
Jasson sadar akan air mata yang menetes itu langsung berjalan mendekat kearah wanitanya tersebut. "Kenapa kau menangis? Apakah ucapanku tadi menyakiti hatimu?" tanya Jasson dengan mengusap air mata yang menetes diwajah itu.
Tiyara tertawa kecil saat memdengar pertanyaan tersebut dan tersenyum lebar menatap lelakinya itu. "Air mata ini menetes karna Dery dan bi Feiyang selalu menang dalam lomba tatap tatapan makanya tadi aku berlatih ya jadinya seperti ini, Sedikit perih hingga menangis tiba tiba" jawab Tiyara dengan senyumnya.
"Kau terlalu pandai berbohong kepadaku, Maafkan aku jika ada perkataanku yang menyakiti hatimu baik sekarang ataupun sebelumnya" ucap Jasson pula dengan menurunkan tangannya dari wajah wanita itu.
Tiyara terdiam namun diamnya langsung membuat wajahnya tersenyum. Jasson merapikan bantal agar istrinya hisa berbaring untuk istirahat bukan duduk lagi. "Berbaringlah dan istirahat" ucap Jasson dengan memundurkan bahu wanitanya dan membuatnya berbaring.
"Em" Tiyara menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang.
Jasson membalas senyuman dari wanita itu dan membalikkan tubuhnya kembali kekursi duduknya dan duduk disana dengan pandangan kekuar jendela. Tiyara yang melihat Jasson sudah tidak memperhatikannya langsung menghilangkan senyumnya dan menatap kedepan.
"Anak kecil yang pendiam ini sekarang sudah berubah, Dia lebih menjadi anak yang ceria dan selalu saja berbicara. Kau tau aku berubah kenapa?" guman Tiyara dengan tatapan sendu nya menatap kepala Jasson.
"Itu karna aku kesepian, Jika tidak aku sendiri yang mencoba menghibur diriku mungkin saat ini aku sudah gila dan depresi berat akibat tidak ada satupun orang yang bisa menghiburku. Aku harap kau benar benar tidak akan meninggalkanku lagi" guman Tiyara kembali.
"Namun jika memang kau merasa tidak bahagia bersamaku kau boleh pergi ketempat dimana kau akan bahagia, Itu tidak masalah bagiku namun jika kau tengah sedih ingatlah selalu ada aku yang bersamamu, Aku benar benar mencintaimu kak Jasson" gumannya dengan senyum yang mengembang namun air mata yang kembali menetes.
"Apa yang dia pikirkan sehingga menatapku saja bisa menangis? Apa dimasalalu aku pernah menyakitinya?" guman Jasson yang sedari tadi memperhatikan wanita tersebut yang tersenyum namun air matanya menetes.
"Jasson" panggil Tiyara. Jasson sontak langsung menoleh kebelakang menatap wanita itu.
"Apakah kau saat ini memiliki kekasih?" tanya Tiyara dengan terus saja tersenyum.
"Tidak, Tapi aku memiliki istri" jawab Jasson dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kau mengakuiku sebagai istrimu? Aku senang sekali mendengarnya" ucap Tiyara dengan senyum yang mengembang.
Jasson diam dan hanya memasang wajah datarnya saja menatap wanita itu. "Apakah ada wanita yang kau sukai saat ini?" tanya Tiyara kembali. Jasson langsung menatap tajam wanita yang sudah bertanya terlalu pribadi menurutnya itu.
"Ah jika tidak ingin menjawab baiklah, Maaf sudah tidak bertanya tentang urusan pribadimu" ucap Tiyara kembali dengan senyumnya dan kembali menatap langit langit ruang kamar tersebut.
Jasson tidak mengeluarkan suaranya lagi dan menatap kembali keluar jendela. "Huaaa, Sedikit mengantuk" ucap Tiyara dengan menguap dan memutuskan untuk beristirahat.
"Aku memiliki wanita yang aku sukai, Namun dia sudah tiada mungkin, Saat aku hendak menjemputnya aku tidak menemukan tubuhnya ditempat kejadian namun menemukan paman dan papa, Entah dia menghilang atau memang sudah tiada didunia ini aku tidak tau, Sudah bertahun tahun lamanya aku mencarinya namun masih saja tidak menemukannya. Bukankah menyedihkan percintaanku ini?" jelas Jasson dengan senyumannya merasa bodoh akan dirinya yang terus mencintai orang yang telah menyelamatkannya.
