
Qin sebenarnya tidak ingin melukai kuda tersebut, namun hal itu terpaksa dia lakukan.
"Qin, sebaiknya kita pancing yang lainnya untuk mengejar kita. Biarlah Fredy di sini bersama Fernan, karena punggungnya terluka parah." ujar Friska.
"Baiklah, sampai jumpa kembali." Qin melambaikan tangan pada Fredy dan Fernan.
Mereka melanjutkan perjalanan, berlari dengan kencang. Beberapa orang masih mengejar mereka, dan melewatkan Fredy yang bersembunyi. Fredy segera merobek bajunya, lalu menutup luka Fernan.
"Kamu bertahan iya, kamu pasti bisa." ujar Fredy.
"Iya Kak, ini sakit sekali." jawab Fernan.
"Sabar iya Fernan, kita akan mencari cara supaya keluar dari sini." ucap Fredy.
"Iya Kak, aku yakin Kak Qin pasti bisa mengalahkannya." jawab Fernan.
”Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia terluka. Namun, aku juga tidak bisa selalu melindunginya. Sekarang saja kami terpisah, dan ini bukan untuk pertama kali.
"Hah, gawat di sana jurang." ujar Tiger.
__ADS_1
"Sabar, kita pancing mereka agar jatuh." jawab Qin.
Mafia itu semakin mendekat, dan hendak menerjang Qin, Friska dan Tiger dengan kuda. Qin dan Tiger mengelak, hingga beberapa mafia jatuh ke dalam jurang. Namun Friska malah bergantung pada akar pohon, karena dia tersenggol oleh badan kuda.
"Tolong!" Friska melihat tebing curam di bawahnya.
"Kamu tolong tenang iya, sampai aku menarik tubuhmu." jawab Tiger.
Tiger dan Qin menarik Friska, sampai berhasil ke atas permukaan.
"Qin, kita berhasil membuat mereka lenyap." Tiger melompat kegirangan.
Mereka bertiga kembali ke jalan, yang telah dilewati tadi. Di sana mereka melihat Fredy dan Fernan, yang masih bersembunyi di balik rumput ilalang.
"Banyak sekali darah yang keluar, dari punggung kamu Fernan." ujar Friska.
"Bagaimana iya cara mengobatinya, kita tidak ada membawa obat. Di sini juga, tidak ada rumah sakit." jawab Tiger.
"Kita cari tempat untuk beristirahat saja." ucap Fredy.
__ADS_1
"Iya, ayo segera pergi." jawab Qin.
Sementara di sisi lain, Joy sedang mengamuk. Dia melemparkan barang-barang, yang ada di gedung markasnya. Dia benar-benar marah, karena anak buahnya banyak yang tewas.
"Awas kalian semua, aku pasti akan membalas perbuatan kalian. Aku akan membuat kalian, tidak bisa keluar dari tempat ini. Kalian akan terus terkurung, tanpa bisa bebas dengan mudah." Joy berbicara dengan lantang.
Botak dan gondrong mencari orang-orang baru, yang mau bekerja di tempat tersebut. Sudah banyak dari kelompok mereka, yang berkurang jumlahnya. Friska, Qin, Fredy, Tiger, dan Fernan beristirahat pada gubuk tua. Dimana tempat itu, pernah menjadi peristirahatan Tiger dan Friska.
"Bagaimana, apa kita sudah jauh dari tempat tadi?" tanya Fernan.
"Sudah, sekarang aman kok." jawab Friska.
Matahari tertutup oleh awan, berganti menjadi malam gelap gulita. Tadi sore, mereka menikmati pemandangan senja. Qin membuka bungkus roti, lalu menyuapi Fernan si kecil.
"Kak, bila kau perhatian aku menjadi ingat pada Ibuku. Aku benar-benar merindukan dia, yang sama lembutnya seperti kamu. Namun dia bukanlah perempuan lemah, dia sangat tegas dan berwibawa." Fernan menjelaskan, sambil bersedih.
"Kamu jangan risau iya, kita pasti akan berhasil keluar." ujar Qin.
"Iya Kak, aku percaya itu." jawab Fernan.
__ADS_1
Mereka memejamkan mata secara serentak, setelah benar-benar terasa mengantuk. Mereka sengaja tidak menyalakan senter, biar tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Beristirahat dari perjalanan, yang benar-benar menguras tenaga.