
Fernan menuangkan air putih, lalu memberikannya pada nenek tersebut. Fredy juga memberikan roti, yang masih tersisa dalam tasnya.
"Terima kasih Nak, kalian bersedia menolong aku." ujarnya.
"Iya Nek, sudah seharusnya." jawab Fredy.
Nenek tersebut mulai memasukkan roti, ke dalam mulutnya. Lalu, dia meminum air yang diberikan Fernan.
Bruk!
Tanpa sengaja Friska menyenggol pot bunga, dan berhasil mengalihkan perhatian penjaga. Qin, Tiger, dan Friska segera berlari tunggang langgang. Mereka sibuk mencari ruangan yang tidak terkunci. Satu persatu mereka raih gagangnya, supaya bisa melihat terkunci atau tidak.
"Gawat, semua ruangan terkunci. Kita harus bersembunyi dimana?" Friska panik, karena mendengar suara orang mendekat.
"Ayo ikut aku." Qin berlari duluan.
Tiger dan Friska mengikuti langkah kakinya. Mereka berjalan menapaki anak tangga, hingga sampai ke atas. Tiba-tiba saja kaki Tiger menginjak lem pelekat.
"Aduh bagaimana ini, kita bisa ketahuan." ujar Friska panik.
"Aku tidak bisa lari, kalian kabur saja dulu. Kakiku terkena lem lengket di lantai." jawab Tiger.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan memancing mereka." Friska segera berlari.
"Friska, hadapi semuanya bersama-sama. Jangan sendiri-sendiri, nanti ada yang terluka." Qin berteriak, di belakang punggungnya.
"Ayo Tiger, kamu pasti bisa." Qin berusaha menarik Tiger.
"Qin, sebaiknya aku tinggal saja sepatuku. Sungguh sangat sulit untuk berlari, dalam posisi seperti ini." jawab Tiger.
"Bila kamu meninggalkan sepatumu, mereka akan mengetahui ada orang lain." ujar Qin.
"Namun, kita berada di sini juga semakin mudah untuk ditangkap." jawab Tiger.
Friska sengaja melambaikan tangan, dan berteriak memanggil mereka. Friska tidak ingin, mereka menemukan Tiger dan Qin. Friska mengalihkan perhatian semuanya, agar mereka tidak melanjutkan perjalanan.
Mereka berlari mengejar Friska, yang sudah berlari duluan. Friska segera bersembunyi di bagasi, yang sudah tidak terpakai. Di sana bertumpuk kayu-kayu balok, ada juga papan triplek tipis. Bahkan ada selang air yang tidak digunakan, sudah terlihat sangat tua.
”Haduh, aku harus bersembunyi dimana. Mereka akan segera menemukanku, bila aku tidak berhasil kabur.” batin Friska.
Friska mengambil kayu balok, sambil bersembunyi di balik mobil. Para mafia itu berjalan pelan-pelan, memastikan posisi Friska yang sebenarnya.
"Kita tidak boleh membiarkan dia kabur lagi."
__ADS_1
"Benar, kita periksa semua tempat ini."
"Apa perlu dalam lubang tikus sekalipun."
"Gadis itu hanya sendirian, pasti kita dapat membunuhnya."
Friska terus mengucapkan istighfar, karena hatinya merasa takut. Dia terus menyebut nama Tuhannya, agar berani menghadapi musuh sadis tersebut.
Friska membuka pintu mobil, yang sudah rusak. Lalu, dia segera bersembunyi di dalamnya. Friska terus menunduk, di bawah kursi duduk.
Limuq, Anyi, Dirga, dan Qiya sedang berada di tempat kursus detektif. Mereka melihat kursi Qin, yang masih juga tidak ditempati.
"Kita adalah temannya Qin, harus membantu dia." ujar Dirga.
"Iya, namun apa Qin sekarang terjadi sesuatu. Dia tidak menghubungi kita sama sekali." jawab Anyi.
"Justru tidak menghubungi, bisa saja terjadi sesuatu. Aku takut dia dalam bahaya, karena tidak adanya kabar sama sekali." ucap Qiya.
"Dia memberitahu kita beberapa Minggu kemudian. Apa kita harus segera mendahului, untuk menjemputnya di seberang laut." jawab Limuq.
"Tidak masalah, lebih cepat lebih baik." ucap Qiya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan ke sana beberapa hari kemudian." jawab Dirga.
Mereka mempelajari tentang bahaya, yang akan dihadapi ketika menyelidiki kasus. Buku besar panduan detektif, tersedia di atas meja masing-masing. Mereka membacanya, sambil dipandu oleh guru.