisa tahu, kalau mereka hanya magang?" Selidiknya lagi.
Friska menghentikan perahu, lalu mengikat talinya dengan pohon pinggir sungai. Fredy berjalan pelan-pelan, sembari ditolong Friska memapah tubuhnya.
"Ayo cepat sembunyi, jangan biarkan mereka menemui kita." ujar Fredy.
"Iya, kita harus memperbaiki ponsel Qin. Aku tidak sabar lagi, agar bisa keluar dari sini." jawab Friska.
__ADS_1
Limuq dan Anyi mendorong kotak berwarna putih cerah. Kotak susun tersebut berisi berkas data terkecil perusahaan. Jenny menyuruh mereka membantu memisahkan data, karena selama ini tidak sempat.
"Kalau kalian membantuku, aku akan memberikan penilaian bagus." ujar Jenny.
"Baiklah Kak, bersiap kerjasama membantu." jawab keduanya.
”Aku tahu, kalian berdua teman kursus Qin. Kalian ini yang ikut ke pulau mafia, lalu melakukan pengeboman besar-besaran.” batin Jenny berbicara.
Bubur ayam masih hangat, Qin disuapi oleh Karina. Arka sudah pergi bekerja, sejak pagi masih buta. Qin menikmati suapan itu, sedikit lebih bersantai dari waktu sebelumnya.
"Kali ini harus beristirahat sampai pulih." ujar Karina.
"Iya Ma, biar setelah itu aku mengerjakan tugas magang." Qin menendang selimutnya.
Senter yang digunakan Fredy meredup, sepertinya baterai lemah. Friska pun tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Mereka berhenti sejenak, mengganti kain perban Fredy yang sudah penuh darah.
"Apa kita istirahat dulu iya Fredy, tempat ini terlalu asing. Aku tidak tahu, harus kemana kita melangkah." ujar Friska.
"Aku juga bingung, namun tidak tahu harus melakukan apa. Semakin ditunda, semakin mudah juga ditemukan." jawab Fredy.
__ADS_1
"Kamu benar, tapi masalahnya tidak tahu arah menuju jalan besar. Takutnya, malah ditangkap dengan Wasli dan teman-temannya." Friska merasa tidak tenang.
"Melaju seraya berdoa, semoga kita menemukan jalan keluar." jawab Fredy dengan penuh keyakinan.