
Tanpa terasa hari kemarin berlalu, berganti dengan hari selanjutnya. Qin keluar dari dapur, membawa makanan ke ruang makan.
"Qin, ini kenapa berwarna hitam semua?" tanya Arka.
"Lupa untuk mengangkat dari kompor gas, akibatnya gosong deh." Qin tersenyum paksa.
"Qin, kamu harus masih melanjutkan kuliah sampai wisuda. Jangan mengurusi hal rumit, biar orangtua saja." ujar Arka, mengingatkannya.
"Iya Pa, tapi masalah Mama disekap adalah tanggungjawab bersama." Qin menekuk kepalanya.
"Kamu boleh membantu mencari, namun dilarang mencabut laporan di kantor polisi." ujar Arka.
"Iya Pa, tapi tidak janji. Aku hanya mempertahankan, selama aku bisa." jelas Qin.
Sudah sampai di kantor, setelah beberapa menit dalam perjalanan. Friska menyerahkan kunci boneka bunglon pada Qin, namun tiba-tiba direbut oleh Jenny.
"Ini barang perusahaan Kharuga, kalian mencuri iya?" tanya Jenny.
__ADS_1
"Siapa yang mencuri? Aku hanya meminjamnya dari almarhum Tiger." jawab Qin.
"Sama saja, kalian mencuri dari ruangan ku. Sebagai temannya, kalian berdua dihukum untuk lembur." titah Jenny.
"Tidak masalah, lagipula sudah terbiasa." jawab Qin.
Arka sedang berjalan-jalan, untuk mencari informasi dari kepala desa. Dia ingin bertanya dimana sebuah gedung lusuh, yang paling banyak tidak dihuni. Arka memiliki firasat, bahwa istrinya disembunyikan pada suatu tempat rahasia.
"Aku melihat, kemarin seorang perempuan diseret ke gudang kosong. Menyeramkan sekali!" ujar seorang anak kecil, berbicara dengan orang di sebelahnya.
"Aku ingin melaporkannya ke kantor polisi, tapi takut dibunuh mereka.
"Aku rasa, kita bisa meminta bantuan orang dewasa. Kalau kita tidak membantu dia, kasian dengan anak-anaknya." jawab temannya.
Arka segera mendekat ke arah mereka. "Di mana kalian melihat perempuan itu?"
"Di lorong sempit, yang sulit dilalui mobil." jawab anak kecil laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Bisa lebih jelaskan secara spesifik?" Arka ingin menyelidiki, apa itu istrinya atau bukan.
"Jalan saja dari sini, sampai ke arah perkebunan kelapa. Nanti akan ada gapura, lalu sebelah kanannya lorong sempit. Di sana sangat angker, jadi tidak ada yang berani. Sudah banyak kasus kejahatan, yang selalu tertangkap di tempat itu. Mulai dari mabuk-mabukan ilegal, sampai obat-obatan terlarang, judi, dan pembunuhan berencana." jelas anak kecil itu.
Jenny menghampiri Qin yang sedang sibuk bekerja. Dia ingin memberi tugas pada perempuan itu, agar bisa melenyapkannya secara diam-diam.
"Kamu masak di pantry sana, nanti sebentar lagi meeting dengan rekan kerja luar negeri." ujar Jenny.
"Baiklah, aku akan segera melaksanakannya." Qin pergi begitu saja, tanpa memasang ekspresi senyum.
Jenny menggunting kabel, lalu mulai mencolokkan ke lubang terminal listrik. Qin sedang asyik memasak sambil bershalawat, tiba-tiba air mengalir deras ke kakinya. Jenny yang sudah bersusah-payah menarik selang hingga ke arah pantry, sekarang memilih kabur dengan cepat.
"Tolong! Ada air banjir di ruangan pantry!" Qin berteriak, lalu segera naik ke atas meja besi.
Aliran kabel listrik mulai bercampur dengan air, beruntung Qin tidak disetrum. Qin menoleh ke arah pintu, dan terkejut melihat kabel listrik. Matanya menyipit dengan rasa curiga, bahwa ada yang sengaja melakukannya.
”Jangan-jangan, Kak Jenny yang sengaja ingin membunuhku. Jam berikutnya saat lembur, dia pasti tidak menyerah. Aku harus lebih hati-hati, dalam menghadapi rencana jahatnya.” batin Qin berbicara.
__ADS_1