Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Terjebak Dalam Menara


__ADS_3

Tak berselang lama, ada yang mendorong pintu bawah lantai. Pria berbaju hitam itu, tetap berdiri di anak tangga. Dia memaksa ingin masuk, karena menyakini ada orang di dalam.


Akhirnya dia menyerah, karena pintu tertahan oleh meja. Pria itu memanggil kawanan kelompoknya, untuk menjebol pintu menara API. Qin, Friska, dan Fredy mencari cara, supaya bisa keluar dari terjebak di tempat.


"Qin, bagaimana caranya kita kabur." Friska berdiri, tepat di depan kaca.


"Aku juga gak tahu, ini benar-benar tinggi. Kalaupun kita lompat, tulang kita mungkin akan patah." jawab Qin.


"Lalu, kalau kita gak lompat, kita akan ditangkap sama mereka. Kamu tahu 'kan, mereka itu kejam." ujar Friska.


"Aku punya solusinya." jawab Fredy.


"Apa itu Fredy, cepat katakan." Friska sudah panik, setengah mati.


"Lebih baik, kita melompat saja. Tidak ada pilihan lain lagi." jawab Fredy.


"Fredy, sebaiknya kita menunggu mereka pergi aja." sahut Qin.


"Kita akan mati, bila melompat ke bawah. Solusi yang kamu berikan, benar-benar gila Fredy." timpal Friska.


"Baiklah, kita tunggu mereka pergi aja." jawab Fredy.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, ada yang mendorong lantai masuk. Mereka menahan sekuat tenaga, agar mereka tidak naik ke atas. Kalau sampai mereka masuk, maka akan terjadi pertumpahan darah.


"Terus tahan Qin, jangan sampai mereka berhasil. Aku tidak ingin, bila mejanya beralih." ujar Friska.


"Iya Friska, karena Fredy juga gak bisa lari cepat. Kakinya masih keseleo, karena lompat dari bukit." jawab Qin.


Mereka terus memaksa, dengan menghancurkan lantai papan tersebut. Qin memberanikan diri untuk membuka penutup lantai, lalu menembak mereka satu persatu hingga jatuh. Salah satu dari mereka melempar kapak, lalu Qin mengelak hingga terkena kaca.


Pyar!


Kaca menara API itu pecah, dan Qin segera menutup kembali papan lantai itu. Beberapa menit kemudian, tidak terdengar suara lagi. Hening seketika, hanya suara jangkrik bersahutan.


"Tidak mungkin secepat itu, jangan tertipu dengan mereka." jawab Qin.


Bau tak sedap, tercium pada hidung masing-masing. Seperti bau minyak bensin, yang sedang membakar kayu pohon.


"Qin, lihatlah ada cahaya." Friska melihat dari kaca jendela.


"Hah, mereka membakar menara ini." Qin melihat api yang semakin luas.


"Kita harus lompat." ajak Fredy.

__ADS_1


"Aku gak mau, kepala kita bisa hancur. Lihatlah, menara ini sudah setinggi pohon." jawab Friska.


Fredy menunjuk pohon besar, dan penuh cabang ranting. Dia mengajak kedua temannya, untuk melompat ke arah pohon.


"Aku gak bisa Fredy, ini sangat sulit." ungkap Friska.


"Ayo Friska, aku yakin kamu bisa. Ikuti aku iya, biar aku contohkan." jawab Fredy.


Fredy memecahkan kaca sampai terbuka lebar, lalu melompat ke arah dahan pohon. Dia berhasil berada di puncak pohon, yang dipenuhi oleh dedaunan.


"Ayo Friska cepat, sebentar lagi menara ini akan roboh." Qin menggesa-gesa, dengan perasaan panik.


"Iya Qin, aku akan memberanikan diri." jawabnya.


Friska akhirnya melompat juga, dengan sekuat tenaga. Fredy menarik tangannya, yang hendak terjatuh.


"Fredy, aku sudah gak kuat." ujar Friska.


"Kamu jangan melepaskan, terus tahan iya." Fredy memegang batang pohon, lebih kuat lagi.


Dalam hitungan ketiga, Friska berhasil duduk di atas dahan. Nafas keduanya terengah-engah, dengan keringat bercucuran pada sekujur tubuh. Keringat dingin masih menyerang, di sekujur tubuh.

__ADS_1


__ADS_2