
Malam harinya, Qin mengerjakan tugas di laptopnya. Lagi fokus, malah melihat bayangan lewat jendela. Qin berjalan dengan pelan, lalu menggeser tirai. Tidak ada siapapun, padahal bayangan yang dilihatnya tadi sangat jelas.
"Siapa iya kira-kira, aku jadi penasaran." monolog Qin.
Keesokan harinya Qin pergi ke hutan, untuk mencari ponselnya. Namun tetap saja tidak ketemu, malah melihat para bandit itu lagi. Sebelum sempat bertemu, Qin memilih sembunyi secepatnya.
"Bos, aku rasa gadis itu tak akan masuk ke area hutan lagi."
"Kita cari tempat tinggalnya saja, lalu bunuh mereka tanpa sisa."
"Aku sudah selidiki, mereka tinggal di villa. Namun, ada banyak pengawal berjaga."
"Gampang menyingkirkannya, tinggal kita tembak dari kejauhan." jawab bos, memberikan bocoran niat jahatnya.
Setelah kepergian mereka, Qin lari dengan terburu-buru. Dia sengaja lewat jalan terobosan, agar lebih dulu sampai ke villa. Qin ingin memberitahu mama dan papanya, supaya cepat pergi dari sana.
Tok! Tok!
Mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, karena pikirannya sudah cemas tak terkira. "Mama! Papa! Buka pintunya cepat."
__ADS_1
Karina membuka pintu dengan cepat. "Ada apa sayang."
"Ma, ada kelompok orang jahat. Cepat suruh pengawal pergi dari sini, kita juga ajak Papa pergi." jawab Qin.
Arka mendengar perkataan Karina, segera berjalan mendekat. "Mereka mau membunuhmu lagi?"
"Bukan, tapi membunuh semua yang ada di villa ini." jawab Qin.
Karina bingung sendiri, apa yang dimaksud. "Mereka siapa?"
"Nanti aku jelaskan Ma, sekarang kita pergi." Arka menarik lengan Karina masuk ke dalam villa, lalu mengunci pintu dengan cepat.
"Baik bos." jawab salah satunya.
Arka, Karina, dan Qin segera pergi untuk menuju rumah ketua adat. Mereka sengaja lewat pintu belakang, saat mendengar pintu depan ditembak. Qin dan Karina bergandengan tangan, terus melangkahkan kaki. Setelah lelah berlarian menuruni gunung Kiwochi, akhirnya sampai di rumah ketua adat.
"Pak, kedatangan kami ke sini mau mengadukan tentang pengawal villa yang dibunuh. Mereka sangat meresahkan, karena berkeliaran membawa senjata." Arka mengadu, dengan raut wajah panik.
"Maaf tuan, harus ada bukti sebelum berbicara." jawab bapak ketua adat.
__ADS_1
"Lihatlah, tubuh anak kami penuh perban. Kemarin dibawa ke puskesmas terdekat." ucap Arka.
"Maaf Pak, sudah lama kami tinggal di sini. Tidak pernah mendengar pembunuh sejahat itu, anak di desa ini sangat ramah-tamah." jawab bapak ketua adat.
Ibu ketua adat menimpali. "Jangan sembarangan bicara loh tuan, sama saja dengan fitnah."
"Sebenarnya ada bukti, hanya saja tidak tahu jatuh di mana. Saat itu lari terbirit-birit, tidak memikirkan ponsel." ujar Qin.
"Bukti saja tidak ada, apa lagi saksi." jawab bapak ketua adat.
"Saat aku menangkap tubuh Qin yang jatuh dari tebing, ada seorang pria paruh baya lewat. Aku rasa, dia bisa menjadi saksi." sahut Arka.
"Baiklah, aku akan kumpulkan semua orang tanpa terkecuali." jawab bapak ketua adat.
Beberapa kali Kentungan dipukul, semua orang segera berkumpul. Termasuk ketua bandit dan teman-temannya. Bapak yang memanggul kayu juga turut serta.
"Nah, mereka adalah orangnya." Qin menunjuk ketua bandit.
"Dia adalah Wasli keponakan aku. Mana mungkin pembunuh, sudah lama aku mengenalnya." jawab bapak ketua adat.
__ADS_1
Wasli dan seorang pria memanggul kayu maju ke depan, karena nama mereka dari tadi dipanggil.