
Qin menutup mulutnya sendiri, karena para mafia itu tepat berada di atasnya. Mereka memperhatikan sekeliling dengan seksama, namun tidak terlihat juga tanda-tanda pergerakan.
"Eh, sepertinya tidak ada mereka di sini."
"Iya sudah, ayo pergi. Jangan membuang waktu lagi."
Qin dan Fredy menutup mulut masing-masing, agar suara nafasnya pun tak terdengar. Mungkin saja, tidak ingin jejaknya terendus para mafia tersebut. Setelah kepergian mereka, Qin dan Fredy keluar dari persembunyian. Namun tidak menetap di tempat itu lebih lama, mereka segera melanjutkan perjalanan.
Qin dan Fredy mengangkat tumpukan ranting, yang menghalangi jalan berbelok. Sepertinya sengaja ditutup, namun mereka butuh tempat yang aman untuk sembunyi. Jadi, tanpa persetujuan mengobrak-abrik penghambat perjalanan.
Qin melihat sebuah tempat, yang menggantung banyak kuali. Hal paling mengejutkannya lagi, saat masuk ke dalam melihat tulang belulang.
"Fredy, apa itu!" Qin menunjuk tengkorak paling besar.
"Itu pasti bekas pembantaian manusia." jawab Fredy.
"Aku akan memeriksanya satu persatu, siapa tahu dapat aku temukan Kak Arina." ujar Qin.
"Aku akan membantumu, ayo." jawab Fredy.
Mereka mulai melangkahkan kaki, menuju ke sebuah ruangan. Di sana terlihat persinggahan, yang sering diinjak oleh kaki.
__ADS_1
"Kok tidak ada apa-apa iya." Fredy mengusap tengkuknya, yang bercucuran keringat.
"Pasti sudah disembunyikan, agar kita tak mudah menemukannya." jawab Qin.
"Iya kalau ada, kalau kenyataannya tidak di sini bagaimana?" tanya Fredy.
"Mungkin ada, cepat kita cari lagi." jawab Qin.
Qin melihat jilbab kakaknya, yang tergantung pada paku dinding. Dia segera menarik jilbab tersebut, lalu memeluknya sambil menangis.
Plok! Plok! Plok! Plok!
"Hai, para penyusup!" ujar Joy, dengan menyeringai.
"Katakan, mengapa jilbab Kakakku ada di sini." Qin memperlihatkan jilbabnya.
"Hahah... tentu saja karena Kakak tercintamu sudah tewas. Seharusnya kamu tidak perlu berjuang, untuk kerepotan mencarinya. Dia sudah aku musnahkan, dari dunia indah ini." Joy tersenyum jahat.
"Apa salah Kakakku, dia orang yang baik. Mengapa kamu tega membunuhnya!" Qin mulai terbawa emosi.
"Itu karena Kakakmu begitu angkuh, dia menolak menjadi pacarku." ujar Joy.
__ADS_1
"Karena dia memang tidak mau pacaran, itu sudah menjadi prinsipnya." jawab Qin.
"Hah, omong kosong! Aku tidak peduli dengan prinsipnya, dia harus tetap tahu kalau aku tersakiti." ucap Joy.
"Itu karena kamu terlalu berharap. Semua kesalahan ada pada dirimu." jawab Qin.
"Ucapkan sekali lagi, akan aku potong lidahmu." ujar Joy, dengan mengancamnya.
"Ayo lakukan saja, bukankah kamu biasanya begitu. Sudah menghabisi nyawa teman-temanku, setelah kamu renggut paksa nyawa Kak Arina." jelas Qin.
Qin mengawasi pergerakan Joy, dan dua anak buahnya. Tiba-tiba saja sebuah pengait besi, menarik punggung kedua pria di belakang Joy. Anyi dan Limuq yang melakukannya, dan Joy membalikkan tubuhnya.
Qin yang kini berada di belakang Joy, segera menendang tubuh pria tersebut. Fredy juga membantu dalam melakukan penyerangan. Mereka berhasil melumpuhkan Joy, hingga tubuhnya lumayan terluka parah.
"Ayo cepat kabur dari sini!" ajak Qin.
"Iya, ayo." jawab Anyi.
"Pertama-tama, kita tidak bisa lari sebebasnya. Di seberang sana lautan luas, dibutuhkan kendaraan air." ujar Fredy.
"Kalian tenang saja, aku sudah mengambil kapal." jawab Limuq.
__ADS_1