My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Terserah


__ADS_3

"Cih, Kau ini kita sebagai pasangan pengantin baru seharusnya banyak romantisnya...."


"Kau terlalu banyak menonton sinetron hingga terlalu banyak berhayal" potong Jasson dengan wajah datarnya.


"Bukan" jawab Tiyara.


"Jadi apa yang membuatmu bilang seperti istri istri pada umumnya hah?" tanya Jasson dengan menatap tajam wanita itu.


"Y-ya tidak ada salahnya bukan? Mengantarkan suami hingga pintu rumah memangnya salah?" tanya balik Tiyara dengan melototkan matanya.


"Terserah" balas Jasson dengan wajah datarnya dan menghentikan makannya akibat makanan sudah habis dan berdiri dari duduknya.


Tiyara ikut berdiri dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu dari suaminya. Dia mengambil tas kerja milik lelakinya tersebut. "Biarkan aku yang membawanya suamiku" ucap Tiyara dengan senyumnya.


Jasson tidak menjawabnya dan membiarkan wanita itu membawa tasnya dan berjalan menuju pintu utama begitupun dengan Tiyara. Tiyara memberikan tas kerja itu kepada suaminya dan memajukan kepalanya supaya Jasson mencium keningnya namun hal tersebut malah membuat Jasson kebingungan. "**** kau ini bodoh atau bagaimana?" ketus Tiyara dengan wajah kesalnya.


Jasson tidak menjawabnya dan masih saja memasang wajah bingungnya hingga hal tersebut membuat Tiyara menjinjitkan kakinya mencoba berdiri sejajar dengannya yang jauh lebih tinggi itu dan mencium pucuk kepala lelaki itu. "Tidak apa jika kau tidak mau menciumku suamiku" ucap Tiyara dengan senyumnya dan kembali tegak seperti awal.


Jasson kembali terdiam dan masih saja memasang wajah datarnya.


Cup


Tiyara mencium wajah suaminya pula. "Hati hati dijalan suamiku tercinta" ucap Tiyara dengan senyum yang mengembang menatap suaminya tersebut.


Jasson langsung tersadar akan diamnya dan menggelengkan kepalanya dan berjalan menjauh dari wanitanya dan mendekat kearah mobilnya. Sebelum masuk mobil Jasson kembali menatap istrinya tersebut. "Aku mencintaimu, Jangan biarkan orang lain menciummu seperti tadi ya sayang" teriak Tiyara dengan senyumnya namun hal tersebut tidaklah merubah ekspresi wajah Jasson yang datar itu.


Jasson tidak menjawabnya dan masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang. "Ingatlah jika aku mencintaimu" teriak Tiyara kembali dengan melambaikan tangannya.


Jasson bisa melihat pemandangan tersebut dari spion mobil dan tersenyum dan langsung melajukan mobil meninggalkan kediamannya menuju ketempat kerjanya."Eh gerbangnya jangan ditutup" teriak Tiyara akan satpam Derwin yang hendak menutup pintu gerbang hingga membuat penjaga yang berdiri disampingnya menutup telinga mendengar teriakan tersebut.


"Aku ingin keluar, Jangan tutup" teriak Tiyara kembali yang langsung berlari masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Nona berhati hatilah" ucap pelayan saat melihat istri majikannya yang berlari menaiki anak tangga.


Tiyara sama sekali tidak memperdulikannya, Dia mengambil paperbag dan ponselnya dan setelah itu kembali keluae dari kamarnya dan kembali berlari turun kebawah. "Tiyara pamit, Jaga rumah baik baik" teriak Tiyara kepada banyaknya pelayan dirumah tersebut dan langsung keluar masuk kedalam mobil yang sudah dipanaskan.


Tiyara menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan rendah menuju ke gerbang. "Jaga rumah baik baik ya, Aku pergi dulu, Dah" pamit Tiyara dengan senyum ramahnya kepada satpam Derwin.


"Tuan saja tidak pernah berpamitan, Namun nona" ucap Derwin dengan menggelengkan kepalanya dan setelah itu menutup gerbang rumah tersebut.


Jasson yang sudah sampai dirumah sakit langsung memarkirkan mobilnya diparkiran. Jasson turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah sakit seperti biasa dia disambut oleh banyaknya wanita pekerja disana, Baik dari dokter ataupun hanya perawat namun lelaki itu sama sekali tidak memperdulikannya dan terus saja berjalan hingga sampai diruangannya dia langsung masuk kedalam ruangan tersebut dan bersiap untuk melakukan pekerjaannya.


