Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Lampu Otomatis Alam Bebas


__ADS_3

Sayup-sayup dari kejauhan, terlihat sebuah rumah batu yang tak berpenghuni. Banyak sekali daun-daun merambat disekitar lubang udara. Ditambah rumput-rumput liar yang tidak pernah dibersihkan di halaman. Semakin menambah seram pemandangan, semakin menambah kesan mistis di dalamnya. Dinding batu yang sudah banyak keretakan. Lantai-lantai keramik juga banyak yang bolong.


"Lebih baik kita istirahat di sana yuk." ajak Qin.


"Hih, tampaknya angker sekali rumah itu. Nanti ada setan, aku takut." jawab Anyi.


"Sudahlah, jangan ditakuti. Sebenarnya setan itu tidak memperlihatkan wujudnya, melainkan dari pemikiran manusia itu sendiri." sahut Friska.


"Nah, dengar 'kan kamu." timpal Limuq.


"Iya sudah, nanti kalau ada yang kesurupan aku tidak tanggungjawab." Anyi mencari posisi aman.


Kaki mereka kompakan sampai ke rumah tersebut. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati, karena tempat itu memang banyak jebakan. Fredy membuka pintu terlebih dulu, lalu semuanya duduk di dalam.


"Sekarang kita tidur yuk!" ajak Limuq.

__ADS_1


"Iya, ini sudah malam." jawab Fredy.


Hanya terdengar suara kodok yang nyaring, menemani perjalanan tidur mereka yang terbang ke alam mimpi. Friska membangunkan Qin yang sedang tidur begitu nyenyak. Fredy pun sudah bangun lebih dulu, sengaja membuat perapian untuk merebus air hangat.


"Friska, kamu minum air hangat supaya tubuhmu agak membaik." ucap Fredy.


"Iya Fredy, maaf merepotkan." Friska tersenyum tulus.


Qin melihat perhatian Fredy, yang ditunjukkan dengan terang-terangan. ”Eh, apa diam-diam dia suka Friska.” seraya bergumam dalam batin.


"Ini kenapa hitam semua suasananya, aku tidak bisa melihat dengan jelas." ucap Qin.


"Iya, aku juga tidak bisa melihat. Tampaknya ini ada cahaya gelap yang sengaja menyinari hutan." jelas Fredy.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu." Qin mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk sendiri.

__ADS_1


Fredy menunjuk sebuah pohon besar di ujung padang luas."Melihat cahaya di sana tidak teratur, menandakan sinar ini tidak alami. Seperti sengaja dibuat-buat, kita harus berhati-hati."


Qin memasukkan tangannya di kantong, lalu berjalan masuk ke dalam. Qin memberitahu yang lain, tentang cahaya hitam yang sengaja dibuat-buat. Anyi yang paling panik duluan, memeluk Limuq tanpa aba-aba. Hampir ambruk saja, karena Limuq merasa kaget.


"Jangan-jangan para mafia itu mengejar kita lagi." ucap Anyi.


"Nah, tampaknya begitu si." jawab Qin.


Anyi menutup kedua bola matanya dengan tangan, sambil terus bergeleng-geleng kepala. "Aku tidak mau ditangkap." Anyi histeris, lalu setelahnya sibuk bertepuk tangan. "Bagaimana kalau nasib kita berakhir sama seperti teman kita yang sudah mati." Berhasil membenamkan bangkai nyamuk di dalam telapak tangannya.


"Jangan berpikir terlalu jauh, apa lagi tentang hal buruk. Berdoa saja, semoga kita dapat keluar dari sini." Qin mencairkan suasana tegang.


Markas bos Joy dibakar oleh para tentara, yang diduga tempat pasar ilegal beroperasi. Tembak terdengar di seluruh penjuru, memeriksa setiap ruangan yang sudah dikosongkan. Tampaknya Joy sudah kabur lebih dulu, sebelum kedatangan mereka. Lampu canggih otomatis yang dinyalakan di hutan, menjadi pusat perhatian para tentara.


"Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Qin."

__ADS_1


"Ayo, cepat selamatkan dia."


__ADS_2