
Suara dinding seperti dipukul alat pendongkrak, memaksa agar roboh dan merugikan para manusia di dalamnya. Fredy merasa Qin perlu menyelesaikan tugas di rumah, daripada tidak nyaman di kantor.
"Qin, salin semua file yang belum selesai. Nanti kamu lanjut di rumah saja, yang paling terpenting kita kabur." Fredy mengusulkan idenya.
"Tapi, ada berkas dari perusahaan yang tidak boleh dibawa pulang." jawab Qin.
"Kalau sampai terlambat, tidak tahu lagi menyelamatkan diri. Sudahlah, jika ada apa-apa biar aku bantu atasi." Fredy tergesa-gesa, dengan suara berisik di luar.
"Aku tidak mau melibatkan kamu, ini termasuk caramu melindungi ku. Biar aku saja, yang menerima konsekuensinya." jawab Qin.
Qin dan Fredy membuka pintu ruangan dengan hati-hati, berjalan pelan-pelan ketika melihat tidak ada bahaya. Melangkah cepat menyembunyikan tubuh, ketika kelompok pisau kecil melayang bebas di udara.
"Mereka seperti mau menyerbu kamu. Apa karena bukti rekaman, yang berhasil diserahkan ke kantor polisi?" tanya Fredy.
"Iya bisa jadi, mereka utusan dari orang yang memiliki kereta pembantaian." jawab Qin, membenarkan hal yang dipertanyakan.
__ADS_1
Qin membuka tasnya yang sudah banyak barang-barang penting. Dia menekan tombol rahasia pada boneka bunglon, lalu keluarlah banyak kunci. Fredy heran, dari matanya penuh tanya. Sebenarnya boneka apa itu, begitulah kira-kira hatinya berbicara.
Suara tembakan peluru terus menghancurkan tembok, tempat di mana mereka bersembunyi. Lama-lama tiang tembok semakin terkikis pertahanannya.
"Mereka sengaja bukan menggunakan pistol biasa. Pistol ini jika terkena kita, mungkin dibawa ke rumah sakit pun belum tentu dapat tertolong." ujar Qin.
"Dari cara mereka menggebrak pintu ruangan, tampaknya bukan penjahat sekadar lewat. Pasti dia benar-benar menginginkan nyawamu." terang Fredy, dengan detail. "Kita harus pergi dengan cepat, sebelum tiang tembok ini roboh."
"Aku punya ide, kita selamatkan diri dengan kunci boneka bunglon." Qin mencoblos lubang dinding dengan kunci, lalu tembok bergeser ke arah kanan.
"Bagaimana kamu bisa tahu fungsinya?" Fredy ingin tahu.
"Aku bertanya pada pelatih, di tempat kursus detektif. Dia tahu hal ini, berkaitan dengan pintu rahasia. Caranya tinggal ditekan saja tombol, yang tersembunyi di telinga bunglon." jelas Qin, dengan sejelas-jelasnya.
"Lalu, kita akan berjalan kemana lagi?" tanya Fredy.
__ADS_1
"Untuk sementara bersembunyi di dalam sini. Kita tidak ada pilihan lain." jawab Qin.
Saat para penjahat mendekat ke arah tiang tembok, ternyata Qin dan Fredy sudah tidak ada. Mereka menendang kaki ke udara, merasa gagal untuk membunuh Qin hidup-hidup.
"Sial, mereka berhasil kabur begitu saja."
Keesokan harinya, bos Rudal marah-marah pada semua orang. Ini terkait dengan kebocoran informasi, yang diketahui oleh perusahaan saingan.
"Siapa yang membongkar rahasia perusahaan, mengaku saja bila menjadi mata-mata." ujar bos Rudal.
"Lebih baik periksa Cctv, tidak akan ada yang mau mengaku juga." Jenny mempersilakan bos Rudal, masuk ke ruangan Cctv.
"Lihatlah, dalam rekaman Cctv terlihat Qin membawa map berwarna biru. Padahal, map itu khusus rencana strategi pemasaran perusahaan. Itu 'kan dokumen rahasia, mengapa beraninya Qin bawa pulang." Jenny menyudutkan Qin, di ruang introgasi.
"Aku waktu itu sampai pingsan, karena sakit mulai kambuh. Beruntung Fredy cepat menolongku, dia adalah saksinya. Meski aku membawa pulang berkas penting, bukan berarti aku mata-mata perusahaan." Qin menjawab dengan berani.
__ADS_1