"Cih lihat saja kalian yang aku bebaskan dua hari ini, Akan aku beri perhitungan" ucap Tiyara dan turun dari mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumahnya.


"Bibi, Paman Tiyara pulang" teriak Tiyara dari luar dengan girangnya dan berjalan sedikit meloncat masuk kedalam rumahnya.


"Nona" sapa Dery.


"Paman, Dimana bibi?" tanya Tiyara yang masih tersenyum menatap Dery yang bukan pamannya namun selalu dipanggilnya paman saat masih kecil hanya saja karna terlalu dekat dia menjadi seenaknya dengan Dery saat sudah besar.


"Hey aku bertanya kepadamu" ucap Tiyara akan Dery yang hanya diam.


"Bibi ada didalam nona" jawab Dery dengan senyumnya.


"Bibi, Apa tidak mau melihat Tiyara lagi hingga tidak keluar?" teriak Tiyara dari luar membuat Dery sedikit mnutup telinganya akibat ulah anak itu yang selalu berteriak.


"Oh iya, Aku memiliki satu tugas mudah untukmu" ucap Tiyara dan mengeluarkan gambaran miliknya dan juga milik suaminya dari paperbag.


"Nah ini, Kau suruh pabrik pembuatan sepeda membuat dua sepeda seperti ini" ucap Tiyara dengan memperhatikan gambaran tersebut kepada Dery.


Dery menerimanya namun Tiyara tidak mau memberikannya. "Jangan menyentuhnya, Ini gambaran Jasson" ucap Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Jadi bagaimana saya ingin memberikannya kepada pendisain sepedanya nona?" tanya Dery dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


"Kau kan memiliki ponsel, Kau poto gambar ini setelah itu diprint, Berikan kepada pendesainnya, Jangan yang ini, Ini akan aku letakkan dimuseum cintaku" jelas Tiyara secara singkat dengan senyum yang mengembang senang.


"Baiklah nona, Kemari saya ambilkan gambarnya" jawab Dery dengan senyumnya.


Tiyara membentang gambar tersebut. Dery membuang nafas panjangnya akan Tiyara yang sama sekali tidak mengizinkannya untuk menyentuh gambar tersebut namun tidak protes dan memotret gambar tersebut. "Ini satu lagi" teriak Tiyara akan Dery yang hendak menyimpan ponselnya.


"Iya nona" balas Dery yang nampak pasrah dan memotret gambar satu laginya.


"Sudah selesai nona" ucap Dery yang sudah menyelesaikan pemotretannya.


"Berikan aku melihatnya, Biasanya orang tua tidak terlalu bagus dalam memotret" ucap Tiyara dan mengambil ponsel ditangan Dery.


"Bagus, Tidak buruk, Paman memang yang terbaik" ucap Tiyara dengan senyum yang mengembang kepada Dery yang baru berumur 32 tahun itu.


"Nona" panggil bi Fey akan Tiyara yang datang. Tiyara langsung menoleh kearahnya.


"Bibi terlihat tidak baik baik daja, Apa bibi sakit?" tanya Tiyara.


"Tidak nona, Hanya saja bibi merindukan nona" jawab bi Feiyang dengan wajah sedihnya.


"Hem benarkah? Bukannya rumah ini tenang jika tidak ada Tiyara?" tanya Tiyara dengan menatap seluruh pelayan yang menyambutnya begitupun dengan beberapa pengawal.


"Tidak nona, Saya benar benar merindukan anda" jawab bi Feiyang dengan wajah tulusnya. Bagaimana tidak, Rumah sebesar istana itu sangat sepi saat kepergian wanita tersebut.


"Ah baik baik Tiyara percaya" balas Tiyara dengan senyumnya.


"Nona sudah sarapan?" tanya bi Feiyang kepada Tiyara.


"Sudah, Bersama Jasson tadi pagi" jawab Tiyara dengan senyumnya.


"Baiklah, Nona kemarin masuk rumah sakit karna apa? Bibi kesana kemarin tapi nona dan dokter Jasson masih tidur" ucap bi Feiyang kepada Tiyara dengan wajah sedikit hawatir.

__ADS_1


"Ah itu karna sakit perut biasa, Tidak apa apa sekarang Tiyara sudah sembuh" jawab Tiyara dengan senyumnya.


__ADS_2