
Limuq dan Anyi membeli gulali, dan makan sambil berjalan. Kaki Anyi tidak sengaja terpeleset, lalu merasa kesakitan karena terkilir.
"Ayo, cepat aku bawa ke rumah sakit." ujar Limuq.
"Ini cuma luka kecil, tidak perlu bantuan dokter." jawab Anyi.
Limuq segera mengangkat tubuh Anyi, lalu dibawa ke rumah sakit. Dia meminta tolong suster, agar mendorong Anyi ke ruang pemeriksaan. Saat dalam perjalanan di ruangan, mereka bertemu Qin yang sedang jalan kaki.
"Eh Qin, kamu ngapain di sini?" tanya Limuq.
"Sulit dijelaskan, banyak hal yang terjadi." jawab Qin.
"Pasti kamu memberantas kejahatannya, aku dengar jadi duta merek." Limuq mendengar info dari temannya, yang membicarakan kampus Next Up beberapa hari lalu.
"Aku tidak melakukan perubahan besar, kecuali membuat diri sendiri celaka." Qin tersenyum, sambil geleng-geleng kepala. "Kamu sendiri ngapain ke rumah sakit?"
"Kaki Anyi tekilir." jawab Limuq.
Qin kembali melatih otot-otot tubuh untuk dilemaskan, setelah memar karena dipukuli orang-orang tak bertanggungjawab. Limuq dan Anyi melanjutkan perjalanan, menuju ke ruang pemeriksaan kakinya.
__ADS_1
"Harus seperti ini, sangat lebay." ujar Anyi.
"Sudahlah, anggap keberuntungan bertemu Qin." jawab Limuq.
"Kita juga sibuk tugas dari kampus, sebentar lagi selesai magang." ujar Anyi.
"Iya, iya, membuat project work harus disiapkan." jawab Limuq.
Fredy dan Friska keluar dari ruangan perlahan, lalu bersembunyi ke ruangan lain. Mereka berencana, untuk keluar lewat cerobong asap. Friska melihat jelas, kepulan udara kotor yang keluar.
"Sepertinya cukup untuk jalan tubuhku, lubangnya tidak terlalu besar." ujar Friska.
"Jika aku tidak berhasil, kamu pergi duluan saja." Fredy merasakan nyeri, pada bekas tusukan di perutnya.
"Lagipula, harus menunggu cerobong asap ini tidak digunakan. Kita bisa mati terbakar, bila melewatinya sekarang." Fredy memperhatikan dengan seksama.
Friska dan Fredy kompak membuka ponsel, lalu mencari pengetahuan dari sumber internet. Ternyata Gedung labirin itu berhenti berfungsi, setelah mendekati waktu Maghrib tiba. Itupun hanya sebentar, tidak akan bertahan lama.
"Berarti dalam waktu beberapa menit, kita harus sampai ke atas." Fredy memperkirakannya, untuk proses melangkah yang tidak membahayakan.
__ADS_1
"Nah, tepat sekali Fredy." jawab Friska.
Para warga memeriksa semua tempat, namun tidak ada apapun juga yang terlihat. Dua manusia saja sulit ditemukan, karena bentuk labirin yang berkelok-kelok.
"Kenapa kita kesulitan sekali, untuk menemukan mereka?"
"Jalan ruangan labirin ini menjadi penyebabnya."
"Benar-benar payah, hancurkan saja dengan bom."
"Baiklah, kalau ingin merusak sumber penghasilan dari desa ini."
Fredy dan Friska memanjat besi kecil, menuju cerobong asap. Mesin pabrik telah mati, jadi bisa secepatnya melarikan diri. Hanya sebentar saja tidak beroperasi, sudah membuat pintu ruangan terbuka.
"Apa mungkin dia di sini paman ketua adat?" tanya Wasli.
"Melihat situasi yang gawat, hanya di sini yang paling aman. Namun, ruangan ini terlalu berbahaya." jawab bapak ketua adat.
Mereka keluar dari ruangan itu, lalu menemukan Fredy dan Friska melompat. Wasli menembak dari kejauhan, namun tidak mengenai mereka. Jarak yang menjadi penghalang, untuk sampai di genteng paling ujung.
__ADS_1
"Gawat, kita ketahuan. Cepat lari dari sini." Friska menyeret paksa tubuh Fredy.
"Iya, sabar. Ini sakit sekali." Berjalan terseok-seok, sembari memegangi perut.