
Mereka segera berlari, karena mendengar derap langkah kaki. Sementara Fernan, Friska, dan Debby bersembunyi. Debby yang berada dalam peti kayu, merasa sangat deg-degan. Suara langkah kaki mendekati ruangan, lalu pedang menusuk-nusuk peti. Debby dan Fernan bersembunyi dalam drum, dengan menutup mulut masing-masing.
"Kak, bagaimana bila Kak Debby ketahuan." bisik Fernan.
"Kamu jangan keluar, kita gak akan sanggup melawan mereka." jawab Friska.
"Iya, semoga saja tidak ketahuan." ucap Fernan.
"Aamiin." jawabnya.
Para pekerja seragam lengkap itu, masih memperhatikan dengan waspada. Mereka celingak-celinguk, melihat pemandangan sekitar.
"Kenapa tidak ada tanda-tanda, bahwa mereka bersembunyi di sini." ujarnya.
"Periksa semua tempat, jangan biarkan mereka lolos." jawabnya.
Mereka memeriksa semua tempat, sedangkan Debby masih diam saja. Satu orang pria begitu betah, menusuk-nusuk kayu lapuk hingga retak. Dia suka bermain santai, karena itu hal yang dia sukai. Kali ini dia menancapkan pedang dengan sangat dalam, tidak seperti yang sebelumnya tadi.
"Arhhg..." Debby merasakan pedang yang menancap.
Pria itu terkejut, tatkala melihat pedang yang berdarah. Dia segera memanggil teman-temannya, untuk membantunya membuka peti kayu.
__ADS_1
”Aku pasrah, bila ini akhir hidupku. Bagaimana pun juga, aku tidak bisa lari lagi. Aku sudah terluka parah, selamat tinggal semuanya.” batin Debby.
Peti terbuka dengan cepat, karena mereka beramai-ramai. Friska mengajak Fernan, keluar dari persembunyian secara diam-diam. Friska membuka pintu diam-diam, saat fokus mereka terarah pada peti. Debby mati dengan mengenaskan, karena dikeroyok oleh pedang.
"Kak, aku kasian pada Kak Debby." Fernan menangis.
"Adik kecil, kita tidak bisa berbuat lebih banyak lagi. Bila kita tidak keluar ruangan, mereka akan mengetahui keberadaan kita." Friska masih menarik tangannya.
Sisil dan Tiger mengira Revano masih hidup. Makanya mereka masuk ke dalam gedung markas. Mumpung, jumlah para pekerja taman hiburan dan wisata berkurang. Jadi, mereka lebih mudah masuk ke dalam.
"Kita harus segera mencari Revano." ujar Sisil.
"Ada orang mendekat, ayo segera sembunyi." Tiger menarik tangannya.
"Eh, kamu dengar tidak bahwa ada suara?" tanya pria gondrong.
"Bisa saja kamu salah pendengaran, aku hanya mendengar suaramu saja." jawab pria botak.
Mereka segera melangkahkan kakinya, menjauhi tempat persembunyian Tiger dan Sisil. Saat Tiger dan Sisil masuk ke sebuah ruangan, tidak sengaja bertemu Friska dan Fernan.
"Friska, kamu baik-baik saja." ujar Tiger.
__ADS_1
"Iya, syukurlah aku selamat dari rintangan seram. Tadi aku sempat bertemu Debby, namun hanya sebentar." jawab Friska bersedih.
"Lalu kemana Debby?" tanya Sisil.
"Dia dibunuh oleh pria berseragam hitam itu." jawab Friska.
"Lalu, dimana Qin dan Fredy?" tanya Tiger.
"Aku gak tahu mereka dimana, kami terpisah saat melawan bos Joy." jawab Friska.
"Lalu, dimana Revano?" tanya Sisil.
"Aku belum bertemu dengan dia." jawab Friska.
"Ini anak siapa?" tanya Tiger.
"Iya anak oranglah, gak mungkin anak aku." jawab Friska.
"Memangnya kamu bukan orang." canda Tiger.
"Aku bukan orang, tapi manusia." canda Friska.
__ADS_1
Krek!
Mereka segera berlari, saat mendengar pintu akan dibuka. Ada yang memanjat di langit-langit kamar, ada yang bersembunyi di bawah ranjang tidur. Ada juga yang di dalam lemari pakaian.