Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Ban Kempes


__ADS_3

Di tengah suasana makan enak, sambil menikmati saat kunyah mengunyah. Eh mereka berhenti sesaat, melihat bos Rudal yang mau buka suara.


"Kalian semua sedang menikmati hari libur, bagaimana bila ikut aku ke kebun buah." tawar bos Rudal.


"Buah apa?" tanya Qin.


"Buah mangga, segar sekali. Bebas bila ingin mencicipi, tidak perlu bayar. Kalian akan tahu rasanya makan buah dari batang langsung." ungkap bos Rudal.


"Aku mau saja, masih ada waktu." Friska yang menjawab, dengan bersemangat.


"Aku juga mau ikut dong." pinta Anyi.


"Boleh, tapi semuanya harus hati-hati. Aku takut kalian menghilang, karena tempatnya sangat luas. Banyak rumput ilalang, didekat perbatasan hutan." Bos Rudal mengingatnya dengan baik..


"Ini semacam tempat pariwisata?" tanya Qin lagi, masih ingin tahu.


"Bukan, ini lahan pribadi milikku khusus untuk mengembangkan tumbuhan." jawab bos Rudal.

__ADS_1


"Bagaimana Fredy, kamu mau ikut bos Rudal?" Qin menoleh ke arah orang yang ditanya.


Fredy menganggukkan kepalanya. "Hmmm... boleh saja, sudah merasa bosan juga. Kita perlu cuci mata, dengan banyak pemandangan yang hijau."


Setelah disepakati, semuanya setuju untuk ikut. Bos Rudal dan Timon yang memimpin di depan, sedangkan mobil Qin dan teman-temannya di belakang.


"Eh teman-teman, sekarang kok aku lumayan trauma iya, sejak kita kesulitan keluar dari pulau mafia." ungkap Limuq.


"Sama aku juga, namun tempat yang ramai tidaklah masalah." timpal Friska.


"Sebenarnya aku tidak trauma, karena detektif harus mempunyai banyak pengalaman. Menangani kasus memang selalu menemui resiko, aku tidak boleh berhenti karena takut." jelas Qin.


"Hati-hati, terlalu berani dapat memperpendek umurmu." ujar Limuq.


"Tidak apa-apa, usia juga telah ditentukan. Ada yang tidak pergi kemanapun, malaikat maut menghampirinya di rumah." Qin mempererat pegangannya, saat jalan berlubang ditempuh mobilnya.


Jalan berbelok-belok di lorong sempit, yang sekitarnya ditumbuhi dengan pohon besar. Jalan utama yang beraspal sudah dilewati sebelumnya, sekarang tinggal ke area perkebunan. Wajar saja bila jalan sangat sulit, karena minimnya perbaikan jalan.

__ADS_1


"Aduh, kenapa mobilnya tiba-tiba berhenti?" Anyi memegangi kepalanya yang terbentur kursi di depannya.


"Ntahlah, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba terasa berat, dan aku mengeremnya dadakan." jawab Fredy.


Qin dan teman-temannya turun dari mobil, lalu melihat ban kempes. Mana bengkel terdekat sulit dicari, terpaksa mereka tidak bisa kembali.


"Pulang nanti menumpang bos Rudal saja, besok kita ada kelas." ucap Friska.


"Lihat saja nanti, kalau mobilnya muat. Lucky dan Thardo saja sudah menumpang." jawab Qin.


Mereka terpaksa jalan kaki, dengan jarak kebun mangga yang tidak jauh. Thardo dan Lucky bertanya pada mereka, apa yang telah terjadi hingga jalan kaki. Fredy menjelaskannya, tanpa ada yang tertinggal.


"Jangan sedih, di sini ada penginapan." ujar bos Rudal.


"Kami harus pulang bos, besok masuk kuliah pagi." jawab Qin.


"Tenang Qin, aku sudah membawa banyak makanan. Kamu izin saja sama Ibu dosen, ujian juga masih Minggu depan." sahut Timon.

__ADS_1


"Baiklah, semoga saja ada montir yang cepat datang kemari." Qin mengirim pesan ke orang yang biasa menjadi langganannya, dalam jasa perbaikan kendaraan. Setelah melakukan hal utama, baru mengirim pesan ke dosen kampusnya.


__ADS_2