Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Menemukan Karina


__ADS_3

Qin berhasil melepaskan ikatan pada tangan Karina, saat tempat itu dikepung para polisi. Polisi meringkus sejumlah orang, dan mengamankannya di kantor polisi. Sudah diintrogasi beberapa jam, masih tidak mengakui dalang dari perbuatannya.


"Kalian jangan mempersulit pemeriksaan." bentak polisi.


"Hanya itu yang dapat kami katakan, bahwa kami menginginkan uang dari perempuan kaya." jawab salah satu orang mewakili.


"Pasti ada yang menyuruh kalian, cepat katakan." Polisi menggebrak meja, dengan kuat.


Tidak menyurutkan prinsip mereka, untuk tetap menutupi. "Apa gunanya kami berbicara, kalau tetap ditahan."


"Kalian tidak menutupi kejahatan, maka aku akan meringankan hukuman kalian." tawar polisi.


"Setuju, namun harus membuat perjanjian di atas materai terlebih dulu. Kami takut kalian polisi ini menipu, butuh bukti bukan janji." Ikut menawar juga.


Qin mengompres kepala Karina dengan air hangat, untuk meredakan tubuhnya yang panas. Tidak lama kemudian, Karina akhirnya sadar. Dia menyapu sekeliling dengan matanya, namun tidak menemukan sosok Arka.


Keesokan harinya saat baru tiba di kantor, Qin melihat polisi mengepung perusahaan Kharuga. Bahkan gerbang sangat dijaga dengan ketat, membuat para satpam tak dapat berkutik.

__ADS_1


"Ada apa Pak?" tanya Qin.


"Kami ingin menangkap Jenny, kabarnya dia bekerja di sini. Berdasarkan keterangan pelaku yang menculik Mama kamu, dialah dalang yang menyuruh menjadikan Ibu Karina sebagai sandera." jawab polisi.


"Iya sudah, kita cari saja bersama. Menangkapnya juga tidak bisa santai, dia sangat berbisa." ujar Qin.


"Baiklah, kita geledah semua tempat." ajak polisi laki-laki.


Saat melangkahkan kaki di dalam perusahaan, tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya. Sekarang kedua tangan Jenny memegang pisau, sambil dikalungkan di leher Qin. Fredy Dan Friska datang, namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kak Jenny, jangan memainkan pisau. Sangat berbahaya, sebaiknya turunkan." Friska mengayunkan tangan ke bawah, berusaha merayu penjahat yang dipenuhi kekhawatiran.


"Aku tidak akan membiarkan Qin selamat, lalu aku mendekam dalam jeruji besi." Jenny melihat para polisi bergerak. "Turunkan pistol kalian, atau aku bunuh dia." Berteriak, sampai membuat semua penghuni kantor berhamburan.


"Sebaiknya, kalian turunkan senjata." Fredy melihat polisi, yang masih mengangkat tangan di udara.


"Baiklah, demi keselamatannya." jawab polisi.

__ADS_1


Jenny menyuruh Qin berjalan, sampai mereka masuk ke dalam pintu lift. Friska dan Fredy memilih berjalan lewat tangga biasa, memikirkan cara untuk menyelamatkan Qin.


"Cepat jalan, jangan bergerak." titah Jenny.


"Hmmm..." Qin terus saja berjalan, tidak tahu akan kemana.


Para polisi tetap saja mengejarnya lewat pintu lift berbeda. Sementara Friska berhenti karena ngos-ngosan.


"Friska, setelah aku pikir-pikir bisa saja Kak Jenny membawa Qin ke lantai paling tertinggi." ujar Fredy.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Menyelamatkan di depannya juga, akan membuat pisau menyayat leher Qin." jawab Friska, benar adanya.


"Aku punya ide, yang paling terpenting kamu harus tetap jalan. Aku akan mencari cara dari bawah, untuk menyelamatkan Qin." Fredy mengusulkan rencana.


"Baiklah, ayo bergegas sekarang." Friska sudah berdiri tegap.


Fredy masuk ke pintu lift, supaya lebih cepat sampai. Friska segera melangkahkan kaki, sekarang memilih menggunakan pintu lift juga. Fredy sudah sampai terlebih dulu, sedangkan Friska masih berada di dalam pintu lift.

__ADS_1


__ADS_2