
Limuq dan Anyi berkelahi dengan para mafia, yang sedang menjaga emperan. Harap maklum, langkah kaki mereka sempat terdengar. Limuq saling dorong-dorongan, dengan seorang pria tinggi besar.
Duar! Duar!
Qin menembak dua orang di antara mereka, dan dua orang lagi angkat tangan. Mereka bertekuk lutut, meminta untuk jangan ditembak.
"Tolong jangan bunuh kami. Kami masih ingin hidup." ujar mereka.
"Kalau begitu, kalian pertanggungjawaban perbuatan kalian." Qin mengajukan persyaratannya.
Duar!
Tiba-tiba Joy muncul, dia berhasil menembak paha Qin. Tersenyum puas, tatkala menyaksikan Qin meringis. Tubuhnya sudah ambruk ke lantai, tidak sanggup untuk berdiri lagi.
"Qin, kamu tidak apa-apa?" Fredy melihat peluru, yang menancap pada kaki Qin.
Tiba-tiba, ada Friska dan Tiger yang menembak dari belakang. Pistol yang diarahkan ke atas udara menjadi tergeletak.
Duar!
Qin berhasil menembak perut Joy, bersamaan dengan itu Limuq dan Anyi menyerbu anak buah yang berdiri di belakang Joy. Pertumpahan darah terjadi begitu saja, hingga lengan Limuq terluka.
__ADS_1
"Limuq, tangan kamu terkena peluru tembak." Anyi mulai panik.
"Tidak apa-apa, nanti juga membaik kok." jawab Limuq.
Setelah membungkus kaki Qin, mereka melanjutkan perjalanan. Sesampainya di halaman markas, para penjahat itu menyerahkan diri. Para tentara meringkus mereka, dan membawa pulang Qin dan teman-temannya. Mereka masuk ke dalam helikopter, dan baling-baling mulai berputar saat mesin berbunyi.
"Benar-benar hangus terbakar." Friska memperhatikan sekelilingnya.
"Iya, yang paling terpenting kita berhasil selamat." jawab Qin.
Helikopter melaju dengan kekuatan sedang, di atas ketinggian udara. Anyi merasa takjub, melihat pemandangan pohon-pohon yang semakin mengecil.
"Indah iya, kalau dipandang dari atas." Friska terkagum-kagum.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum!" ucap Qin, sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumus'salam." jawab Karina.
Karina membukakan pintu, lalu tersenyum lega. Dia bersyukur Qin kembali dengan selamat, kedua tangannya tidak tahan untuk tidak memeluk. Bau amis tercium dari tubuh Qin, yang berlumuran banyak darah.
__ADS_1
"Qin, kamu kenapa?" tanya Karina.
"Aku tidak sengaja tertembak Ma." jawab Qin.
"Iya sudah, sekarang juga kita pergi ke rumah sakit." Karina khawatir dengan keadaan Qin.
"Iya Ma, aku membersihkan darah yang menempel di anggota tubuhku. Lalu setelah itu, aku akan pergi." jawab Qin.
"Qin, aku ikut iya. Aku ingin menemani kamu periksa." pinta Fredy.
"Iya boleh, tunggu sebentar." Qin masuk ke dalam rumah.
Fredy juga dipersilakan masuk, dan duduk di kursi sofa. Karina membuatkan minuman teh hangat, untuk mengusir rasa kantuk yang melanda. Anyi, Friska, Limuq, dan Tiger sudah diantar ke rumah masing-masing.
Di rumah sakit, dokter menggunakan alat-alat operasi. Peluru berhasil dikeluarkan dengan perlahan, setelah Qin diberi obat bius. Karina sedih mendengar cerita Fredy, tentang Arina yang sudah tidak kembali bersama Qin. Padahal dia berharap, putrinya akan kembali dengan hidup. Namun harapan itu musnah, kenyataannya Arina hanya tinggal nama.
"Sabar iya Tante, semoga dengan musibah ini menjadikan hati kalian kuat." Doa Fredy dengan tulus.
"Aamiin, terima kasih iya Fredy." jawab Karina.
Qin keluar dari ruangan, setelah beberapa saat berada di dalam. Dia berjalan gontai, dibantu oleh seorang suster.
__ADS_1
”Ini benar-benar menyiksa, tapi aku harus bertahan. Aaww... perih sekali.” batin Qin.