Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Insiden Yang Disengaja


__ADS_3

Sudah rapi, sudah mengenakan berseragam lengkap, sekarang Qin keluar dari ruang kamar. Ternyata Fredy sudah duduk di sana, bersama dengan Arka dan Karina.


"Eh Qin, cepat sini ikut makan bersama." Karina mengayunkan tangannya.


"Iya Ma." Qin tersenyum lebar.


"Qin, katanya hari ini ada pengawasan proyek perobohan gedung. Sebagai karyawan dan karyawati magang, kita tidak hanya dituntut mengetahui bagian dalam. Namun, disuruh ikut serta dalam mengawasi proyek." Fredy memberitahu Qin, karena tadi pagi dapat informasi dari Friska.


"Baiklah, kita ikuti saja perintah bos Rudal." jawab Qin.


Qin dan Fredy berpamitan dengan Arka dan Karina, lalu keluar dari rumah tersebut. Sepanjang perjalanan Qin menatap pohon-pohon yang berlarian, seiring dengan laju ban mobilnya.


Qin memulai membuka pembicaraan. "Fredy, menurut kamu pengawasan proyek ini ada rencana jahat atau tidak?" Tidak tahu mengapa, tiba-tiba merasa waspada dalam segala hal.


"Tidak tahu juga si, tapi 'kan ramai orang yang ikut." jawab Fredy.

__ADS_1


Pukul 09.00. pagi, mereka semua tiba di lokasi. Alat-alat canggih sudah mulai bekerja, untuk menghancurkan proyek penghancuran bangunan tak terpakai. Rencananya, lokasi itu akan dijadikan tempat pertunjukan event.


"Sebaiknya, kalian jangan hanya berdiam diri. Tolong perhatikan sekitar juga, kemana arah runtuhnya bangunan. Jangan sampai mengalami kerugian, karena ada korban berjatuhan." ucap Jenny, dengan suara yang dingin.


"Iya, kami tahu apa yang diperintahkan oleh bos. Jadi, sebisa mungkin berusaha hati-hati." jawab Qin, setenang mungkin.


Awalnya semua aman terkendali, baik-baik saja tanpa ada kendala. Namun tiba-tiba saja, ada sebuah hal yang tak diinginkan. Alat ekskavator itu bergerak, sengaja ingin menimpa kepala Qin.


"Qin awas!" teriak Fredy, sambil berlarian segera menarik tubuh Qin agar menghindar.


Tanpa sengaja Fredy ambruk ke tanah dan membentur batu, namun Qin selamat karena menimpa tubuh Fredy. Pecahan material itu terjatuh tepat, di tempat Qin berdiri tadi. Jenny menatap sinis ke arah Qin, seolah ingin menerkamnya duluan.


"Baiklah Jenny." jawab mereka berdua bersamaan.


Mobil ambulance mulai melaju, mendahului orang-orang yang berjalan santai. Sesekali menyalip kendaraan roda dua, yang berjalan lirih menikmati perjalanan. Mereka tidak dalam keadaan darurat, berbeda dengan orang yang berada dalam kendaraan ini.

__ADS_1


"Kenapa Jenny tidak membiarkan Qin ikut?" tanya Thardo.


"Sepertinya, dia tidak menyukai karyawati magang itu." Lucky menduga-duga saja.


Sesampainya di rumah sakit, Fredy diletakkan di ranjang pasien. Suster mendorong keranjang dengan buru-buru, mengikuti arahan dari dokter di depannya. Ban terus berputar, menuju ke sebuah ruangan.


Sementara di sisi lain, Jenny sedang menyudutkan Qin di depan bos Rudal. "Qin ini sombong sekali, padahal sudah diingatkan. Dia malah berlagak profesional, seperti tahu aktivitas proyek pembangunan saja."


"Maaf Kak Jenny, harusnya aku begitu mendengarkan saran yang rendah hati ini. Tapi, aku begitu lalai mengabaikan." Qin menunduk, sebenarnya dia tahu kalau kecelakaan tadi disengaja.


"Qin, lain kali kamu tidak boleh seperti itu lagi. Kesalahanmu ini besar, bisa aku laporkan ke kampus." Bos Rudal tampak mengancamnya, meski tidak terang-terangan.


"Berikan saja sebuah jalan, bagaimana aku bisa menebus kesalahanku." jawab Qin.


"Kamu harus lembur di perusahaan selama sebulan berturut-turut." Bos Rudal mengajukan persyaratannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku menyetujuinya." jawab Qin.


”Ummm, permainan jebakan kalian sudah dimulai.” batin Qin bergumam.


__ADS_2