
Friska berhasil bertemu polisi, yang sedang minum kopi di kantor post. Friska terburu-buru menghampiri, langsung memutar rekaman tanpa aba-aba. Dari tadi polisi bingung dengan tindakannya, yang meminta tolong sambil terburu-buru.
"Ada orang-orang jahat berkeliaran, dia telah bersekongkol membunuh teman-temanku." Friska mengadukan, hal yang membuatnya resah.
"Biar aku hubungi komandan, agar membantu kamu dan teman-temanmu." Baru saja ingin menelepon, tiba-tiba dikejutkan suara.
Duar!
Sebuah peluru menembak kaca post hingga pecah. Friska menjadi panik, dia segera merebut telepon polisi. Dia berbicara dengan mengebut, laporannya tidak terdengar jelas. Disuruh datang langsung ke kantor polisi, membuatnya semakin geram. Situasi darurat, malah dibuat bertele-tele.
”Aku harus kabur, sebelum mereka menangkap ku." Friska berbicara lirih, masih membuntuti langkah polisi tersebut.
Duar!
Polisi itu kalah bertarung, dia tertembak dan tewas. Friska segera mengambil pistol, yang ada di dalam kantong celana polisi. Dia berlari tidak tentu arah, yang terpenting mencari kendaraan untuk menumpang. Pikirannya harus menjauhi bahaya, sampai di kantor polisi terdekat.
__ADS_1
Memasang Cctv di perusahaan telah dilakukan diam-diam oleh Arka dan Karina. Mereka sengaja menawarkan bantuan subsidi keamanan gratis, dan Jenny berkacak pinggang menatap dua orang tersebut.
"Terima kasih tuan Arka, atas kebaikan hati perusahaan kalian." ucap bos Rudal.
"Kami melakukan ini karena putri kami menghilang, namun sekaligus rasa empati terhadap sosial. Miris sekali, karyawan dan karyawati di perusahaan ini selalu berganti setiap saat." jelas Arka.
"Kami sebisa mungkin akan mencari putri kalian." ucap bos Rudal, memperlihatkan raut wajah turut prihatin.
"Baiklah, kami permisi dulu." Karina menyudahi bincang-bincang, dengan cara berpamitan untuk pergi.
"Tidak bisa menyalahkan aku, kamu yang terlalu sibuk mengurus pekerjaan." ujar Karina.
"Eh, aku ini mencari nafkah demi kita." jawab Arka.
"Memang kewajiban laki-laki, tidak perlu menggunakan kata kita." Karina menyudutkan suaminya.
__ADS_1
"Eh, kamu ini aneh sayang. Bagaimana mungkin, kehilangan anak menyalahkan suamimu." Arka merasa frustasi.
Fredy telah berhasil membolongi langit-langit ruangan, sekarang berjalan gontai ingin segera menemui Qin. Dia merasa khawatir, bila saja Qin tidak tertolong. Melihat wajahnya yang semakin pucat, serta tenaga yang mulai menyusut, menandakan asupan suplai darah tidak berjalan lancar.
"Fredy, kamu akhirnya kembali." ucap Qin.
"Aku pasti kembali, tidak tega meninggalkan calon istriku sendiri." jawab Fredy.
Fredy menuntun Qin dan perjalanan mereka terasa lamban. Akhirnya Fredy menyuruh Qin naik ke punggungnya saja, meski terowongan itu begitu sempit.
"Apa kamu yakin, aku tidak akan mempersempit gerakan jalanmu?" tanya Qin.
"Tidak akan, cepatlah naik. Waktu kita tidak banyak, ini juga darurat." Fredy menggesa-gesa, karena waktu mereka juga terbatas.
Qin secepat mungkin naik, dan perjalanan dimulai dengan merangkak. Seperti balita yang mulai berjalan saja, tidak tahu caranya berdiri dengan benar. Ruangan itu begitu sempit, seperti masuk ke dalam lubang tikus. Ingin bernafas lega saja, terasa begitu banyak himpitan. Fredy mengangkat tubuh Qin, saat sudah sampai pada langit-langit yang dibolongi. Qin meraih besi dan berpegangan erat, tangannya bertumpu kuat-kuat. Kakinya berhasil naik ke permukaan atas terowongan.
__ADS_1