"Awalnya hanya kagum dan berterima kasih kepadanya, Namun semakin lama aku memikirkannya aku semakin jatuh hati kepadanya, Aku juga tidak pernah melihat wajah aslinya namun biji dan tatapan matanya sangat aku ingat dan belum aku temui dimata siapapun" jelas Jasson kembali.
"Tapi matamu sedikit mirip dengannya, Apakah kau adalah wanita itu?" tanya Jasson.
Tidak ada jawaban dari Tiyara membuat Jasson menoleh kearah bayangan wanitanya dan terlihat wanita itu sudah tertidur. "Cih aku pikir dia mendengarkan aku bercerita" umpat Jasson dengan kesalnya saat melihat wanita tersebut sudah tidur.
Jasson kembali diam dan kembali menatap kedepan menatap langit malam yang cukup cerah. "Papa pernah bilang untuk menjaga wanita pendampingmu kelak, Namun aku sama sekali tidak mencintainya" guman Jasson dengan menatap langit malam itu.
"Apakah cinta akan tumbuh seiring berjalan waktu? Apakah aku yakin akan bisa mencintai wanita yang aku temui kemarin?" guman nya kembali.
"Namun meskipun aku tidak mencintainya dia tetaplah wanitaku, Aku tidak mau menjadi papa dan membiarkan wanita lain seperti mama, Aku sudah berjanji kepada mama tidak akan menyakiti wanita" sambungnya kembali.
"Kau sudah lihat bukan bagaimana perlakuan papamu kepada mama? Mama harap mau kau mencintai wanitamu kelak atau tidak kau tidak boleh menyakitinya, Apa kau mau pendampingmu nanti mengalami hal yang sama seperti mama dan menerima penyiksaan yang seharusnya tidak ia dapatkan?"
"Aku akan mencintai pendampingku kelak, Aku tidak akan menjadi seperti papa"
__ADS_1
"Ucapanku dahulu kepada mama sangat berbeda dengan kkenyataannya" ucap Jasson dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dengan tangan yang ia letakkan didahinya.
"Sudahlah jangan memikirkan apapun lagi, Lebih baik aku istirahat" ucap Jasson dan berdiri dari duduknya.
Jasson berjalan kearah kursi sebrang namun langkah kakinya terhenti saat melihat wanitanya yang tertidur nyenyak itu. "Cepatlah sembuh" guman Jasson dengan senyumnya dan kembali melangkahkan kakinya menuju ketujuan awal.
Jasson menarik kursi disana dan membawanya kesamping ranjang pasien dan berbaring diatasnya dengan menghadap ke wanitanya. Perlahan mata kelelahan itu terpejam hingga akhirnya benar benar tertidur nyenyak diatas kursi itu.
Keesokan paginya.
Tok...tok..tok
Terdengar ketukan dari luar namun tidak membuat kedua orang yang tengah berada didalam ruangan tersebut bangun. "Nona saya masuk" teriak dokter Syeri dsn membuka pintu ruangan tersebut.
Dia mengintip terlebih dahulu kedalam ruangan tersebut dan terlihat pasien masih tidur dengan Jasson yang berada diatas kursi. "Dokter Jasson menemaninya semalaman?" guman dokter Syeri dengan wajah tidak senang saat melihat Jasson yang tertidur nyenyak diatas kursi didalam yang memang dikhususkan untuk keluarga pasien tidur.
"Wanita ini siapanya dokter Jasson? Dokter Jasson nampak perhatian kepadanya" guman Syeri kembali dengan menatap lekat wajah Tiyara yang masih tertidur itu.
Cahaya matahari yang menembus masuk kedalam ruangan tersebut melalui kaca jendela membuat Jasson perlahan membuka matanya. Dengan kebiasaannya bangun pagi membuatnya langsung bangun tanpa harus berguling kesana kemari untuk melanjutkan tidur.
Mata lelaki itu langsung menoleh keranjang wanitanya dan terlihat wanita itu masih tidur hingga akhirnya dia sadar akan kehadiran dokter Syeri didalam ruangan tersebut. "Dokter Syeri?" ucap Jasson dengan mengedipkan matanya takut mimpi.
"Ah iya dokter ini saya" jawab dokter Syeri dengan senyumnya.
Jasson langsung membuka lebar matanya dan duduk dari baringnya tersebut. "Ehem" Jasson nampak mencoba menstabilkan kerongkongannya.
__ADS_1
"Pagi pagi sudah kemari, Apa dia memanggil anda?" tanya Jasson dengan menatap wanitanya yang masih tidur itu.