Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Sembunyi Di Dapur


__ADS_3

Joy melaporkan beberapa orang yang berhasil melarikan diri. "Kita harus cepat mencari mereka, sebelum berhasil keluar."


"Hahah... rumah ini selalu berubah bentuk ruangan. Mungkin harapan mereka untuk keluar, seperti butir debu."


Anyi, Limuq, dan Lucky menutup ember, supaya tidak ketahuan oleh kelompok mafia tersebut. Tidak ada pergerakan pada awalnya, sampai ada beberapa orang masuk.


Bos Rudal memukul-mukul tombak di ember, mengejutkan Anyi yang bersembunyi. Kali ini tombak beralih ke ember satunya, tempat di mana Limuq bersembunyi.


Anyi menutup mulutnya sendiri, berbicara dalam batin penuh kekhawatiran. ”Selamatkan aku dari kejaran mereka. Please, aku mohon Tuhan.”


"Apa jangan-jangan mereka bersembunyi tidak jauh dari sekitar sini." ujar Joy.


"Mungkin saja mereka sembunyi ke tempat yang lebih aman, tapi tidak tahu juga di mana." jawab Timon.


Bos Rudal mengangkat penutup ember, baru saja bergerak setengah sudah dihentikan Joy. "Paman, lebih baik kita cari tempat lain lagi. Aku rasa, dalam keadaan terluka juga tidak bisa lolos."


"Kamu tidak tahu saja, Qin Syatum itu detektif pintar. Dia sengaja menyembunyikan identitasnya, untuk mengepung perusahaan Kharuga. Jikalau tidak karena tindakannya yang berani, sampai sekarang tidak akan terpecahkan sejarah pembunuhan lama. Dia berhasil menguak informasi, ketika memasuki kereta tengah malam." jawab bos Rudal.

__ADS_1


"Ini namanya melampaui batas, tidak bisa diberi ampun. Orang yang tidak bersalah saja kita bunuh, apalagi orang yang telah membuat kerugian besar." ujar Timon.


"Nah benar, ini tugasmu menarik Qin perlahan. Berpura-pura baik padanya, sudah cukup bagus." Bos Rudal mengusulkan idenya.


Mereka pergi dari ruangan tersebut, menuju ruangan lainnya. Sementara di sisi lain juga, Qin masih tertatih-tatih bersama Fredy. Dia ingin menyelematkan diri lebih cepat, namun membiarkan Fredy terluka sendirian tidak adil. Qin harus sabar untuk memperlambat waktunya, yang terpenting selamat bersama.


"Qin, sebaiknya kamu tinggalkan aku." pinta Fredy.


"Tidak, saat di kereta kamu tetap membantuku. Tidak peduli aku terluka ataupun baik-baik saja, kamu tetap bersamaku hingga membawa keluar dari kegelapan." jawab Qin.


"Qin, laki-laki memang ditugaskan untuk melindungi perempuannya." ujar Fredy.


Ting!


Ting!


Terdengar suara besi dipukul, bagaikan lonceng sekolah berbunyi. Qin merasa cemas, karena mengira mereka disekitar sini.

__ADS_1


"Fredy, ayo cepat kita sembunyi." ajak Qin.


"Iya Qin, aku takut mereka mengetahui keberadaan kita." jawab Fredy.


Fredy Dan Qin berjalan ke sebuah dapur, sama-sama bingung adakah tempat untuk bersembunyi. Qin dan Fredy melihat ke sekeliling, hanya ada meja gas.


"Bagaimana bila kita bersembunyi di bawah sana." Qin menunjuk kolong gas.


"Boleh, tapi harus berpencar. Kalau sembunyi di sana semua sangat sempit. Itu membuat kita rentan ketahuan." jawab Fredy.


Qin menyuruh Fredy sembunyi di belakang rak piring, yang punggungnya rapat ditutup alumunium. Sedangkan Qin bersembunyi juga, pada tempat pilihan pertama tadi.


"Eh, lihatlah ada bekas darah menetes ke arah dapur." Bos Rudal menunjuk lantai.


Timon dan Joy tertawa lantang, membuat Qin dan Fredy merasa ngeri. Timon dan Joy menyatukan telapak tangan di atas udara.


"Horee, kita berdua menang." ujar Joy.

__ADS_1


"Belum dikatakan menang, kalau mereka belum ditangkap." jawab Timon.


Mereka bertiga melangkahkan kaki masuk, ke dalam dapur. Joy dan Timon berangkulan pundak, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan sekitar.


__ADS_2