
"Benarkah?." tanya Tiyara dengan masih memasang tatapan tajamnya.
"Apakah kau kecewa?." tanya Jasson yang nampak memasang wajah sedikit sedih saat mendengar pertanyaan istrinya tersebut.
"Tidak, Aku sama sekali tidak kecewa dengan jawabanmu ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuatmu mencintaiku." jawab Tiyara dengan senyum tulusnya.
"Kau..."
"Sudahlah bertanya terus, Ayo cari makan diluar." ketus Tiyara dengan menarik tangan suaminya tersebut.
"Dengar dulu aku ingin bicara." jawab Jasson dengan tidak berdiri ataupun mengikuti istrinya tersebut. Tiyara menghentikan langkah kakinya dan juga menarik tangan suaminya tersebut dan setelah itu langsung menatapnya.
"Ingin berbicara apa?." tanya Tiyara yang menunggu jawaban dari suaminya itu.
"Kau benar benar tidak apa apa dengan jawabanku tadi?." tanya Jasson yang nampak sedikit tidak senang akan jawabannya sendiri takut menyakiti hati wanitanya tersebut.
"Hah, Kau ini tidak memiliki telinga ya Jasson?, Apa kau tidak dengar tadi aku bilang tidak apa apa?, Aku akan berusaha keras mulai saat ini untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku." jelas Tiyara dengan senyum yang mengembang menatap suaminya tersebut.
Jasson terdiam dan tidak mengeluarkan suara lagi dan menatap biasa saja kearah istrinya tersebut. "Ayo, Ini sudah waktunya makan siang." ajak Tiyara kembali dan kembali menarik tangan suaminya pula.
Jasson tidak menjawabnya dan mengikuti wanita itu hingga diluar ruangan Tiyara langsung menggandeng tangan suaminya tersebut dan berjalan menelusuri ruang demi ruangan rumah sakit untuk keluar dari dalamnya.
"Siapa wanita itu?."
"Mereka berdua nampak dekat, Apakah itu kekasih dokter Jasson?."
"Wanitanya cantik sekali, Namun aku tidak asing dengan wajahnya."
"Apa hubungan mereka berdua?."
"Dokter Jasson tidak biasanya membiarkan wanita dekat dengannya namun saat ini wanita itu menggandeng dokter Jasson yang dingin itu."
"Cih hanya bisa mengumpat saja." ucap Tiyara saat mendengar ucapan demi ucapan sehingga dia sampai diluar sedangkan Jasson hanya diam, Berjalan cool dengan wajah datarnya.
"Didepan ada restoran, Apa kau mau makan disana atau pulang kerumah?." tanya Jasson dengan wajah datarnya.
"Dokter, Nona." sapa Syeri dengan senyumnya.
"Pulang kerumah terlalu jauh, Kita makan direstoran depan saja." jawab Tiyara dengan senyumnya menatap suaminya tersebut tanpa memperdulikan Syeri.
__ADS_1
"Eh dokter tadi." ucap Tiyara yang baru sadar akan kehadiran Syeri. Syeri mengangguk dan tersenyum lebar menatap Tiyara namun tidak dengan Jasson yang hanya memasang wajah datarnya tanpa menjawab sapaan Syeri.
"Yasudah ayo, Nanti jam makan siangku habis." ajak Jasson dengan wajah datarnya.
"Iya suamiku, Ayo." ajak Tiyara kembali dengan senyumnya sedangkan Syeri hanya tersenyum kesal mendengar ucapan dan melihat tindakan keduanya.
Keduanya berjalan menuju kerestoran didepan rumah sakit. Syeri menggelapkan tangannya akibat kesal akan Tiyara yang bermesraan dengan lelaki pujaan hatinya dihadapannya. Dengan segera Syeri langsung menyusul keduanya. "Apakah kalian ingin makan siang?." tanya Syeri dengan senyum ramahnya dengan saat ini dia berdiri disamping Jasson.
"Cih." umpat Tiyara yang langsung berpindah tempat dan merangkul lengan sebelahnya sehingga membuat Syeri sedikit bergeser.
"Tidak, Kami ingin membeli sapi." jawab Tiyara dengan wajah kesalnya.
"Eh?, Membeli sapi?, Kenapa malah kerestoran?." tanya Syeri dengan wajah bingungnya.
"Maaf dokter, Anda tidak bodoh jadi jangan bertanya pertanyaan yang anda sendiri sudah tau jawabannya." jawab Tiyara dengan wajah kesalnya dan langsung membuang tatapannya dari Syeri.
"Ayo sayang." Tiyara mengajak suaminya tersebut memilih kursi untuk tempat mereka makan sehingga mendapatkannya dan duduk dikursi tersebut.
Jasson melambaikan tangannya memanggil pelayan dan pelayan datang kepada mereka dengan memberikan menu makanan. "Ingin makan apa kau?." tanya Jasson dengan wajah datarnya dan mata yang melihat lihat menu.
