My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Senang sekali hatiku


__ADS_3

“Terima kasih makanannya dok, Saya sangat suka.” Balas Tiyara dengan menggunakan emoji senyum senang.


“Tuan, Ini.” Ucap Derwin dengan menunjukkan balasan pesan dari Tiyara.


“Benarkah, Dia memang selalu menyukai masakanku.” Ucap Jasson dengan wajah senang dan gembiranya.


“Aku merindukan Jasson, Aku sangat merindukannya.” Guman Tiyara dengan mata yang berbinar menatap suasana malam itu.


“Hah, Senang sekali hatiku.” Ucap Jasson dengan nada senang dan berdiri dibalkon sambil tersenyum menatap langit malam.


“Ternyata apartemen yang tidak terlalu dikenal ini memiliki pemandangan yang sangat indah dimalam hari.” Ucap Jasson dengan bibir yang masih tersenyum lebar sambil menatap malam yang indah itu.


“Haiss kenapa susah sekali untukku menangis.” Umpat Tiyara dengan kesalnya dan berputar balik sehingga Jasson baru menyadarinya.


“Loh, Kenapa aku baru mengetahuinya, Ti……..” saat hendak memanggil istrinya sudah masuk kembali kedalam apartemen sehingga membuatnya tidak bisa menatap lama lama istrinya tersebut.


“Hais cepat sekali masuknya.” Kesal Jasson dengan wajah masamnya.


“Meskipun aku merindukannya dia sama sekali tidak merindukanku, Dia juga tidak menginginkanku sejak awal.” Ucap Tiyara dengan menutup jendela kamarnya.


“Aku harap aku dapat bertemu lagi dengannya.” Gumannya dengan wajah yang terlihat sangat berharap.


Keesokan paginya.


Drittttttt


Ponsel Tiyara berbunyi. Tangannya meraba raba ke meja sebelah tempat tidurnya dan mengangkat telpon entah dari siapa itu. “Halo.” Ucapnya dengan suara serak sebab baru bangun.


“Hey Zhara kau baru bangun? Bukankah saya ada mengatakan kepada mu agar kau bersiap hari ini untuk wawancara kerja.” Terdengar suara tegas dari sebrang sehingga membuat Tiyara melihat siapa yang menghubunginya.


Matanya langsung membulat melihat nama yang tertera disana. “Astaga aku melupakannya.” Ucapnya dengan nada rendah.


“Zhara, Apa kau mendengarnya.” Ucap orang itu dari sebrang telepon.

__ADS_1


“Iya pak, Saya sekarang akan kesana.” Jawab Tiyara.


Tut tut


Telpon langsung terputus sebab dimatikan dari seberang. Tiyara langsung bangkit dari kasurnya dan segera bersiap untuk menuju keperusahaan yang disebut oleh dosennya kemarin. “Astaga aku hampir telat.” Ucap Tiyara yang bergegas mengunci pintunya dan berusaha keras agar cepat sampai ke dekat lift.


“Mau kemana dia?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya sebab keluar bersamaan dengan Tiyara namun Tiyara tidak menyadarinya.


“Lama sekali.” Ucap Tiyara yang menunggu lift terbuka.


“Tunggu dia masuk terlabih dahulu.” Ucap Jasson menahan Derwin agar tidak menyusul bersama dengan Tiyara kedalam lift.


“Aku akan turun menggunakan tangga, Kau jangan mengikuti.” Ucap Jasson yang langsung berlari menuju ketangga darurat.


Jasson berlari cepat agar bisa menyusul wanita itu hingga keduanya bersamaan sampai dilantai bawah dan Tiyara langsung bergegas mendorong kursi rodanya untuk meninggalkan apartemen tersebut. Tiyara menghentikan kendaraan umum yang lewat dihadapannya dan setelah itu masuk kedalamnya.


“Cih.” Kesal Jasson saat dirinya lupa bahwa kunci mobil ada pada Derwin.


“Tuan.” Ucap Derwin yang berlari mengejarnya.


Jasson langsung masuk dan meninggalkan Derwin. “Tuan saya bagai……” ucapannya terpotong sebab merasa tidak ada gunanya jika berteriak.


“Astaga tuan, Nona itu ingin ke perusahaan anda.” Ucap Derwin dan menghubungi asistennya untuk mengantarkan mobil kepadanya.


“Jangan sampai aku kehilangan mobil yang ditumpanginga.” Ucap Jasson yang benar benar memperhatikan mobil yang dinaiki oleh Tiyara barusan.


