My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Aku tidak berbohong


__ADS_3

"Kenapa kau masih berdiri disana? Ingin mengintip?" tanya Tiyara dengan melototkan matanya menatap Jasson yang sama sekali tidak berniat untuk pergi dari sana. Jasson yang merasa wanita itu tidak membutuhkan bantuannya langsung melangkahkan kakinya menjauh dan masuk kedalam ruang ganti.


Tiyara yang sudah melihat lelaki itu pergi membuka sedikit bajunya dan setelah itu membuka obat oles pula dan mengoleskannya sedikit dipinggangnya. "Masih sakit saja, Apa ini seharusnya diiringi dengan pijatan?" tanya Tiyara yang tidak bisa memijat pinggangnya sendiri.


Jasson keluar dari ruang ganti dengan sudah mengenakan baju santainya dan kembali melihat kearah Tiyara yang nampak langsung menurunkan bajunya. "Sudah kau obati?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


"Em, Ini terima kasih" jawab Tiyara dengan senyumnya sambil menyodorkan obat oles tadi kepada Jasson.


Jasson menerimanya dan Tiyara nampak ingin mengatakan sesuatu kepadanya hingga membuat dahi lelaki itu mengerut kebingungan. "Ingin mengatakan apa?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


"Em" Tiyara berdiri dari duduknya dengan kedua tangan yang berada dibelakang tubuhnya dan kepala yang menunduk. Jasson tidak merespon apapun dan masih saja memasang wajah datarnya menatap wanita itu.


"Bolehkah aku tidur disini bersamamu? A-aku tidak berani tidur dibawah sendirian" ucap Tiyara dengan memelaskan wajahnya berharap agar diizinkan oleh suaminya itu.


"Tidak, Kamarmu tetap dibawah ini adalah kamar pribadiku" jawab Jasson dengan melepaskan tangan Tiyara yang tengah berada dilengannya saat ini.


"Aku mohon, Rumahmu ini terlalu sepi dan sangat menakutkan jadi aku benar benar tidak berani dibawah sendiri" balas Tiyara yang langsung memasang wajah sedihnya.


"Aku bukan takut hanya saja aku memang ingin selalu bersamamu" guman Tiyara dengan senyumnya namun dia kembali memasang wajah menyedihkannya menatap Jasson.


"Dirumahmu saja kau sendiri dikamar...."


"Itu karna ada banyak pelayan dirumah makanya aku berani tapi jika dirumahmu ini sama sekali tidak ada orang kecuali kita bertiga" potong Tiyara akan ucapan Jasson itu.


Jasson diam dan menatap tajam wanita itu. "Jelas sekali jika kau berbohong kepadaku" ucap Jasson yang bisa melihat jika wanita itu benar benar berbohong kepadanya.


Tiyara langsung mendongakkan kepalanya menatap Jasson. "Aku tidak berbohong, Aku benar bemar tidak berani" balas Tiyara yang tidak terima akan Jasson yang mengetahui dirinya berbohong. Jasson kembali diam.


"Aku tidur dilantai atau dikursi juga tidak apa apa yang penting kau berada didekatku dan tidak meninggalkanku" ucap Tiyara yang kembali memelas agar Jasson mengizinkannya dengan tangannya yang saat ini berada dilengan Jasson.

__ADS_1


"Aku bilang tidak ya tidak" tegas Jasson dengan menepis tangan wanita itu.


"Aku mohon" ucap Tiyara kembali yang kembali memelas menatap Jasson.


"Tidak, Keluar dari kamarku" ucap Jasson dengan wajah datarnya dan tatapan tajam menatap Tiyara.


"Aku tidak mau, Aku tidak berani" jawab Tiyara dengan wajah kesalnya akibat sudah memelas namun masih saja tidak diizinkan.


"Baik kau boleh tidur dikamar ini, Kau tidur dikursi jangan berani berani kau naik keatas ranjangku" ucap Jasson saat melihat wajah kecewa dari wanita itu.


Tiyara langsung gembira dibuat ucapan itu dan mendongakkan kepalanya. "Benar?" tanya Tiyara memastikannya.


"Aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi, Jika tidak mau kau boleh....''


