
“Aku benar benar akan menjagamu mulai sekarang, Tapi aku mohon kembalilah, Aku tidak akan menyakiti hatimu lagi.” Sambungnya dengan air mata yang menetes perlahan.
“Ada apa dengan Jasson bi? Kenapa dia berteriak seperti itu bahkan dihadapan Qiao?.” Tanya Quenza dengan wajah kesal dan bingungnya.
“Apa buna meninggalkan ayah sehingga ayah terlihat sedih nek?.” Tanya Qiao yang sama sekali tidak memasukkan teriakan Jasson tadi kedalam hati.
Quenza langsung menoleh kepada putranya tersebut begitupun dengan Roky. “Kau tidak usah sok tau.” Ucap Quenza dengan mencubit hidung putranya tersebut.
“Kalo begitu dimana buna? Tidak mungkin kan buna tidak menemani ayah dalam keadaan ayah seperti ini.” Balas Qiao dengan yakin akan ucapannya barusan. Quenza tidak menjawabnya dan menoleh kepada Rere.
“Yang dikatakan Qiao benar, Tiyara pergi dan mereka sudah bercerai.” Jawab Rere dengan menundukkan kepalanya.
“Hah? Bagaimana bisa?.” Tanya Quenza yang sama sekali tidak percaya akan perkataan Rere.
“Aku sama sekali tidak pernah menceraikannya, Minggir.” Ucap Jasson yang tiba tiba datang dengan wajah datarnya.
“Hey kau mau kemana.” Teriak Rere saat putranya mulai menjauh. Jasson sama sekali tidak memperdulikannya dan terus saja melangkahkan kaki hingga akhirnya dia masuk kedalam mobil Roky yang ia ketahui.
“Berikan kuncinya.” Ucap Jasson dengan wajah datar meminta kunci kepada Roky. Roky memberikannya tanpa mengeluarkan satu patah katapun dan hanya termenung saja saat ini.
__ADS_1
“Hey Jasson, Kau masih sakit, Bagaimana………” Roky baru sadar akan Jasson yang masih sakit dan mencoba mengejarnya.
Brakkkk
“Bibi.” Teriak Quenza dan menurunkan Qiao dari gendongannya saat Rere terjatuh dalam perjalanan mengejar Jasson.
“Nyonya.”
“Tante.” Semuanya menghampiri Rere.
“Tidak usah memperdulikanku, Aku tidak apa apa, Kejar Jasson.” Balas Rere yang langsung berdiri sebab dia memang tidak apa apa.
“Sepertinya ini enak.” Ucapnya dan mencicipi makanan tersebut, Baru beberapa sendok dia makan ada seorang perempuan yang duduk dihadapannya.
“Bolehkan aku duduk bersamamu? Tidak ada kursi lain.” Ucap perempuan itu dengan senyumnya. Tiyara diam dan menatap sekeliling dan benar saja tempat itu sudah sangat penuh.
“Silahkan.” Jawab Tiyara dengan senyumnya. Wanita barusan tidak mengeluarkan suaranya lagi dan melahap makanannya begitupun dengan Tiyara yang juga melanjutkan makannya.
Dua tahun berlalu.
__ADS_1
“Huh.” Jasson langsung menyandarkan tubuhnya disandaran kursi duduknya saat ini.
“Sudah lebih dari satu tahun setengah aku mengurus perusahaan miliknya, Namun pemiliknya masih tidak ingin kembali.” Guman Jasson dengan wajah prustasinya. Jasson sudah bekerja cukup keras demi perusahaan meskipun Dery senantiasa membantunya sebab dia pemula dalam bidang perusahaan.
Disela sela kesibukannya dikantor dia selalu memiliki kesempatan untuk mencari istrinya yang sudah lebih dari dua tahun meninggalkannya itu. “Aku tidak boleh menyerah, Dia saja bisa menemukan mama bagaimana bisa aku tidak bisa menemukannya?.” Ucap Jasson yang kembali bersemangat dan hendak berdiri.
Cklekkk.
“Maaf menganggu tuan.” Ucap Derwin yang saat ini menjadi managernya. Jasson mengurungkan niatnya untuk berdiri dan kembali duduk dengan tegap.
“Ini ada undangan dari universitas xxxxxx di amerika serikat, Lusa mereka akan mengadakan acara wisuda dan perpisahan bagi para mahasiswa.” Ucap Derwin dengan memberikan kartu undangan kepada Jasson.
Jasson menerimanya dan melihat kartu itu dengan tatapan malas. “Aku tidak akan pergi, Kau saja yang pergi aku masih memiliki urusan lain.” Jawab Jasson dengan wajah datarnya dan mengambil jas miliknya dan mengenakannya.
“Ayah.” Teriak Qiao yang baru saja datang.
“Cih dasar lelaki selalu saja sok sibuk, Bisa bisanya dia meninggalkanku lagi.” Ketus Quenza dengan mendudukkan tubuhnya diatas kursi.
“Maaf tuan tapi anda sudah terlalu banyak menolak undangan dari orang orang apakah anda tidak ingin mencoba menghadirinya?.” Tanya Derwin meyakinkan Jasson.
__ADS_1
“Undangan apa?.” Tanya Quenza dengan wajah datarnya.