Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Dituduh Mencuri


__ADS_3

Fredy berjalan ke arah pantry. "Kenapa banyak air, siapa yang mengarahkan selang dalam ruangan ini."


"Eh, jangan kamu lewati lantai itu. Nanti kamu kesetrum listrik, yang mengenai air." Qin berbicara lantang.


Fredy mendongak dari pintu ke arah dalam. "Eh, jadi kamu jongkok di besi takut mengenai air?" tanyanya, memastikan yang terjadi.


Qin membuka sepatunya, karena ada pasir masuk. "Iya, sudah tahu pakai nanya. Ini semua ulah Kak Jenny, karena dia yang menyuruhku masak di pantry." jawab Qin.


"Si licik satu ini, harus kita ringkus secepatnya. Ini dapat membahayakan semua orang." ujar Fredy.


"Iya, pikirkan nanti saja. Sekarang cari cara untuk menguras airnya." jawab Qin.


Fredy menjauhkan selang terlebih dulu, dan Qin menumpahkan pasir dalam sepatu. Beberapa orang satpam membantu menangani hal tersebut, atas permintaan dari Fredy yang memanggilnya.


Qin mengantarkan makanan ke ruangan meeting. "Maaf terlambat, tadi ada kendala di pantry." ujarnya.


"Iya, tidak apa-apa."

__ADS_1


Qin lembur dengan berdoa terlebih dulu, ntah hal buruk apa yang menimpa lagi. Namun bersamaan dengan itu, semoga pertolongan datang seperti waktu sebelumnya.


"Qin, malam ini aku ingin es krim. Sebagai sekretaris sementara, kamu belikan untukku." titah Jenny.


"Maaf Kak, mall terlalu jauh dari sini. Apa tidak berbahaya untuk karyawati magang sepertiku." jawab Qin.


"Kamu perempuan pemberani, bukankah seperti itu? Aku rasa tidak akan merengek 'kan, hanya karena tugas kecil ini." ujar Jenny.


"Baiklah, karena Kak Jenny begitu memaksa aku turuti. Lagipula, aku bisa melakukan perlawanan apa untuk menolak." jawab Qin, segera pergi sambil mengambil uang di atas meja.


Duar!


Tangan Qin terluka bersamaan peluru yang bersarang di dagingnya. Qin mengambil sepeda yang bersandar di pinggir perumahan, lalu mendayung dengan terburu-buru. Tiba-tiba saja lepas pedal sebelahnya, lalu ditarik oleh Fredy yang menggunakan motor.


Keesokan harinya, ada warga yang demo. Bos Rudal memanggil Qin, karena dia yang dicari. Jenny tersenyum, dengan kehadirannya.


"Qin, kamu ini selalu buat ulah. Mencuri sepeda malam-malam, tidak ada etika." ujar Jenny.

__ADS_1


"Iya, di perusahaan ini yang paling baik hanya Kak Jenny." Qin mengalah.


"Qin bukan dari kalangan rakyat kelas tidak mampu, mana mungkin mencuri sepeda kusam pinggir jalan. Itu semua karena terdesak, dia disodorkan senjata." sahut Fredy, masih berusaha membela calon istri.


"Meskipun dia kaya, bisa saja dia rakus. Banyak orang tidak puas, dengan apa yang dimiliki. Bukankah, itu bisa terjadi juga pada Qin?" Jenny tersenyum, berusaha terus menyudutkannya.


"Kak Jenny, semakin lancar saja bicara. Jangan bilang, bahwa Kakak juga bermain dalam hal ini." Qin tersenyum, menyindir tepat sasaran.


Jenny berpangku tangan dengan santai. "Adik Qin, kamu hanya karyawati magang. Lihatlah, berapa bulan sudah membuat ulah berapa kali. Hal wajar bukan, bila kamu dicurigai." Menatap mata Qin, mengajak untuk berdebat.


"Aku juga korban, namun sudah dapat simpati berlebihan dari Kak Jenny. Terima kasih, aku sangat tersanjung!" Qin menundukkan kepala hormat di depan, namun mengajak perang di belakang. "Jarang-jarang bisa melihat sifat Kakak yang seperti ini. Dipertahankan dalam segala hal iya, termasuk keselamatan para karyawan dan karyawati yang lembur." Menyindir lagi.


Bos Rudal tahu mereka sedang berdebat secara halus. Tampak dari tatapan masing-masing, sedang memperebutkan sesuatu untuk meraih kemenangan.


"Sudahlah, masalah ini tidak usah diperbesar lagi." ucap bos Rudal bijak.


"Nah, ini aku setuju." Qin tersenyum ceria.

__ADS_1


__ADS_2