"Iya, Iya, Iya aku akan tidur dikursi" potong Tiyara dengan senyumnya dan langsung berlari menuju kursi dan langsung duduk diatasnya.


Tiyara nampak gembira akan hal tersebut. "Meskipun tidak satu ranjang setidaknya kau selalu bersamaku" guman Tiyara dengan senyum yang mengembang bahagia dan membaringkan tubuhnya pula dengan menatap Jasson.


Wajah yang tersenyum senang itu terus menatap punggung lelaki pujaannya hingga akhirnya mata lelah itu terpejam perlahan dan tertidur tanpa perduli dengan tempat tidur. Jasson membuka matanya akibat tidak bisa tertidur dan menatap jam dinding yang nampak baru menunjuk pukul delapan malam. "Pasti wanita itu belum tidur, Ini baru jam delapan" guman Jasson yang kembali memejamkan matanya.


"Sudah kalian temukan nona Tiyara?" teriak Dery kepada pengawal yang sudah kembali kerumah.


"Belum tuan, Kami belum menemukan nona Tiyara namun tadi kami melihat dari cctv nona Tiyara pergi bersama dengan dokter Jasson, Mereka juga kekantor polisi dan setelah itu jejak mereka langsung hilang" jelas pengawal.


"Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya?" teriak Dery yang hawatir akan wanita itu.


"Maaf tuan, Kami menemukan nama nona Tiyara dan dokter Jasson dikantor capil dan mereka sudah resmi menjadi suami istri" ucap pengawal lain.


"Hah? Kapan mereka berdua menikah?" tanya Dery dengan menatap lekat pengawal itu.

__ADS_1


"Tadi siang tuan" jawab pengawal itu.


"Ah syukurlah jika dia bersama dengan dokter Jasson" Dery langsung membuang nafas lega akan Tiyara yang sudah bersama dengan Jasson hingga membuatnya tidak hawatir lagi.


"Kembali ketempat masing masing" ucap Dery dengan wajah datarnya dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi. Semua pengawal langsung berhamburan kembali ketempat mereka namun berbeda dengan bi Feiyang yang malah mendekat kearah Dery.


"Kenapa tuan bisa tenang nona Tiyara bersama dengan dokter Jasson?" tanya bi Feiyang.


"Karna mereka adalah suami istri" jawab Dery dengan wajah datarnya.


"Shhhh" Tiyara mendesis dan membalikkan tubuhnya menatap sandaran kursi dengan kedua tangan yang dia lipat dibawah dadanya.


Jasson bisa mendengar jelas desihan wanita itu dan menoleh kearahnya dan terlihat wanita itu sudah tidur dan membelakanginya. "Apakah dia sakit?" guman Jasson dengan wajah bingungnya.


"Ah terserah mau demam atau tidak bukan urusanku" ucapnya dan membalikkan tubuhnya kembali membelakangi istrinya tersebut.


"Dingin sekali" teriak Tiyara dan langsung duduk dari tidurnya dengan mata yang masih menyipit dan nyawa tidak terkumpul dia langsung beranjak dan langsung naik keatas ranjang.


Jasson yang mendengar teriakan itu langsung menoleh kebelakang dan Tiyara saat ini sudah berada dihadapannya dengan melepaskan alas kakinya.


"Disana terlalu dingin, Aku lupa jika ada ranjang" ucap Tiyara dan masuk kedalam selimut yang menyelimuti tubuh Jasson dengan membelakangi lelaki itu.


"Hey ini tempat tidurku, Kesepakatan kita tadi kau tidur...."


"Em" Tiyara langsung memeluk erat tubuh Jasson yang dikiranya guling. "Sangat nyaman" ucapnya dan mengusap usapkan kepalanya didada bidang lelaki itu.


Jasson yang mendapatkan pelukan dan usapan lembut dari kepala wanita itu langsung terdiam. Matanya membulat, Wajahnya memerah, Jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. "Hah? Apa yang terjadi denganku?" guman Jasson yang sama sekali tidak pernah merasakan hal seperti ini.


Tiyara sama sekali tidak sadar jika itu adalah lelakinya dan terus saja mengusapkan kepalanya kedada itu hingga akhirnya dia kembali tertidur dipelukan lelakinya itu.

__ADS_1


__ADS_2