Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Menemukan Ponsel


__ADS_3

Fredy membaca sebuah koran, yang dibeli dari anak kecil baru lewat. Isinya tentang seorang perempuan yang ditangkap, karena membunuh anak ketua adat di gunung Kiwochi. Friska mengucapkan kata istighfar, dia tidak percaya berita itu.


"Aku yakin Qin cuma difitnah." ucap Friska.


"Kita harus jenguk dia di penjara, ada nama kantor polisi yang bisa dikunjungi." Fredy menunjuk sumber alamat internet dengan huruf sangat kecil, yang diletakkan tepat bawah gambar.


Tiger ikut memperhatikan dengan seksama. "Aku juga ingin tahu masalahnya, jadi harus ikut. Kita bertiga harus bantu, karena dia mengalami kesulitan." Mengusulkan idenya. "Membawa cemilan juga bagus, apalagi coklat. Hitung-hitung, untuk menghilangkan gelisah."


"Iya sudah, nanti sore pulang dari kantor langsung berkunjung." jawab Friska.


Tiba-tiba muncul bos Rudal, yang mengejutkan mereka. Kehadirannya sangat dadakan, bahkan senyap tanpa suara. Bukan tabiat aslinya, bersikap seperti itu.


"Aku membaca berita trending topik pagi ini, Qin ditangkap lalu dibawa ke kantor polisi. Ini benar-benar memalukan, padahal baru saja dibanggakan karena jadi duta merek produk senjata." bos Rudal seperti mengoceh pada anak sendiri, karena mengalami kegagalan.


"Qin tidak bersalah, kami yakin bos." Fredy takut Qin dikeluarkan, dan magangnya tidak lulus.


"Memangnya sekadar ucapan, bisa membuktikan dia tidak bersalah." jawab bos Rudal, memegangi sandaran kursi.


"Bukti ada, namun perlu waktu." Tiger menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Jangan bilang kalian mau kabur, demi membantu teman kalian itu." Bos Rudal sudah menebak duluan, ingin melarang mereka.


"Sebenarnya si iya, kalau bos mengizinkan." Friska nyengir.


"Di kantor banyak kerjaan, masih butuh bantuan dari kalian." jawab bos Rudal.


"Kami perlu waktu seminggu, mohon berikan keringanan." rayu Fredy.


"Baiklah, namun harus bawa laptop untuk mengerjakan laporan." Mengajukan syarat lagi.


Mereka mengangguk secara kompakan, lalu setelahnya pergi ke kantor polisi. Qin keluar dari jeruji besi, sambil diawasi polisi hingga menemui Fredy. Friska dan Tiger melihat darah, yang keluar dari mulut Qin.


"Aww!" Qin menjerit kesakitan. "Aku tidak apa-apa."


"Kamu seperti habis dipukuli." Fredy melihat Qin dengan serius.


"Tidak, ini tadi tidak sengaja terbentur besi jeruji. Aku terlalu bahagia, karena kalian datang menjengukku." Qin menyembunyikan apa yang terjadi, agar mereka tidak khawatir.


"Jangan bersedih, aku siapkan cemilan untukmu." Mengeluarkan sekeranjang coklat, yang dibeli pad mall tadi.

__ADS_1


"Terima kasih teman-teman, aku terharu." Qin memeluk Friska, meski ada Fredy di sana. Bukannya tidak rindu, namun mereka belum menikah.


Friska dan Fredy tinggal di penginapan gunung Kiwochi, setelah Qin menceritakan semuanya. Meski ada rasa takut, namun harus cepat menemukan ponsel Qin. Friska menggunakan teropongnya, untuk mengawasi sekitar dengan mudah.


"Tidak ada orang di sana." ujar Friska.


"Tetaplah mengawasi, biar aku yang mencari ponsel Qin." jawab Fredy.


"Aku juga akan membantu, sedangkan Friska mengawasi kita dari pohon." Tiger mengusulkan idenya.


"Baiklah, aku akan memberi kalian kode lewat mic headset." jawab Friska.


Aksi mereka dimulai di tengah hutan, namun hujan turun dengan derasnya. Fredy dan Tiger tidak menyerah, memeriksa tumpukan ranting. Hampir mendapatkan bukti, malah ponsel terkena air hujan.


"Nah, itu ponsel Qin sudah basah terkena embun." ujar Fredy.


"Cepat selamatkan." Tiger mengambil ponsel dengan buru-buru.


Baru saja mau berteduh, namun mendengar suara kaki kuda. Fredy segera menarik tangan Tiger, agar bersembunyi di balik semak.

__ADS_1


__ADS_2