"Apapun, Asal jangan batu, Kayu dan sebagainya." jawab Tiyara yang masih sedikit kesal akan dokter Syeri.
Pelayan yang mendengarnya langsung tertawa membuat Tiyara langsung menoleh kearahnya. "Kenapa tertawa? " tanya Tiyara dengan wajah kesalnya.
"Ambil ini dan minumannya ini, Sama sama dua." ucap Jasson dengan menunjukkan menu makanan kepada pelayan.
"Baik tuan, Silahkan ditunggu." jawab pelayan dengan senyum ramahnya menatap Jasson. Jasson tidak membalas senyuman tersebut dan menatap ke istrinya yang nampak menatap ke sembarang arah.
"Jika dia kemari aku yang akan pergi." ucap Tiyara dengan suara rendah saat melihat Syeri berjalan kearah mereka.
"Satu." Tiyara mulai menghitung hingga membuat Jasson sedikit kebingungan dan mengikuti kemana mana istrinya melihat.
"Dua."
"Tiga."
"Dokter, Nona." sapa Syeri dengan senyumnya sambil membawa makanan yang ada ditangannya.
"Sudahku duga, ****** ini." umpat Tiyara dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Bolehkah saya duduk bersama?." tanya Syeri dengan senyum ramahnya menatap Jasson dan juga Tiyara namun Jasson tidak memperdulikannya dan malah memperhatikan istrinya.
"Em." mata Tiyara membelalak mencari tempat kosong disana dan terlihat masih sangat baanyak tempat kosong.
"Sepertinya disana masih banyak tempat kosong, Apakah ingin menganggu saya dan suami saya yang ingin makan berdua?." tanya Tiyara dengan tatapan tajamnya menatap dokter Syeri.
"Bukan seperti itu nona, Hanya saja tidak enak sendirian duduk...."
"Dokter Jasson, Dokter Syeri." sapa dokter Yihan. Tiyara tidak memperdulikannya dan hanya menatap tajam Syeri yang masih saja belum berlalu namun tidak dengan Jasson yang memperhatikan wanitanya.
"Ah dokter." sapa balik Syeri dengan senyumnya.
"Duduk dimana dokter?, Apakah bersama dokter Jasson dan...."
"Istrinya." jawab Tiyara saat melihat dokter Yihan yang kebingungan menatapnya.
"Hah?, Dokter Jasson sudah menikah?." tanya dokter Yihan yang sedikit kaget.
"Permisi." ucap pelayan dengan membawakan makanan pesanan Jasson dan juga Tiyara. Syeri dan juga Yihan meminggirkan tubuh mereka sedikit disamping dan pelayan meletakkan makanan dihadapan Jasson dan juga Tiyara.
"Selamat menikmati." ucap pelayan dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih." jawab Tiyara dengan wajah masih datar sedangkan Jasson yang memiliki hobi diam hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Bisakah tidak berdiri disini?, Sungguh menganggu mood makan saja." ucap Tiyara yang membuat Jasson langsung melototkan matanya dan menggenggam tangan wanita itu hingga Tiyara menoleh kearahnya.
"Apa?, Kau mau dia bergabung bersama kita dan merusak makan siang kita?." tanya Tiyara dengan melototkan matanya akibat sedikit kesal akan suaminya yang melotot menatapnya itu.
"Dokter Syeri, Bagaimana jika duduk bersama dengan saya saja?." tanya dokter Yihan dengan senyumnya. Syeri langsung menoleh kearahnya dan terlihat tatapan tajamnya menatap Yihan.
"Dokter, Anda tadikan bilang jika tidak ada teman untuk sebangku, Ini sudah ada dokter ini dan dia mengajak anda, Bisakah pergi dari hadapan kami?." tanya Tiyara dengan nada sopan dan senyum lebar namun tidak dengan ucapannya yang tidak sopan.
"Tiyara." tegas Jasson dengan melototkan matanya.
"Diam." balas Tiyara dengan wajah datarnya menatap Jasson dan setelah itu tersenyum menatap Syeri dan juga Yihan yang dibalas dengan senyuman pula oleh Yihan.
"Ah baiklah nona, Saya akan pergi bersama dengan dokter Yihan, Maaf jika sudah mengganggu." jawab Syeri dengan senyumnya.
"Memang menganggu." balas Tiyara yang langsung memasang wajah datarnya. Syeri langsung berlalu dari sana dengan wajah tersenyum namun hati kesal sedangkan Tiyara langsung menatap kedepan dan mulai memakan makanannya.
__ADS_1
"Kau...."
"Aku tidak sopan?, Apakah ada istri yang mengizinkan wanita yang menyukai suaminya berdekatan dengan suaminya hah?." potong Tiyara dengan melototkan matanya dan kembali memakan makanannya.