
"Tidak usah, Lebih baik aku berpokus kepada pasien pasien ku saja." jawab Jasson dengan senyum nya.
"Tapi tidak masalah bukan jika kau menambah pengalaman dengab bekerja di kantor ataupun memimpin kantor?." tanya Tiyara.
"Bekerja di kantor juga tidak akan membuat mu lalai terhadap para pasien mu dan yang terpenting adalah kau harus bisa memimpin sebuah perusahaan." sambung Tiyara dengan senyumnya sedangkan Jasson dia hanya diam menatap wanitanya tersebut.
"Kenapa? Itu bukan bidang ku, Kenapa aku harus bisa memimpin sebuah perusahaan?." tanya Jasson dengan wajah datarnya sebab dia tau jika istrinya adalah pemilik perusahaan terbesar di negara nya.
"Aku memiliki perusahaan dan kau sebagai suami ku nanti harus mengambil alih perusahaan tersebut, Ya meskipun aku belum mengubah kepemilikan nya atas nama mu, Namun akan segera aku ubah." jawab Tiyara dengan senyumnya.
"Tidak usah, Aku tidak berminat masuk ke bidang itu." jawab Jasson dengan wajah datarnya dan kembali menatap keluar jendela.
"Aku tidak mungkin selama nya bisa memimpin perusahaan jadi kau harus belajar, Lambat laun perusahaan itu akan menjadi milik mu." balas Tiyara.
"Sudahlah ayo turun makan." ajak Jasson mengalihkan percakapan dan keluar dari kamar.
"Jasson tunggu, Aku belum mengenakan baju." ucap Tiyara saat dirinya masih mengenakan baju handuk. Jasson melupakan hal tersebut dan menghentikan langkah kakinya.
"Kau mau makan apa? Biar aku masakkan." tanya Jasson.
"Apa saja, Yang penting masakanmu." jawab Tiyara dengan senyumnya.
"Mandi dan ganti baju mu baru turun." ucap Jasson dan meneutup pintu kamar istrinya dan menuruni anak tangga menuju ke bawah.
Jasson langsung ke dapur. "Tuan." sapa pelayan saat Jasson datang.
Jasson hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil celemek dan mengenakannya. "Tuan biar saya saja yang masak." ucap pelayan saat Jasson mengenakan celemek.
"Tidak usah, Aku ingin memasakkan makanan untuk istrku malam ini, Kau kerjakan hal lain dan setelah itu istirahatlah." balas Jasson dengan wajah datarnya dan mengambil alat dapur untuk memasak dan bahan makanan yang hendak ia masak.
"Selama aku hidup bersama Tiyara aku tidak mengetahui makanan kesukaan Tiyara." guman Jasson yang bingung ingin memasakkan apa untuk istrinya.
"Maaf sebelum nya tuan, Nona sangat menyukai ayam pedas manis, Dia selalu meminta saya memasakkan nya dan dia terlihat sangat menyukai makanan itu." ucap pelayan dengan sopan memberitahu Jasson yang terlihat kebingungan ingin masak apa.
__ADS_1
"Benarkah?." tanya Jasson tanpa menatap pelayan itu.
"Iya tuan." jawab pelayan. Jasson tidak menjawabnya dan mengeluarkan bahan makanan yang sekira nya ia butuhkan.
"Saya permisi tuan." pamit pelayan dan meninggalkan Jasson sendiri di dapur.
"Haisss aku kembali memikirkan mimpiku tadi." guman Tiyara.
"Siapa lelaki itu ya? Kenapa dia berbicara seperti itu?." guman Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Besok saat Jasson pergi kerumah sakit aku harus mencari tau siapa lelaki itu dan membawa bibi pulang ke rumah, Setelah itu baru aku......"
Tiyara menatap lekat wajahnya yang berada di pantulan kaca itu. "Jika memang dia tidak mencintaiku lagi aku akan pergi, Toh bibi juga sudah ada bersama nya, Dia pasti tidak akan kesepian lagi dan pasti tidak membutuhkan ku lagi." sambungnya dengan tersenyum menatap dirinya sendiri.
Tiyara membuang nafas panjang dan keluar dari ruang gamti, Dan menuju ke dapur. "Sayangku." teriak Tiyara saat menuruni anak tangga.
