
Memulai membuka pembicaraan, untuk sebuah diskusi yang menegangkan.
"Aku rasanya ingin membawa kalian keluar saja. Tapi aku juga ingin, menemukan Kakak. Aku sudah berjanji pada Mama, bahwa akan membawa kabar tentang menghilangnya Kakak." ujar Qin.
"Iya sudah, sekarang kita cari tempat peristirahatan yang aman." Fredy mengawasi sekitar, dengan kedua bola matanya.
Qin mengikuti jejak langkah kaki Fredy, dengan berjalan santai. Lagipula, sudah tidak ada lagi yang mengejar mereka. Akhirnya mereka bertemu sebuah tempat, yang bisa dijadikan tempat tinggal sementara. Sebuah pondok kecil, yang hanya terbuat dari bambu.
"Kita istirahat di sana saja yuk!" ajak Fredy.
"Iya Fredy." jawab Qin.
Qin beristirahat bersama Fredy, untuk melewati waktu malam sekali lagi. Peluh sudah bercucuran dari dahi, waktunya untuk Qin beristirahat.
Krukuk!
"Qin, perut kamu berbunyi." ujar Fredy.
"Tidak apa-apa, nanti juga baikan kok." jawab Qin.
"Itu bukanlah luka, yang bisa membaik sendiri. Kamu harus makan, karena perut kamu butuh diisi." ucap Fredy.
"Disaat seperti ini, apa yang bisa dimakan. Bekal dalam tas kita juga, tidak tahu kemana." jawab Qin.
__ADS_1
Fredy menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum ke arah Qin. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga ucapan perempuan itu pikirnya.
"Ada benarnya yang kamu ucapkan, tidak ada pembekalan sama sekali. Memangnya apa yang bisa dimakan." ujar Fredy.
"Iya baguslah kalau kamu tahu." jawab Qin.
Malam-malam panjang telah berlalu, akhirnya dapat mereka lalui. Meskipun cacing-cacing masih sibuk berdemo, hingga pagi telah tiba. Qin menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri. Sebuah cahaya mengenai sudut matanya, dari celah dinding bambu yang bolong.
"Fredy bangun, sepertinya ada yang mendekat ke arah sini." Qin sibuk menggoyangkan tubuh Fredy.
Fredy segera tersadar dari tidur panjangnya. "Ada apa, pagi-pagi kok sibuk."
"Meskipun ini masih gelap, namun sebentar lagi adzan subuh." ujar Qin.
"Sudahlah jangan banyak bicara, cukup lihat cahaya itu." Qin menunjuk celah lubang.
"Sepertinya, akan ada orang yang ke sini." jawab Fredy.
"Itu yang aku takutkan, siapa lagi bila bukan mafia itu." ujar Qin.
"Iya sudah, ayo kita sembunyi." ajak Fredy.
Qin menunjuk jendela bambu, supaya mereka keluar lewat jendela. Fredy membuka jendela, lalu mereka melompat. Pria-pria mafia itu memeriksa pondok bambu tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada siapa-siapa di sini."
"Di mana iya mereka sembunyi?"
"Kita harus tangkap semuanya."
"Mustahil mereka bisa tidak tidur."
"Mungkin saja tidur sebentar, di balik pohon-pohon yang rindang."
"Iya, jaga bergilir juga dapat dilakukan."
Qin dan Fredy dapat mendengarkan perbincangan mereka. Namun tidak mau ambil resiko, dengan cara menampakkan batang hidung. Jangankan wujud diri, nafas pun ditutup oleh tangan masing-masing.
Anyi dan Limuq terjebak di dalam lingkungan yang tidak jelas. Dari tadi mereka tidak menemukan jalan keluar. Gara-gara tidak sengaja menginjak lantai, dan masuk ke dalam adukan lumpur.
"Gawat Limuq, apa yang harus kita lakukan." bisik Anyi.
"Tidak tahu, sebaiknya cari cara untuk kabur. Aku sudah tidak tahan, dalam kondisi seperti ini." jawab Limuq.
"Tapi Qin belum menemukan Kakaknya." ujar Anyi.
"Biarkan saja, aku tidak akan peduli lagi. Kakaknya itu sudah lama menghilang, pasti sekarang tinggal tulang belulang." jawab Limuq.
__ADS_1