
Duar!
Ditembak lengannya oleh Wasli, karena merasa jengkel dengan keangkuhan Tiger. Friska tiba-tiba menangis, menyesali ucapannya saat emosi tadi. Fredy menarik Friska supaya pergi, meninggalkan Tiger adalah jalan terbaik.
"Sudah tidak ada waktu untuk menyelamatkannya. Dia juga sedang emosi, aku tidak bisa memaksanya. Yang harus kita lakukan sekarang, yaitu pergi dengan diam-diam." Fredy mengusulkan idenya.
"Setidaknya kita temani dia di sini, aku takut terjadi apa-apa." jawab Friska yang mulai khawatir, dengan keadaan calon suaminya.
"Ayolah, cepat pergi sekarang. Kita harus membawa bukti tentang pembunuhan." ujar Fredy.
"Ternyata kamu egois iya, cuma mau menyelamatkan Qin saja. Lalu, bagaimana dengan Tiger di sana. Nyawanya terancam, dan kamu masih ambil kesempatan untuk lari." Friska malah berpikir yang tidak-tidak.
Tubuh Qin lemas, karena dipukuli beramai-ramai. Walaupun bisa beladiri, dia tidak bisa menghindar. Keadaan tadi memaksanya menghadapi mereka, karena diharuskan satu ruangan.
Dua polisi berniat membawa Qin ke rumah sakit, setelah memuntahkan cairan kental tiga kali. Bau amis tercium oleh hidungnya sendiri, karena mulutnya banyak memuntahkan ke lantai.
"Benar-benar jorok."
__ADS_1
"Ternyata lemah, cuma kelihatan kuat di luar."
Jenny menyuruh seseorang menyamar jadi dokter untuk memasuki rumah sakit, lalu membunuh Qin secara diam-diam. Memberikan uang dimuka sebagai bayaran, jika berhasil akan ditambah lagi.
Dokter yang memeriksa Qin keluar dari ruangan, bersamaan dengan dua polisi yang tiba-tiba pergi. Seseorang yang tengah menyamar menjadi dokter, segera masuk ke dalam ruangan Qin.
"Hah, gadis cantik sedang pingsan. Aku akan membunuh kamu, namun dengan perlahan-lahan." Mencabut selang infus lalu mengembalikan seperti semula, karena mendengar suara gagang pintu bergerak.
Dokter palsu itu bersembunyi di dalam toilet, Arka Karina masuk ke dalam ruangan. Karina merasa sedih, melihat kondisi putrinya. Arka juga turut prihatin, dengan kejadian yang menimpa Qin bertubi-tubi.
"Sayang, kamu yang kuat iya Nak." Karina menggenggam tangan putrinya.
”Siapa yang mengunci pintu toilet, apa ada orang di dalam.” batin Arka.
Arka berjalan mendekati Karina. "Ada orang di dalam toilet."
"Memangnya siapa? Apa mungkin dokter rumah sakit ini." jawab Karina.
__ADS_1
"Mungkin saja dia sedang menumpang, setelah memeriksa keadaan Qin." ujar Arka.
"Kalau begitu tunggu sampai dia keluar." jawab Karina.
Tak berselang lama, laki-laki itu keluar. Dia melewati Arka dan Karina begitu saja, takut ketahuan bila sedang menyamar menjadi dokter.
"Dokter, kamu tidak melihat ada orang di sini?" tanya Arka.
Orang tersebut membenarkan kacamata, ketika menoleh ke arah Arka. "Maaf, aku sedang banyak pikiran. Jadi tidak menyadari, bahwa keluarga pasien datang."
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Arka, yang ingin tahu.
"Sudah mulai stabil." jawab dokter.
"Stabil yang seperti apa, memangnya tadi mengalami kondisi bahaya?" Arka menatap dengan jelas.
"Tidak juga, hanya pukulan pada tubuhnya sangat parah. Beberapa bagian tubuhnya jadi lebam, namun sudah diberi salep pereda nyeri." jelas dokter palsu itu, sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Setelah dia keluar dari ruangan, Arka tiba-tiba merasa aneh. Mengapa dari tindakannya, tidak terlihat dokter asli. Arka segera membuka pintu ruangan, lari dengan terburu-buru. Dia ingin mencari kepala rumah sakit, menanyakan terkait jadwal pemeriksaan ruangan rawat inap putrinya.