
Dosen kampus Next Up mengadakan rapat di kantor, mereka membahas tentang mahasiswa yang tidak hadir. Ada yang menopang dagu, ada yang memegang pena, ada yang selalu memegang kemoceng agaknya pembersih. Ada yang menahan dagu dengan kedua telapak tangan, lebih fokus dari yang lain. Wajar saja, karena dosen ini adalah wali kelas mereka.
"Qin, Friska dan Fredy tidak izin lagi, menghilang ntah kemana."
"Kalau Qin mungkin saja sibuk, dia ada urusan di perusahaan. Apalagi sekarang jadi duta merek, sejak dia memecahkan kasus pembunuhan terlicik sepanjang sejarah."
"Tetap saja, Qin tidak bisa seenaknya. Ini kampus, dia harus mengerjakan proposal."
"Jangan marah-marah Bu, tinggal kurangi saja nilai mereka."
"Aku terima saran kalian, namun masih perlu dipertimbangkan. Jika mereka rajin lagi, aku tidak akan perhitungan."
"Memang dosen bijak selalu jadi teladan yang baik." Memuji wali kelas Qin.
Bos Rudal dan Timon mengelilingi kebun mangga, namun tidak menemukan tanda-tanda manusia. Qin, Fredy dan Limuq bersembunyi di balik pohon. Mereka memilih mengitarinya, saat para musuh melihat.
"Please, jangan sampai ketahuan." Limuq panik, saat bos Rudal berhenti lama.
Timon ikut menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku sangat heran, apa benar mereka meninggalkan teman-temannya." jawab bos Rudal.
"Tidak mungkin, mungkin saja ada dekat sini." ucap Timon.
"Iya sudah, kita kelilingi saja lorong pohon mangga ini." Bos Rudal terbesit pikiran untuk melakukan hal tersebut.
Fredy hati-hati dalam melangkah, takut akan mengeluarkan suara. Mereka pasti akan curiga, dan membunuh hidup-hidup. Beruntung bekas lukanya sudah sedikit mengering, meski sekarang masih harus menggunakan perban.
”Aku harus mengalihkan mereka, yang hendak berjalan ke arah Qin.” batin Fredy berbicara.
Fredy melemparkan ranting besar, ke arah lain. Timon dan bos Rudal menghentikan langkahnya, beralih mencari sumber suara. Qin menghela nafas lega, karena sebelumnya mereka sudah mendekat ke belakang pohon.
"Iya, tunggu keadaan aman." Qin berbicara pelan, sambil menunjuk arah hamparan kosong udara.
Setelah dirasa cukup aman, Qin dan Fredy keluar dari persembunyian. Limuq juga ikut keluar, saat melihat kode dari Fredy. Bos Rudal mengejar mereka, saat mendengar bunyi ranting diinjak. Timon mengikuti ayahnya mengejar mereka, sembari melemparkan tombak.
"Limuq mengelak." Qin berteriak.
Limuq menoleh ke belakang, ada tombak yang hendak menghampiri. Limuq segera menunduk, hingga tombak menusuk batang pohon besar.
__ADS_1
"Cepat cari persembunyian." ajak Fredy.
"Selain rumah, aku bingung mencari persembunyian aman. Di sini hanya ada kebun mangga, yang luasnya berhektar-hektar." jawab Qin.
"Please, kita memanjat pohon saja." Fredy mengusulkan idenya.
"Aku setuju dengan ucapan Fredy, setidaknya masih ada harapan tidak tertangkap." timpal Limuq.
"Iya sudah, ayo cepat bergegas." ajak Qin.
Limuq membantu Fredy memanjat pohon, karena dia masih kesakitan. Namun beruntung, lukanya sudah lumayan mengering. Jadi, darah tidak menetes terus menerus. Bos Rudal dan Timon tepat berada di bawah pohon, Qin menutup mulutnya agar nafasnya pun tidak terdengar.
”Ya Allah, lindungi aku. Sungguh mengerikan mafia ini, melakukan kriminalitas dalam bisnisnya.” batin Qin.
"Kok cepat menghilang iya Ayah?" tanya Timon.
"Aku yakin mereka bersembunyi di antara batang pohon-pohon. Lihatlah, tadi mereka muncul dari tempat yang tidak diperiksa." jawab bos Rudal.
"Sekarang juga kita cari." Timon segera berlari.
__ADS_1
"Berpencar saja." jawabnya.