
Nenek sudah masuk ke dalam helikopter, sedangkan yang lainnya berniat masuk markas. Mereka melangkahkan kaki, dengan pelan-pelan. Akhirnya tiba juga di ruang eksekusi, setelah Fredy menjelajahi banyak tempat.
"Aku yakin, bahwa Qin disekap di sini." ujar Fredy.
"Iya sudah, kalau gitu cepat kita cari. Tunggu apalagi, keburu ketahuan para penjahat itu." jawab Friska.
Mereka melanjutkan pencarian, melangkahkan kaki keliling. Kurang lebih sudah setengah jam berputar di sana, namun tidak menemukan sosok yang dicari.
"Eh, ayo kita keluar. Sebelum ada orang, yang datang ke sini." ajak Fredy.
"Iya, aku setuju dengan pendapatmu." jawab Limuq.
Anyi dan Friska melangkahkan kaki di belakang mereka, membiarkan Fredy Dan Limuq menjadi kepala kelompok. Sedangkan dua wanita itu menjadi ekornya, sudah lebih dari cukup.
"Ayo cepat sembunyi, ada langkah kaki mendekat." titah Fredy.
"Mau sembunyi dimana, sedangkan ini lorong jalan." Anyi mulai panik.
"Ikuti aku." Fredy berjalan, dengan perlahan.
"Iya." jawab semuanya.
Kini mereka berputar arah balik, bersembunyi di lorong lain. Saat derap langkah kaki mendekat, mereka menutup mulut masing-masing. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, meski sekedar berucap oh atau ah.
"Apa kau merasa ada orang lain?"
__ADS_1
"Iya, pikiranku mengatakan tentang hal tersebut."
"Mari kita periksa tempat ini."
"Oke, tetap waspada."
Fredy, Friska, Anyi, dan Limuq memikirkan cara, untuk menyerang para penjahat tersebut. Dalam hitungan ketiga, Fredy dan Limuq keluar dari persembunyian. Keduanya menyerang dengan brutal, lalu Limuq dicekik hingga tewas.
Anyi dan Friska berlari duluan, dikejar langkah kaki Fredy. Kini penjahat tersebut terkapar, setelah terkena pukulan darinya.
"Friska, Anyi tunggu!" ucap Fredy.
"Fredy, Limuq tewas. Aku menyesal, telah pergi ke hutan bersamanya." jawab Anyi.
"Lebih menyesal lagi, bila kamu terlambat menyadari." sahut Friska.
"Lebih baik, sekarang kalian menunggu di helikopter." ujar Fredy.
"Gak, kita harus cari Qin bareng-bareng." jawab Anyi.
Mereka berjalan ke tempat lain, yang lebih jauh. Karena terlalu banyak ruang eksekusi, membuat ketiganya bingung secara serentak.
Sementara di sisi lain, tepatnya di rumah penginapan. Dua orang mondar-mandir, menunggu temannya yang tidak kunjung kembali.
"Dirga, kok Limuq dan Anyi belum kembali juga?" tanya Qiya.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja dulu." jawab Dirga.
"Tapi, kepergian mereka tuh sudah lama banget. Ini sudah hampir tengah malam." ucap Qiya.
"Sebaiknya kita tidur, besok kita lanjutkan lagi pencariannya." jawab Dirga.
Qiya dan Dirga masuk ke dalam rumah penginapan tersebut. Lampu telah dinyalakan, untuk menerangi teras luar rumah.
Keesokan paginya, Fredy baru menemukan keberadaan Qin. Friska dan Anyi membantu, untuk melepaskan rantai yang membelenggu tangan Qin.
"Qin, apa kamu melihat Tiger?" tanya Friska.
"Aku tidak melihatnya." jawab Qin.
"Pasti mereka membawa Tiger, ke tempat yang jauh lebih aman." Friska asal menduga-duga.
"Bisa jadi, coba kita cari saja." jawab Qin.
Mereka membawa Qin keluar, setelah rantai berhasil dilepaskan. Mereka mencari ruang eksekusi yang lainnya.
"Terlalu banyak yang sudah kita kunjungi, tapi tidak ada juga Tiger." keluh Anyi.
"Kalau kamu mau istirahat, dengan Fredy atau Friska saja. Aku masih harus mencari Kakakku, yang belum juga ditemukan." jawab Qin.
"Aku gak mau ah, takut tertangkap oleh para mafia itu." Anyi mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya sudah, lanjutkan perjalanan kembali." jawab Qin.