
Lucky dan Thardo masih saja tidak berani keluar, diam di dalam bagasi mobil. Mereka benar-benar takut ketahuan, dan tidak akan bisa lolos lagi.
"Thardo, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Lucky.
"Aku sudah tidak kuat lagi." Thardo memegangi lengannya yang luka parah.
"Kalau kita memaksa keluar untuk berpindah tempat, takutnya kita tidak dapat diam-diam sembunyi." ujar Lucky.
"Nah, itu juga yang sedang aku pikirkan. Namun berdiam diri juga bukan solusi yang tepat. Kita hanya menunggu diserang hingga mati." jawab Thardo.
Lucky merasa sesak nafas di dalam bagasi, namun memaksa diri bertahan. "Tunggu Fredy sampai ke parkiran, dia mungkin bisa menolong kita."
"Saat darurat seperti ini, tidak bisa menunggu inisiatif orang lain." jawab Thardo.
Qin dan teman-temannya pun tidak tahu cara untuk kabur, namun tiba-tiba diserang oleh kumpulan runcing besi.
"Menunduk!" teriak Qin.
Semuanya menunduk dengan panik, dan Qin memikirkan cara agar bisa pindah ke ruangan sebelahnya. Qin memiliki sebuah ide, meski akan sangat membahayakan.
"Semuanya, aku akan mendorong pintu supaya besinya tidak menyerang. Kalian segera lewat, jangan tunda waktu lagi." ujar Qin.
__ADS_1
"Iya, iya, aman kok." jawab Anyi.
"Eh, coba kita hubungi polisi." ujar Anyi.
"Mana bisa, sinyal tidak ada." jawab Qin.
"Benar yang dibilang Qin, dari tadi aku juga sudah mencobanya." sahut Fredy.
"Kita harus melakukan apa, supaya biar cepat keluar." Anyi ingin mereka mempunya solusi yang tepat.
Fredy dan Qin berlari secepatnya, saat lantai dan tembok bergerak lagi. Anyi menarik paksa lengan Limuq, yang hampir sama terhimpit tembok.
"Iya, cepat sembunyi." Mengikuti langkah kaki Fredy.
Berlari ketakutan memang terasa masuk ke dunia masa lalu, nostalgia tentang hal menyeramkan menolak diingat seumur hidup. Mereka membuka bagasi mobil, lalu mengeluarkan Thardo.
"Kalian kemana saja, mengapa lama sekali?" tanya Thardo.
"Aku pergi menyelamatkan Anyi, dia dipaksa minum darah manusia." jawab Qin.
Komunikasi terhenti, saat langkah kaki terdengar mendekat. Thardo disembunyikan di dalam gerobak sampah bekas untuk sementara waktu, sedangkan teman-temannya bersembunyi di langit-langit ruangan. Beruntung saja langkah mereka cepat, sebelum didahului kedatangan para mafia.
__ADS_1
Bos Rudal melihat ada darah yang menetes, berlari ke arah sepatunya. Pandangan Joy dan Timon curiga, pada gerobak sampah bekas. Joy dan Timon menusuk-nusuk menggunakan gagang besi. Thardo berusaha menghindar, meski tangannya masih sakit. Kapak yang mengenainya, sempat membuat tidak berdaya.
"Jujur, aku curiga dia disekitar sini. Lihatlah, ada darah mengalir dari gerobak sampah." Timon melihat darah merembes dari lubang.
"Tapi aku malas memeriksa, sangat berbau busuk." Joy tersenyum jahat.
Cus!
Timon menancapkan gagang besi, hingga mengenai paha Thardo. Setelahnya, gagang besi diangkat.
"Hahah... rupanya dia bersembunyi di sini." Timon melihat gagang besinya ada darah.
"Jangan tunggu lebih lama, dia pasti ketakutan." Joy sengaja menakuti Thardo.
Thardo ditarik paksa keluar dari persembunyian, dan melakukan perlawanan. Tangannya yang sudah terluka, sengaja ditarik hingga patah.
"Aaa..." Anyi malah menjerit histeris.
"Aduh Anyi, kamu ceroboh sekali. Lihatlah, kita ketahuan dengan mafia sadis itu." Limuq akhirnya marah besar.
Perhatian ketiga penjahat menoleh ke atas, melihat Qin, Fredy, Anyi, Limuq dan Lucky. Bos Rudal mengarahkan pistol, lalu Fredy melakukan serangan balik. Qin dan teman-temannya berjalan menunduk, melewati langit-langit ruangan.
__ADS_1