Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Kereta Pembantaian Manusia


__ADS_3

Qin pulang sendirian, dan merasa seperti ada yang mengikuti. Tiba-tiba saja, ban motornya kempes. Tidak tahu kenapa, padahal tadi baik-baik saja. Qin sebenarnya tahu bahwa dia tidak sendiri, hanya sengaja memancing kejahatan mengincarnya.


"Aku naik kereta malam saja." Qin menyingkirkan motornya di pinggir jalan, lalu mengunci lubangnya dengan aman.


Bengkel, toko, atau usaha apapun sudah tutup. Malam itu benar-benar sepi, gerimis menjadi pelengkap suasana mencekam. Qin sudah berlatih sebelumnya, waktu mengikuti kursus detektif. Dia membawa bekal, tembak, beladiri, dan lain sebagainya.


Kereta yang dilihatnya dari kejauhan tadi sudah mendekat, sekarang berhenti dengan lampu yang berkedip-kedip. Menambah kesan horor pada kereta tersebut. Qin membaca kalimat basmalah terlebih dulu, sebelum akhirnya membuka pintu kereta.


Saat Qin memasuki kereta, tiba-tiba dia melihat Fredy masuk ke dalam juga. Dia lewat dari pintu yang berbeda dengan Qin. Rasa deg-degan muncul, saat melihat penumpang yang lain tidak bergeming. Mereka duduk tenang, tidak melakukan pergerakan.


”Apa mereka ini zombie, kok dari tadi aneh semua. Ah tidak mungkin, ini 'kan hanya ada dalam film. Ada apa iya, dengan semua penumpang di sini.” batin Qin.


Tiba-tiba saja, Fredy duduk di sebelah Qin. "Aku sengaja menemanimu."


"Kerjasama yang bagus, kamu berhasil memancing kejahatan mengepung." jawab Qin lirih.

__ADS_1


Sejak masuk kereta, Qin sengaja menyalakan rekaman suara. Dia sudah mempunyai firasat tidak enak. Tiba-tiba muncul, seseorang membawa sebuah nampan. Dia menyodorkannya ke arah Qin berkali-kali, karena Qin tidak melihat dari tadi.


"Ini minuman hangat, apa kalian mau?" tanyanya, dengan suara biasa saja.


"Iya, boleh. Kebetulan aku sedang haus." jawab Fredy.


Saat mengambil gelas, Fredy pura-pura tidak sengaja menjatuhkannya. Air tertumpah di mana-mana, dan terlihat ampas daging mentah berceceran.


"Apa itu?" Qin menunjuknya, namun berusaha tidak histeris.


Qin bergidik ngeri, lalu mengedipkan mata ke arah Fredy. Mereka berdua berlari terbirit-birit, lalu tangan meraih pintu kereta. Sayangnya, pintu itu tidak dapat dibuka. Keringat bercucuran dari tubuh mereka, karena terlalu panik.


"Maafkan aku Fredy, tidak seharusnya aku membawa kamu dalam bahaya." Qin merasa bersalah, untuk yang kedua kali.


"Tidak, ini bukan salahmu." jawab Fredy.

__ADS_1


"Kita harus sembunyi di mana?" tanya Qin.


"Kita kelilingi semua ruangan di kereta ini. Sangat tanggung, bila mendapatkan sedikit bukti pembunuhan." Fredy mengajak Qin, untuk mengikuti langkahnya.


Sesampainya di sebuah gudang kereta, Qin menutup mulutnya sambil geleng-geleng kepala. Dia berucap istighfar, sambil menangis histeris. Tidak tega melihat mayat-mayat itu, tidak sempat dikuburkan dengan layak. Malah sekarang dijadikan pajangan, tanpa ada yang tahu kabar mereka.


"Mereka benar-benar manusia keji, tidak bertanggungjawab, manusia berhati iblis." ujar Fredy.


"Kasian sekali Theno, aku turut prihatin." Qin melepaskan jam tangan Theno, setelah berhasil membidik para mayat, yang terbujur kaku tak berdaya.


Tiba-tiba saja lantai kereta bergerak sendiri, Qin dan Fredy berpegangan erat pada tubuh mayat. Sinyal di ponsel mereka bisa hilang, tidak ada walaupun hanya segaris.


"Apa kita ada harapan untuk keluar?" Fredy merasa gelisah, jelas manusiawi.


"Aku tidak bisa menjamin, insyaAllah kita baik-baik saja." jawab Qin, tidak memberi kepastian apapun.

__ADS_1


__ADS_2