“Akhirnya sampai.” Ucap Tiyara dengan wajah senangnya dan sopirpun membantunya untuk keluar dari mobil dan menaiki kursi rodanya.


“Eh, Ini bukannya?.” Ucap Jasson dengan wajah bingungnya saat menyadari bahwa itu adalah kantornya.


“Apa yang akan dia lakukan disini?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya. Jasson keluar dari mobil dan berjalan masuk perlahan.


Tiyara nampak bingung saat semua orang tersusun rapi namun dia tidak memperdulikannya. “Zhara kemari.” Ucap Pengurus yang mengurusnya masuk keperusahaan itu jalur prestasinya.

__ADS_1


Tiyara menuju kedekat orang itu dan orang itu membawa Tiyara menuju ruang HRD. Jasson sedari tadi mengikutinya tanpa memperdulikan siapapun yang memperhatikannya dan memberikan hormat kepadanya. “Tuan.” Derwin yang juga mengikutinya menahannya agar tidak mengikuti Tiyara sampai kedalam ruangan.


Jasson menatap kepadanya dengan tatapan bingung. “Lebih baik anda jangan mengikuti nona hingga kedalam, Sebab takutnya nona akan menolak untuk bekerja disini sebab mengetahui bahwa anda pemilik kantor ini.” Bisik Derwin yang membritahu tanpa sadar.


Jasson langsung menatap tajam kepadanya. “Ikuti aku.” Ucap Jasson dengan wajah kesalnya dan meninggalkan tempat itu untuk menuju keruangannya.


“Cih aku mengatakan semuanya.” Umpat Derwin yang baru sadar dan mengikuti Jasson meninggalkan tempat itu.


“Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku tentang Tiyara yang akan bekerja disini?.” Tanya Jasson dengan tatapan tajamnya dan duduk diatas kursinya.


“Maaf tuan, Sebab sebelumnya anda tidak peduli dengan siapapun yang akan interview diperusahaan ini.” Jawab Derwin dengan menundukkan sedikit kepalanya.


“Tapi…….”


“Hah, Tenanglah.” Gumannya yang mencoba profesional dan tidak memarahi Derwin.


“Berikan aku melihat cv nya.” Ucap Jasson.


“Sebentar tuan.” Jawab Derwin dan langsung meninggalkan Jasson untuk mengambil berkas milik Tiyara.


Hanya beberapa menit akhrinya Derwin kembali keruangan Jasson. “Ini tuan.” Ucap Derwin dengan menyodorkan berkas milik Tiyara tersebut.


“Zhang Yara, 1998, Dia benar benar memalsukan seluruhnya, Itu sebabnya aku kehilangan dirinya.” Guman Jasson saat melihat identitas tersebut.


Perlu waktu untuk Jasson membaca seluruh isi cv tersebut hingga dia menutupnya kembali. “Dia lulusan terbaik dari universitas terbaik, Manager keuangan dan pemasaran sedang kosong, Menurutmu dimana baiknya kita meletakkan posisinya?.” Tanya Jasson dengan wajah serius kepada Derwin.


“Menurut saya pribadi dan dilihat dari cv yang diajukan oleh nona, Lebih baik nona diletakkan dibagian keuangan, Selain memang karna kemampuannya sangat baik disana, Beliau sepertinya juga sedikit susah untuk turun kelapangan langsung jika menjadi manager pemasaran, Selain kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan kemampuan nona dibagian itu juga kurang tuan.” Jelas Derwin singkat.


Jasson terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Derwin barusan dan itu semua masuk akal. “Letakkan dia dibagian manager keuangan selama dua bulan setelah itu jadikan dia sebagai pribadiku.” Balas Jasson dan kembali menatap poto lamaran kerja wanitanya.


“Sebenarnya lebih bagus dan lebih baik jika dia menjadi asistenku, Namun jika aku terlalu gegabah takutnya dia akan semakin menjauh dariku.” Guman Jasson dengan mengusap poto tersebut.


“Buat surat perjanjian dan minta dia tanda tangan agar dia tidak dapat lari kemanapun.” Ucap Jasson lagi yang mengetahui seberapa nekatnya wanita itu.

__ADS_1


“Baik tuan.” Jawab Derwin mengiyakan perkataan Jasson.


“Pak, Bagaimana jika saya tidak diterima disini?.” Tanya Tiyara yang terlihat tidak yakin akan interview dan respons para pengujinya hari ini.


__ADS_2