
Dorrrrr
Dery menembak tepat tangan Ferdi. “Ah.” Teriak lelaki paruh baya sehingga pistol terpental dari tanganny.
“Berhenti.” Polisi datang sehingga membuat Ferdi yang hendak menembak kembali tidak bisa sebab sudah ditangkap oleh polisi.
“Kita harus segera kerumah sakit.” Ucap Jasson dengan memegang luka didada istrinya tersebut.
“Akan terlalu lama jika membawaku kerumah sakit, Kau harus menemui bi Rere terlebih dahulu, Dia pasti sudah menunggumu lama, uhukkkk.” Batuk wanita itu mengeluarkan darah sehingga membuat Jasson semakin hawatir.
“Bi Rere? Maksudmu?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya saat mendengar nama ibunya tersebut.
“Ibumu, Ibumu masih hidup, Dia hanya di sekap, Uhukkk.” Darah keluar dari mulut wanita itu sehingga Jasson langsung membersihkannya meskipun tidak bersih.
“Apakah dendammu terbalaskan? Apakah kau masih membenci ayahku Watsons?.” Tanya Tiyara sehingga hal tersebut membuat Jasson terdiam membisu dihadapannya.
“Nanti saja membahas itu, Kita harus kerumah sakit sekarang.” Ucap Jasson dengan hendak berdiri namun Dery langsung mengambil Tiyara darinya.
“Lepaskan.” Teriak Dery yang langsung menggendong Tiyara dan membawanya pergi. Jasson tidak tinggal diam dan langsung berlari menyusul istrinya tersebut.
Semuanya sangat menghawatirkan kondisi Tiyara yang semakin lemah. Tiyara yang sudah tidak tahan lagi akhirnya menutup matanya. “Cepat lajukan mobilnya.” Teriak Dery saat Jasson sama sekali belum masuk kedalam mobil tersebut.
Pengawal mengiyakannya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan Jasson yang baru sampai. “Tuan kita susul nona dengan mobil lain saja.” Ajak pengawal saat Jasson yang nampak sangat menghawatirkan Tiyara.
__ADS_1
Jasson tidak menjawabnya dan langsung masuk kedalam mobil dan mobilpun melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengiring mobil yang membawa Tiyara. Didalam mobil Tiyara, dia diberikan oksigen agar dapat kembali bernafas dan bertahan sebelum tiba dirumah sakit dan hal tersebut membuat matanya kembali terbuka. “Kau jangan terlalu keras kepada Jasson, Dia bukan tidak memperdulikanku hanya saja dia terlalu hawatir sampai akal baiknya sedikit memudar.” Ucap Tiyara dengan suara lemahnya.
Dery sama sekali tidak menjawab perkataan wanita itu hingga mobil berhenti di lobi rumah sakit Dery langsung keluar dengan membawa Tiyara dipelukannya. “Cepat selamatkan nona.” Teriak Dery dan para perawatpun berbondong bondong datang dengan membawa ranjang.
Tiyara dibawakan masuk ketempat operasi namun Dery dan pengawal lain hendak menerobos masuk. “Maaf tuan, anda tidak boleh masuk.” Ucap Perawat dengan wajah datarnya.
“Hah, Hah.” Jasson datang dengan baju yang kotor dipenuhi darah sehingga perawat menatap kepadanya.
“Apa saya bisa masuk?.” Tanya Jasson dengan sangat menghawatirkan istrinya.
“Jika dokter Jasson ada didalam dan membantu dalam keadaan cemas seperti ini takutnya itu berdampak buruk bagi pasien.” Guman perawat yang sangat mengerti dan tau.
“Maaf dok tapi anda juga tidak bisa.” Jawab perawat yang langsung menundukkan sedikit kepalanya dan masuk kedalam ruangan.
“Peluru berada tepat dijantung pasien, Harus berhati hati sebab jika ada sedikit kesalahan nyawa pasien yang akan menjadi taruhannya.” Ucap Dokter lain saat melihat layar monitor yang menunjukkan peluru berada tepat dijantung Tiyara.
