
“Kenapa harus dia anak dari paman Watsons? Kenapa tidak orang lain saja?” Sambungnya yang tidak terima perkataan Tiyara yang mengaku anak Watsons.
“Ini benar benar sakit tuhan, A-aku tidak ingin kehilangannya.” Ucap Jasson yang langsung meremas dadanya yang sesak dengan kepala yang tertunduk tidak terima kenyataan yang begitu pahit.
Jasson keluar dari ruang ganti dan kembali menatap lampu operasi dan ternyata operasi belum selesai juga. Mata yang terlihat memerah bisa dilihat oleh Roky sehingga lelaki itu menghampiri Jasson. “Dia pasti sudah mengetahui lebih awal tentang hal ini dan dia mungkin sangat mencintai istrinya itu.” Guman Roky dan memegang bahu lelaki itu.
“Semuanya akan baik baik saja, Kau tidak usah hawatir.” Ucap Roky mencoba menenangkannya namun Jasson tidak menjawab ataupun memperdulikannya dan berdiri dihadapan pintu operasi.
Para pengawal sedari tadi memperhatikan Jasson dan Derypun ikut memperhatikan lelaki tersebut. Lelaki tersebut berdiri tepat di hadapan ruang operasi dengan mata yang terus melihat lampunya namun amarah serta kesalnya Dery terhadap lelaki itu membuat semuanya blur dimatanya, Di saat ini merasa sangat membenci Jasson akibat kelakuan Jasson tadi yang berani menyakiti anak dari majikannya dahulu.
“Nyonya anda belum diperbolehkan meninggalkan ruangan.” Teriak pengawal yang menjaga Rere sedari tadi sehingga membuat semua yang ada diruang tunggu menoleh kepadanya namun tidak dengan Jasson yang masih dengan posisi semula.
“Bagaimana keadaan Tiyara? Bagaimana dia bisa seperti ini?” Teriak Rere yang tidak terima kepada pengawal yang berada disana.
Mata yang sayu seketika sedikit membulat saat mendengar suara tidak asing tersebut. “Jika tidak ingin diam anda bisa pergi dari sini.” Ucap Dery dengan wajah datarnya.
“Bukankah ini……..” Roky memikirkan siapa yang ada dihadapannya saat ini sebab wajah itu sangatlah tidak asing baginya.
Jasson menoleh ke belakang dan matanya seketika membulat saat melihat sang ibu berada tepat dihadapannya. Matanya tidak berkedip sedikitpun menatap wanita paruh baya tersebut namun tidak dengan Rere yang sama sekali tidak mengingat Jasson sebab Jasson saat ini sudah besar dan tidak terlihat seperti Jasson kecil.
“Mama.” Ucapan itu langsung terlontar dari mulut lelaki itu, Dia mematung tidak percaya bahwa dihadapannya saat ini adalah ibunya, Kakinya perlahan berjalan mendekat kepada wanita paruh baya tersebut dengan mata yang sama sekali tidak berkedip dan berbinar.
Semuanya hanya menyaksikan hal tersebut namun tidak dengan Rere yang terlihat kebingungan setelah mendapatkan panggilan tersebut dari Jasson. “Dia adalah tuan Jasson nyonya.” Bisik salah satu pengawal saat Rere hanya diam membisu menatap Jasson.
Mata Rere membulat saat mendengar ucapan pengawal. “Jasson?.” Rere langsung berjalan cepat dan meraih tubuh putranya tersebut.
__ADS_1
“Mama.” Jasson langsung memeluk erat tubuh wanita itu. Air matanya langsung menetes saat mendapatkan pelukan tersebut, Dia tidak tau saat ini ingin bahagia atau sedih dengan keadaan yang bercampur aduk.
“Sayang kau sudah sangat besar, Maafkan mama yang sudah meninggalkanmu.” Ucap Rere dengan mengusap punggung lelaki itu namun Jasson tidak menjawab perkataan wanita tersebut dan malah makin terisak dipelukannya.
“Mama sangat bahagia bisa bertemu denganmu kembali.” Ucap Rere dengan tangis bahagianya dan melupakan sejenak tentang Tiyara namun tidak dengan Jasson yang semakin kencang tangisnya.
Rere cukup bingung akan putranya yang tidak menjawab perkataannya dan malah menangis dipelukannya. “Keluarlah jika ingin menangis, Tidak usah mengeluarkan air matamu itu untuk nona.” Teriak Dery saat mendengar tangisan Jasson yang tidak terlalu kencang.
“Tuan tenangkan diri anda, Nanti konsentrasi dokter didalam terganggu.” Bisik pengawal kepada Dery yang benar benar mengeluarkan suara kencang.
