
Jenny berbicara dengan seseorang, di dalam ruangan kedap suara. Tempat itu khusus meeting ilegal, tentang kegiatan kriminalisasi rahasia. Tidak ada yang mengetahui tempat tersembunyi tersebut, kecuali beberapa orang tertentu.
"Bos, anak-anak magang itu sudah berani ikut campur dalam urusan kita." Jenny melaporkan pergerakan perusahaan.
"Paksa mereka mendapatkan pelajaran berharga, agar tidak ikut-ikutan dalam masalah kita." jawabnya, dengan memiringkan bibir menyeringai.
"Tenang saja, salah satunya sudah diberi hukuman lembur. Sekarang mereka melewati masa sengsara, dengan tubuh penuh luka-luka. Tiger sudah berani menuangkan obat tidur dalam minuman ku, lalu mencuri boneka bunglon milikku. Padahal alat tersebut satu-satunya penghubung dengan tempat rahasia." jelas Jenny.
"Hahah... kamu tidak perlu repot-repot mencari. Lagi pula mereka tidak tahu juga, apa fungsi boneka bunglon itu." Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Keesokan harinya, Jenny pergi ke rumah sakit bersama bos Rudal. Tidak hanya mereka, yang lainnya juga pergi.
"Qin, kamu lembur sekali sudah mengalami semua ini. Sementara Kak Jenny lembur terus, tapi tidak ada apa-apa. Apa karena dia sekretaris bos Rudal?" ucap Tardo, dengan berani.
__ADS_1
"Semua ini tergantung pada kecerdikan seseorang, dalam memperhitungkan urusan sendiri dan tidak suka ikut campur urusan kriminalitas." Jenny menyipitkan matanya, ke arah Qin.
Qin tahu saja, bahwa dia sedang disindir. "Iya, aku mengerti kok maksud Kak Jenny." Qin menarik sedikit sudut bibirnya, sambil menggerakkan tubuh perlahan.
"Bagus, ini salah satu klarifikasi pilihan dalam perusahaan Kharuga." jawab Jenny.
Karina mengelus kepala putrinya. "Qin sayang, kalau mau melakukan pergerakan biar Mama bantu."
"Iya Ma, terima kasih." jawab Qin.
"Kamu kenapa?" senggol Tardo.
"Tidak apa-apa." jawab Lucky, menutupi isi pikirannya.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Qin pergi ke masjid untuk mengikuti acara Israa Mi'raj. Banyak anak kecil yang semangat mengikuti lomba. Mulai dari pembacaan ayat-ayat pendek, membacakan puisi islami, shalawat, dan perlombaan gerakan salat.
"Qin, semoga hari-hari selanjutnya Tuhan selalu melindungi kamu." ujar Karina, menatap kedua bola mata putrinya. "Mama sayang sama kamu, dan sangat mengkhawatirkan kepergian mu." Karina mengusap kening Qin, lalu merapikan jilbabnya menyentuh daun telinga.
"Iya Ma aamiin, aku juga sayang sama Mama." Qin menggenggam tangan Karina, dengan perasaan yang mendalam.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja mobil polisi singgah. Dia meminta keterangan dari Qin, mengenai rekaman video yang diserahkan oleh Friska.
"Apa kamu diculik oleh para mafia itu?" tanya polisi.
"Tidak, namun lebih tepatnya dijebak dalam kereta pembantaian. Sepertinya setiap tengah malam, kendaraan itu sengaja mencari mangsa. Pastinya digerakkan oleh seseorang dari jarak jauh, karena ada banyak alat tajam yang bisa melayang-layang sendiri." jelas Qin, seterang-terangnya.
"Kamu hebat bisa keluar dari kereta perenggut nyawa manusia." ucap polisi, memujinya dengan terkagum-kagum.
__ADS_1
"Aku sebenarnya sudah mempelajari, cara mengatasi keadaan darurat. Sekarang kejahatan dunia nyata begitu marak, di tengah-tengah masyarakat." Qin tetap menyembunyikan statusnya sebagai detektif.
Jika dia berhasil mengungkap kasus di perusahaan ini, dia akan mendapatkan sertifikat detektif secara resmi. Itu adalah hal, yang dijanjikan pelatihnya di tempat kursus.