“Hah.” Jasson memejamkan matanya mencoba tenang sebab dia yakin dokter senior akan menyelamatkan nyawa istrinya.
Dery menoleh kepada Jasson, Kakinya berjalan dengan cepat dan kesal dan langsung mencengkram kerah baju yang digunakan Jasson. “Jika bukan karnamu nona tidak akan seperti ini.” Teriak Dery sehingga membuat para pengawal menahan lelaki itu.
“Tuan anda harus tenang, Dengan anda menyakiti Tuan Jasson ini tidak akan berguna.” Ucap salah satu pengawal mencoba menengkan Dery. Dery yang masih terbawa emosi mencoba menenangkan diri dengan membuang nafas panjang dan teringat apa yang dikatakan oleh Tiyara hingga akhirnya dia melepaskan tangannya dari Jasson dan dibawa oleh salah satu pengawal sedikit menjauh dari Jasson.
“Anda tidak apa apa tuan?.” Tanya pengawal lain yang berada didekat Jasson. Jasson sama sekali tidak merespon dan menatap kedepan dengan tatapan kosong.
__ADS_1
“Ini baju untuk anda tuan, lebih baik anda menggantinya dahulu.” Ucap pengawal dengan menyodorkan pakaian kepada Jasson begitupun dengan Dery yang berada disebrang. Dery menerimanya dan langsung mengganti pakaiannya namun tidak dengan Jasson yang masih saja diam dengan tatapan kosongnya.
“Jasson.” Roky datang keruang tunggu saat mendengar Jasson berada diruang tunggu menunggu istrinya. Baju yang berlumuran darah membuatnya membulatkan mata kaget.
Semuanya yang ada disana menoleh kearah suara namun tidak dengan Jasson yang masih saja diam seribu bahasa menatap lampu ruang operasi yang tak kunjung berubah. Roky langsung berjalan kearahnya dan pengawal yang ada didekat Jasson menundukkan sedikit kepala dan menuju ke tempat duduk seberang. “Aku membawa ini untukmu.” Ucap Roky dengan menyodorkan berkas kepada Jasson, Namun Jasson tidak memperdulikannya dan terus saja memperhatikan lampu operasi.
“Anak……..” Roky menatap para pengawal yang menatapnya juga sehingga dirinya memilih untuk berbisik kepada Jasson.
“Tiyara ada anak dari Watsons tapi…….”
“Diam.” Tegas Jasson dengan wajah datarnya sebab dia juga mengetahui hal itu dan lebih bagusnya lagi dia mengetahui hal itu dari mulut Tiyara sendiri.
“Apa yang terjadi kepadanya?” Guman Roky dengan wajah bingungnya. Jasson mengambil paperbag yang berisikan baju untuknya dan meninggalkan ruang tunggu untuk mengganti pakaiannya.
Jasson berdiri dihadapan cermin dan menatap tubuhnya yang mengenakan baju yang dipenuhi oleh darah itu. “Apa aku harus senang?” Guman Jasson dengan wajah datarnya.
“Tapi kenapa hatiku sakit sekali saat melihat keadaanny seperti sekarang?” Gumannya kembali dengan mata yang berbinar mengingat tubuh wanita lemah dihadapannya tadi.
“Bukankah ini memang tujuanku? Tujuanku untuk membalas dendam papa, Tapi kenapa hatiku tidak senang dan merasa bersalah seperti ini?” Gumannya kembali dengan wajah bingungnya menatap dirinya sendiri.
“Kenapa harus dia anak dari paman Watsons? Kenapa tidak orang lain saja?” Sambungnya yang tidak terima perkataan Tiyara yang mengaku anak Watsons.
“Ini benar benar sakit tuhan, A-aku tidak ingin kehilangannya.” Ucap Jasson yang langsung meremas dadanya yang sesak dengan kepala yang tertunduk tidak terima kenyataan yang begitu pahit.
__ADS_1