Rere terlihat bingung dan Jasson sedikit menghentikan isakannya. “Nyonya mari kembali keruangan anda.” Ajak suster yang mengikuti Rere yang kabur dari ruangan setelah mendengar perkataan pengawal yang mengatakan tentang kondisi Tiyara.
Jasson melepaskan pelukannya. Wajah, Mata dan hidung lelaki itu memerah sebab menangis sehingga membuat Rere mengusap air mata putranya tersebut. “Mama baik baik saja kau tidak perlu hawatir.” Ucap Rere dengan senyumnya namun Jasson masih belum juga mengeluarkan suaranya.
“Mari nyonya.” Ucap suster kembali saat Rere tidak mengubris perkataan pertamanya.
Jasson tidak menuruti perkataan Roky dan kembali berdiri dihadapan ruang operasi. “Yatuhan istriku pasti baik baik saja, Tapi kenapa begitu lama.” Guman Jasson dengan menatap lampu operasi.
Setelah menunggu berjam jam akhirnya lampu operasi berubah dan mati hal tersebut menandakan bahwa operasi selesai, Dengan wajah yang masih hawatir dia langsung mendekat kepada pintu begitupun dengan Dery yang langsung berdiri dan menuju kepintu.
Cklekkk
“Bagaimana keadaan Tiyara?.” Tanya Jasson dengan wajah hawatirnya.
“Bagaimana keadaan nona?.” Tanya Dery pula yang tidak kalah hawatir dari Jasson. Dokter menatap keduanya dan setelah itu menatap semua pengawal yang juga terlihat hawatir dan menunggu kabar darinya.
__ADS_1
“Operasi berjalan lancar dan pasien selamat, Untuk mengetahui penyebab dan hal lebih lanjut setelah istirahat boleh keruangan saya.” Ucap dokter dan meninggalkan semuanya.
Semuanya membuang nafas lega saat mendengar jawaban dari dokter. “Saya saja nanti yang pergi menemui dokter untuk…….”
“Aku ikut.” Potong Dery memotong ucapan Jasson. Jasson tidak menjawabnya dan menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Dery.
Jam istirahat
Jasson tidak menjenguk ibunya terlebih dahulu sebab menunggu Tiyara keluar namun belum keluar juga. “Mari.” Ajak Jasson kepada Dery.
Keduanya masuk kedalam ruangan dokter yang menangani Tiyara. “Silahkan duduk.” Ucap dokter mempersilahkan keduanya untuk duduk. Keduanya mendudukkan tubuh masing masing diatas kursi yang tersedia.
Dokter mengeluarkan hasil lab yang menunjukkan tancapan peluru tadi. “Pasien tadi cukup banyak kehilangan darah sebab peluru berada tepat pada jantungnya, Awalnya ingin mengganti dengan jantung lain namun jika dilihat lebih lagi jantungnya masih sangat baik dan normal dan hanya memerlukan beberapa kantong darah saja dan itu sudah diatasi.” Jelas dokter singkat dengan Jasson dan Dery yang benar benar memperhatikannya.
“Di kaki pasien juga terdapat bekas tembakan sehingga hal tersebut membuat tulang kaki pasien mengalami retak dan kemungkinan akan lumpuh dan tidak bisa berjalan.” Sambungnya dengan menunjukkan tulang kaki Tiyara yang retak itu.
“Jadi dia harus menggunakan kursi roda atau bisa menggunakan tongkat?.” Tanya Dery sedangkan jasson dia sudah mengerti dengan penjelasan dari dokter.
“Disarankan untuk menggunakan kursi roda saja sebab jika menggunakan tongkat takutnya akan tambah parah.” Jawab dokter
“Dan satu lagi, Pasien masih dalam keadaan koma, Tidak diketahui pasti berapa lama pasien akan berada dalam masa ini sebab beberapa luka terjadi didalam organ bukan diluar dan dokter Jasson saya meminta anda untuk menjaga pasien semata mata karna anda adalah spesialis dalam hal tersebut bukan karna anda adalah suaminya.” Sambung dokter kembali.
“Aku meminta anda untuk mengurus nona, Bukan dia.” Celoteh Dery.
“Sebagai dokter utama bagi pasien memang saya, Namun untuk merawat akan saya serahkan kepada dokter Jasson.” Jawab dokter.
__ADS_1
“Baik dok, Terima kasih sudah mempercayai hal ini kepada saya.” Ucap Jasson yang benar benar berterima kasih kepada dokter itu namun tidak dengan Dery yang tidak terima dengan keputusan dokter.