
Karina mondar-mandir tidak jelas, membuat mata yang melihat risau. Dita mendekati anak menantunya, yang terus saja menatap pintu masuk. Tampak jelas sekali, apa yang ditunggu.
"Sejak kedatangan dua teman Qin, kamu jadi gelisah seperti ini." ungkap Dita.
"Bukan karena mereka, namun karena kabar yang dibawa tak sedap didengar." Karina bersandar pada tiang yang kokoh.
"Kamu bisa kerahkan pasukan keamanan Papa kamu. Bukankah kalian perusahaan yang selalu terbuka, memberikan pelayanan terbaik." Dita mengungkit perihal utama.
"Iya benar, namun kami hanya bergerak di bidang mencegah. Bukan berarti membuka jasa menjamin keselamatan." Karina berpangku tangan, masih berpikir tentang Qin.
Dita memaklumi hal tersebut, karena Karina baru mendengar kabar duka anak pertama. Tentu tidak ingin kehilangan Qin lagi, begitulah pikirnya.
Qin terkejut saat langit-langit kereta terbuka, menjatuhkan jari-jari tangan dan kaki manusia. Qin berteriak histeris, tatkala melihat serbuan secara dadakan.
"Ada apa Qin?" Fredy mendadak muncul.
"Ini kamu lihat." Qin menunjuk lantai.
"Kita harus cepat keluar dari sini, sebelum dibunuh hidup-hidup." ucap Fredy.
__ADS_1
"Iya Fredy, pecahkan saja kaca pintu kereta." Qin memperhatikan sekeliling.
Mereka berjalan ke ruangan demi ruangan, untuk mencari alat tercepat memecahkan kaca. Qin telah mendapatkan besi bulat besar, dan memukul pisau yang hendak melayang ke kepala Fredy.
Ting!
Bunyi kedua besi itu beradu, saat pisau terjatuh ke lantai. Pisau dari arah berlawanan menyerang mereka, dan tanpa sengaja tangan Qin tertusuk.
"Qin, darimana datangnya pisau tersebut?" tanya Fredy.
"Ntahlah, terbang saja melayang dari udara." jawab Qin.
"Kita harus saling mengawasi satu sama lain." ujar Fredy.
Fredy mencabut pisau di tangan Qin, lalu membuka kotak obat. Selesai diperban, malah dapat serangan menuju perutnya. Sebuah golok berhasil menembus, hingga mata Qin mengalirkan air.
"Ahhh... " Menjerit histeris, dengan darah bercucuran.
Fredy tidak sempat menyelamatkannya, masih menghalau pisau-pisau yang beterbangan. Terus saja menyerang Fredy tanpa ampun, namun berhasil mengelak dengan besi persegi. Fredy terus menutupi dirinya dengan alat tersebut.
__ADS_1
”Bagaimana ini, Qin terluka parah. Aku benar-benar tidak bisa menghubungi siapapun.” batin Fredy.
Tiger memperhatikan boneka bunglon, dan Friska juga mengamatinya. Mereka sudah sepakat, untuk membantu Qin dan Fredy.
"Ini dapat dari ruangan Kak Jenny?" tanya Friska.
"Iya, tapi bingung apa kegunaannya." jawab Tiger.
"Kita harus lapor polisi." Friska buru-buru mengambil langkah, karena tidak bisa memendam batin yang bergejolak.
"Bukti tidak ada, Qin hanya naik kereta. Itu tidak cukup untuk membuat laporan." Tiger mengacak rambut frustasi, mengusap tengkuknya yang tidak gerah.
Lantai tiba-tiba teraliri darah, dan mereka berdua terpeleset ke dalam sebuah lubang. Anehnya lagi sangat panjang merosotnya, seolah menempuh alam ghaib yang gelap. Fredy dan Qin terkejut, melihat di sekelilingnya banyak manusia mati.
"Qin, ini tempat apa?" Fredy bergidik ngeri, bulu kuduknya berdiri semua.
"Tidak tahu juga, yang jelas pembantaian para mayat." Qin melihat tubuh mereka yang tercecer ke sana-sini.
Usus-usus manusia menjadi satu di sebuah bak. Qin berkeringat dingin sendiri, saat melihat lampu ruangan berkedip-kedip.
__ADS_1
"Aku tebak, kita tidak di dalam kereta lagi." ujar Qin.
"Sudah, jangan pikirkan dulu. Utamakan cabut pisau mu, lalu bungkus lukamu dengan kain." jawab Fredy.