
Pengawal gendut sangat panik, tentang keselamatan Qin. Dia menyuruh Qin mengambil langkah cepat, dengan menggunakan isyarat lewat mata. Bahasa tubuhnya menyuruh Qin pergi.
"Cepat nona Qin lari, dan jangan pernah menoleh ke belakang." ujar pengawal gendut, sambil memegangi betisnya yang berdarah.
"Baiklah, aku harap kalian bisa menyelamatkan diri." Qin segera lompat ke sepeda, lalu mendayung secepatnya.
"Cepat berpencar, sebagiannya kejar perempuan itu." titah ketua bandit.
"Baik bos." jawab salah satu orang mewakili.
Kedua pengawal yang berbeda posisi, tampak komat-kamit mendoakan keselamatan majikannya. Sementara Qin tidak bisa berpikir jernih, harus kemana dia berlari. Membawa bukti tentang seorang anak laki-laki yang terbunuh, bukanlah hal mudah. Sekarang nyawanya tengah terancam, dan ban sepeda tidak sengaja menabrak batu besar.
Brak!
Qin melompat dan terpelanting jauh ke tumpukan ranting. Pundak Qin tertusuk bagian yang lancip, hingga mengeluarkan darah bercucuran. Dia tidak menangis sama sekali, segera bangkit untuk berdiri.
Qin tidak sempat mengambil sepedanya lagi, karena sekelompok bandit sudah hampir mendekat. Qin berlari menuruni lereng gunung, meski sangatlah susah banyak batu-batuan. Tebing sangat curam, terpeleset sedikit bisa jatuh. Kini berhati-hati berpegangan, lalu melompat ke bebatuan lain.
__ADS_1
Dor!
Dor!
Jari-jari Qin ditembak pistol dari atas gunung, lalu dirinya melepaskan cengkeraman tangan sebelah kanan. Tinggal tangan kiri yang menahan, agar tidak terjatuh ke bawah. Ingin berteriak meminta tolong, namun dia tahu percuma.
"Aku harus melakukan apa, tebing ini masih jauh sampai ke bawah. Aku melompat pun, bisa saja mati." monolog Qin.
Dor!
Dor!
"Papa, kenapa bisa ada di sini?" tanya Qin lirih.
"Qin, Papa selalu menemani kamu selagi ada waktu." Arka melihat Qin memejamkan mata, tampaknya dia pingsan.
Arka berlari tunggang langgang, sampai bertemu dengan bapak-bapak memanggul kayu. Arka menanyakan puskesmas terdekat dengan buru-buru. Pemukiman warga sangat ramai beraktivitas, ada yang mencangkul, ada yang membersihkan beras dengan tampi, ada yang menggembala kambing, ada yang memancing, ada yang pergi ke sawah, ada anak-anak main petak umpet, dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Tolong anakku Dok." ucap Arka, saat sampai puskesmas.
"Baiklah, tunggu sebentar Pak." jawabnya, sambil memeriksa keadaan Qin.
”Siapapun yang melukai kamu, Papa tidak akan pernah mengampuninya. Dia harus dijerat hukum, atas tindakan yang dilakukannya.” batin Arka.
Karina merasa ada yang aneh, sudah sore kok masih belum pulang. Itulah yang menjadi tanda tanya dalam benaknya. Karina mondar-mandir, memperhatikan jendela villa.
"Qin, kamu membuat Mama cemas saja." Bergerak meremas jari-jarinya sendiri.
Qin baru terbangun di malam hari, dan Arka segera mendekat ke arahnya. Dia senang putrinya tidak apa-apa.
"Qin, kamu pasti belum makan 'kan? Biar Papa suapi kamu bubur iya. Tadi Papa beli di area pemukiman warga." Arka membuka penutup bubur, lalu mengangkat sendok ke arah Qin.
Qin membuka mulutnya, saat melihat sendok yang bergerak. "Papa adalah malaikat penolong ku." Mengunyah sambil tersenyum.
"Siapa yang mencelakai kamu?" tanya Arka.
__ADS_1
"Aku punya rekamannya." Qin meraih tas di atas nakas, namun tidak ditemukan ponselnya.