Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bandit Lereng Gunung


__ADS_3

Qin bersantai memasukkan laptop ke dalam tas, dia berencana membuat tugas sambil masuk ke dalam hutan. Arka tampak bersiap-siap, dan tidak tahu akan kemana. Pagi baru saja tiba, dia seperti akan dinas kantor kembali.


"Papa, mau pulang iya?" tanya Qin.


"Iya Nak, lupa mengabari kamu. Sebenarnya, ada meeting mendadak." jawab Arka.


"Berjanjilah, bahwa Papa akan kembali ke sini." ujar Qin.


"Nak, janji itu mahal harganya. Kalau tidak ditepati, nanti jadi dosa." jawab Arka.


Qin mengerucutkan bibirnya, tidak tahu mengapa menjadi kekanak-kanakan. Rasanya hati berat untuk melepaskan kepergiannya kali ini.


"Papa punya kalung ini untukmu. Pakailah, sampai Papa kembali ke sini." Arka mengenakan kalung ke leher Qin.


"Papa, aku tidak bisa menerima kalung ini. Kalau pada akhirnya tidak kembali, aku tetap akan kehilangan." Qin menundukkan kepalanya, dengan raut wajah ditekuk sedih.


Karina merangkul pundak Qin. "Yakinlah, kalau Papa kamu baik-baik saja." Berusaha menenangkan putrinya.

__ADS_1


"Iya Ma." jawab Qin, akhirnya berusaha melepaskan papanya.


Karina membawa dua pengawal untuk menemani Qin, sedangkan pengawal yang lain berada di villa. Qin mendayung sepedanya, sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


"Nona Qin, aku kebelet pipis." ucap seorang pengawal, meminta izin.


"Iya sudah, silakan pergi." jawab Qin.


Satu pengawal mengikuti langkah kaki Qin, lalu di dalam perjalanan mereka memergoki sekumpulan laki-laki yang menganiaya satu orang. Qin melihat mereka memukul kepalanya menggunakan gagang besi. Di balik celah daun bambu, dia bisa melihat dengan jelas kejadian kriminal tersebut. Qin membuka menu kamera, dan memulai merekam aksi tersebut.


"Cepat kita pergi dari sini, sebelum mereka memergoki kita." Qin berbicara lirih pada pengawalnya.


"Cepat naik ke sepedaku, kalau kamu tidak mau tertangkap." titah Qin.


"Nona Qin, badanku ini besar. Tidak sampai separuh perjalanan, nanti nona pingsan." jawabnya jujur.


Duar!

__ADS_1


Duar!


Suara tembakan menembus celah daun-daun bambu, membuat pengawal itu langsung menginjakkan kakinya di besi sepeda. Tidak butuh waktu lama, Qin mendayung dengan cepat.


"Hei tunggu, jangan kabur kalian."


"Cepat kejar! Mereka pasti melihat kita membunuh anak kepala adat." teriak ketua bandit, yang memberi titah.


Krak!


Besi yang diinjak oleh pengawal gendut itu patah, dan membuatnya terjatuh ke bawah. Qin berhenti sejenak, menendang penyangga sepeda. Ada rasa tidak tega, bila meninggalkannya begitu saja. Qin membuka kunci layar ponsel, ternyata tidak ada sinyal di dalam hutan tersebut.


”Bagaimana aku mau menghubungi pengawal yang ada di villa. Aku butuh bantuan, jumlah mereka terlalu banyak.” batin Qin, mulai cemas.


Arka dalam perjalanan sengaja dihadang, sekelompok pria berjubah. Arka memundurkan mobilnya dengan cepat, sampai sebuah batu besar roboh di belakang mobilnya. Arka mengerem mendadak, lalu keluar dari mobil.


”Siapa mereka? Kenapa menghadang aku, di tempat sepi seperti ini. Pasti musuh-musuh Qin, dia sudah beberapa kali menumpas kejahatan.” batin Arka.

__ADS_1


Seorang pengawal keluar dari semak belukar, lalu menembak kelompok bandit dari belakang. Dia tidak tahu permasalahannya dari awal, namun melihat pistol disodorkan ke arah pengawal gendut.


"Kalian mulai hari ini musuhku, karena telah membunuh orang-orang ku." ujar ketua bandit.


__ADS_2