"Tuan di dapur nona." ucap pelayan saat mendengar teriakan Tiyara.
"Terima kasih bibi." ucap Tiyara dengan senyumnya dan melangkahkan kaki menuju ke dapur.
"Sudah selesai?." tanya Jasson dan mematikan kompor yang sudah selesai memasak itu.
"Em, Kau benar benar memasak untukku." balas Tiyara dan merangkul pinggang suaminya itu dan melihat apa yang di masak oleh lelaki itu.
"Wah, Kau tau apa makanan kesukaan ku?." tanya Tiyara dengan wajah senang nya saat suaminya memasakkan makanan kesukaannya.
"Kau menyukai makanan ini?." tanya Jasson dengan wajah datarnya dan meletakkan makanan yang ia masak tadi ke atas piring dengan Tiyara yang langsung melepaskan tubuhnya.
"Em, Jika kau mengetahui makanan kesukaanku tidak menutup kemungkinan bukan jika kau sudah mencintaiku?." goda Tiyara dengan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
Jasson langsung menatap tajam ke arahnya dan menyentil dahi istrinya itu. "Kenapa kau menyentil dahiku." ketus Tiyara dengan melototkan matanya.
"Berhenti mengoceh dan makanlah." balas Jasson dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Suapi aku." jawab Tiyara dengan mengedip centil matanya kepada suaminya itu.
"Haisss." Jasson tidak menjawabnya dan mendudukkan tubuhnya di samping istrinya. Dia mengambil sedikit potongan lauk dan menghembuskannya agar dingin setelah itu baru menyuapi istrinya.
Dengan senang hati menerima nya dan melahap makanan suapan suaminya itu. Tiyara mengunyah dengan senang hati hingga akhirnya dia terdiam dengan kunyahan yang melambat sehingga membuat Jasson yang hendak menyuapinya lagi kebingungan.
"Apa tidak enak?." tanya Jasson dengan menurunkan tangannya yang hendak menyuapi istrinya lagi.
"Emmm, Ini sangat enak." ucap Tiyara dengan wajah senangnya dan mengambil piring yang ada pada suaminya dan melahap makanan tersebut.
"Hati....."
"Ah." ucap Tiyara saat dia kepanasan.
"Belum juga aku mengatakan nya, Itu masih panas." ucap Jasson dengan mengambil alih piring tersebut dan menghembuskannya agar istrinya dapat makan sendiri.
Tiyara tidak menjawab perkataan suaminya tersebut dan hanya menatap lekat suaminya yang benar benar memperhatikan nya akhir akhir ini. "Apa karna dia merasa bersalah makanya sangat memperhatikanku?." guman Tiyara dengan wajah bingungnya akan sikap suaminya tersebut.
"Sudah, Ini sudah cukup dingin." ucap Jasson dengan senyumnya dan memberikan makanan tersebut kepada istrinya namun Tiyara tidak merespon dan masih menatap dirinya dengan tatapan kosong.
"Hey." Jasson mengibaskan tangannya di hadapan wajah istrinya sehingga Tiyara sadar dengan apa yang ia pikirkan.
"Hem." ucap Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Apa yang kau pikirkan?." tanya Jasson dengan wajah bingungnya.
"Tidak, Tidak memikirkan apa apa, Apa makananya sudah dingin?." tanya Tiyara dengan senyum nya menatap suaminya itu.
"Em, Sudah cukup dingin." jawab Jasson dengan menyodorkan makanan tersebut kepada Tiyara. Tiyara menerima nya dan menyantap makanan tersebut sedabgkan Jasson dia hanya memperhatikan wanita yang tengah makan di hadapan nya saat ini.
"Kau tidak makan?." tanya Tiyara kepada suaminya tersebut.
Jasson membuka mulutnya sehingga membuat Tiyara kebingungan. "Aa." Jasson berharap agar istrinya menyuapinya makan dan Tiyara yang sadar langsung menyuapi suaminya tersebut.
__ADS_1
Jasson tersenyum dan di balas senyuman pula oleh Tiyara meskipun wanita itu masih terlihat kebingungan akan tingkah suaminya hari ini namun dia tidak mempertanyakan hal tersebut kepada nya dan hanya membiarkan nya saja.