Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Kota Tua


__ADS_3

Wasli dan teman-temannya memilih menghadang lewat jalan pintas. Friska membawa Fredy ke lorong sempit, sekitaran bangunan kota tua.


"Bagaimana ini, jarak mereka dengan kita sudah hampir dekat." Friska merasa panik.


"Kamu tinggalkan aku saja, aku sudah hampir tidak kuat." jawab Fredy.


"Tidak, kita harus pergi bersama-sama." Friska menyeret Fredy ke sebuah gedung kota tua.


"Aku mengikutinya saja, tubuhku mulai melemas." Fredy melihat tangannya yang banyak darah kering, bercampur dengan darah cair.


Friska mencari kain bekas, lalu menyobeknya untuk menutup luka fredy. Jika dibiarkan, Fredy bisa kehabisan darah. Friska menghubungi Qin, dan memberitahu keadaan sebenarnya.


"Qin, kami sudah berhasil mendapatkan ponselmu. Namun terkena air hujan, jadi harus diperbaiki pada ahlinya terlebih dulu." ujar Friska.


"Syukur alhamdulillah, semoga kalian bisa secepatnya kembali." jawab Qin.


"Maaf Qin, kami di sini kerepotan. Tugas kantor belum selesai, dan sekarang malah dikejar-kejar warga." Friska memberitahu tentang kondisinya.


"Katakan saja, perlu bantuan apa. Sekarang, aku sedang di rumah sakit. Sebentar lagi, aku akan kembali ke sel tahanan." jelas Qin.

__ADS_1


"Tiger sudah tewas, Fredy sekarang terluka parah, dan warga malah percaya hasutan ketua bandit. Kami berdua difitnah melakukan hal tidak senonoh. Pintar sekali memutarbalikkan fakta, padahal mereka yang membunuh." Mengepalkan tangannya geram.


"Beri saja mereka pelajaran, setelah ini jangan biarkan bebas. Aku akan segera cari bantuan, kalian bertahanlah di sana." Qin melihat ruangan terbuka.


Karina mengusap kepala Qin. "Kamu tenang saja, jangka waktu istirahat ditambah. Mama tidak rela, kalau kamu harus kembali ke tempat terkutuk." Mengusap lembut kepala Qin.


"Aku tidak akan kembali ke penjara, asalkan bukti berhasil aku serahkan ke kantor polisi." jawab Qin.


"Apa yang bisa Mama bantu?" tanya Karina.


"Tolong jemput Fredy dan Friska. Mereka bawa bukti, yang membuat pertimbangan untuk menyelidiki. Iya meskipun, warga gunung Kiwochi tidak akan percaya."


"Hai, kamu pasti temannya Qin 'kan?" tanya Tardo.


"Loh, kok kamu bisa tahu?" Bertanya balik.


"Iya dong, dia sering meletakkan foto kebersamaan di layar utama laptopnya." ujar Tardo.


"Namun sayangnya, dia sekarang tidak ada. Dia sedang diberi tugas, untuk pergi ke gunung Kiwochi." timpal Lucky.

__ADS_1


"Tidak mengapa, kami tidak lama di sini. Hanya sebentar saja, untuk melakukan kunjungan dari perusahan Remington." jawab Anyi.


Anyi dan Limuq diantar sampai ke ruangan bos Rudal. Mereka begitu disambut dengan baik, karena membawa berkas laporan penting.


"Kalian pasti anak magang 'kan?" tanya bos Rudal.


"Iya, disuruh lihat-lihat cara perusahaan ini beroperasi." jawab Limuq.


"Baiklah, aku akan suruh sekretaris Jenny mengajak kalian ke lantai atas." ujar bos Rudal.


"Terima kasih." jawab Anyi.


Mereka berdua berjalan mengikuti Jenny, sambil mendengar dia berbicara panjang dan lebar. Memperkenalkan satu persatu ruangan, yang tidak diketahui. Ada gambar ruang perusahaan, dalam ponsel android miliknya.


"Perusahaan tempat Kakak bekerja luas juga." Anyi tersenyum.


"Iya, di sini setiap tahun menerima mahasiswa dan mahasiswi yang mau magang." jawab Jenny.


"Kamu enak sekali, ada teman untuk mengobrol." bisik Limuq.

__ADS_1


"Kamu bilang aku enak, kamu tidak tahu sesakit apa aku menjalani hidup." Anyi memutar kedua bola mata malas.


__ADS_2