Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bersembunyi Di Gubuk Tua


__ADS_3

Friska dan Tiger bersembunyi di gubuk tua. Tempat yang sudah reok, namun lebih aman dibanding penginapan tengah hutan itu.


"Tiger, setidaknya di sini mereka tidak akan menemukan kita." ujar Friska.


"Iya, meskipun hanya ada sedikit bekal dalam tas." jawab Tiger.


"Tiger, tiba-tiba aku berpikir bagaimana kalau kita cari jalan keluar. Bila menunggu Kak Arina ditemukan, itu akan membuat nyawa kita lebih lama terancam." Friska mengusulkan idenya.


"Kamu benar, namun sampai sekarang aku tidak tahu dimana kendaraan air. Bila kita masih sibuk mencari, kita akan tertangkap duluan." jawab Tiger.


"Kita tidak bisa berpura-pura tidak tahu lagi, karena banyak kelompok mafia yang sudah kita serang." Friska membenarkan jilbabnya.


"Iya, ini semakin mempersulit jalan kita." jawab Tiger.


Para mafia itu memeriksa penginapan, namun tidak menemukan siapapun. Lampu otomatis ruangan dalam juga mati, dan tidak ada pergerakan sama sekali. Mereka segera melangkahkan kakinya menuju hutan, dengan tujuan yang sama. Para mafia berniat menangkap target, sebelum mereka berhasil keluar.


"Kalian sudah membatasi pergerakan mereka 'kan?"


"Iya, mereka semua yang berniat melarikan diri akan mati. Dan tentu saja, yang tetap tinggal juga mati."

__ADS_1


Sebuah cahaya senter, mengenai celah pepohonan. Sisil dan Fernan segera menunduk, di balik tanah tinggi.


"Kak, apa itu mereka?" tanya Fernan, dengan cemas.


"Iya, lalu siapa lagi." jawab Sisil, dengan berbisik.


Qin dan Fredy menggosok telapak tangan, di depan api unggun. Keduanya butuh tenaga untuk pulih, baru bisa kembali ke markas Joy.


"Bagaimana iya, keadaan teman-teman kita." ujar Qin.


"Aku gak tahu Qin, kita juga gak bisa kasih kode. Nanti para mafia itu, bisa tahu keberadaan kita. Sekarang, kondisi kita harus pulih dulu." jawab Fredy.


"Iya Fredy, aku berharap kita bisa keluar dengan selamat. Pergi bersama, dan pulang juga bersama." ujar Qin.


Keesokan harinya, Friska dan Tiger sudah bangun. Matahari terlihat menyingsing, menyinari hutan lebat tersebut.


"Friska, gimana iya cara menghubungi teman-teman. Sinyal tidak ada, baterai pun kosong." keluh Tiger.


"Kita cari aja sekarang, mumpung hari sudah cerah." jawab Friska.

__ADS_1


"Iya, ide yang bagus." ucap Tiger.


"Bukan ide bagus si, cuma usulan aja. Kalau diterima iya syukur, gak diterima iya sudah." jawab Friska.


Mereka melangkahkan kaki, keluar dari gubuk reok tersebut. Mata mereka mengawasi sekeliling dengan teliti, kalau-kalau masih ada mafia disekitar.


Saat di tengah perjalanan, Friska dan Tiger melihat katak berwarna biru dan hitam. Friska melihat matanya yang tajam, dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Friska, itu bukan katak biasa. Hentikan langkahmu, atau kau akan terkena racunnya." ujar Tiger.


"Oh, baiklah." Friska diam di tempat.


Tiger berusaha melindungi Friska, dengan menembak katak yang mendekat. Suara tembakannya itu, berhasil membuat empat pasang telinga mendengar. Dia adalah Sisil dan Fernan, yang tertidur di balik semak ilalang. Mereka berdua keluar dari persembunyian, dengan sangat hati-hati.


"Kak Friska!" teriak Fernan.


"Kalian jangan ke sini, ada katak panah beracun." Friska melambaikan tangannya.


Tiger menarik lengan Friska, supaya cepat berlari. Banyak katak yang mengejar, di belakang mereka. Ntahlah tidak mengerti, apa yang diinginkan makhluk hidup itu.

__ADS_1


"Fernan, Sisil, cepat lari." titah Tiger.


"Iya Kak." jawab Fernan.


__ADS_2