My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Siapa namanya?


__ADS_3

“Haisss sudahlah cari penginapan saja.” Gumannya kembali yang sudah mengambil keputusan itu.


“Dimana Jasson.” Tanya Rere yang baru sampai pagi ini sebab diberitahu oleh Derwin.


“Didalam tante, Jasson hanya demam biasa saja.” Jawab Roky dengan wjaah biasa saja. Rere tidak mengeluarkan suaranya lagi dan masuk kedalam ruangan dan terlihat putranya masih memejamkan mata.


“Yatuhan mengapa jadi seperti ini.” Guman Rere dengan mengusap kepala putranya tersebut.


“Hah, Hah.” Lelaki itu menarik nafas dengan cukup cepat. “Kembalilah.” Ucapnya dengan menggenggam tangan ibunya yang berada diwajahnya.


Rere tidak menjawabnya dan memejamkan matanya saat melihat keadaan putranya tersebut. “Hem.” Roky hanya menatap hal tersebut.


“Duduk terlebih dahulu tante.” Ucapnya dengan memberikan kursi kepada Rere. Rere mengiyakannya dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi tersebut dengan tangannya yang sudah bisa dilepas.


“Em maaf pak, Apa bapak tau dimana tempat penginapan yang murah sekitar sini?.” Tanya Tiyara kepada sopir taxi.


“Ah ada beberapa yang saya tau nona, Untuk apartemen ada yang 700-1000$ nona.” Jawab pengemudi itu.


“Didaerah mana pak?. Boleh bawakan saya kesana?.” Tanya Tiyara yang berharap cukup besar.

__ADS_1


“Bisa nona.” Jawab sopir dengan senyumnya dan membawa Tiyara menuju tempat yang dimaksud.


Beberapa waktu menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai. “Sudah sampai nona.” Ucap sopir.


Tiyara menoleh keluar. “Ah ini, Aku mengetahui tempat ini.” Guman Tiyara saat melihat gedung tersebut. Sopir keluar dan membantu mengambilkan kursi roda milik Tiyara dan membantu Tiyara naik keatasnya.


“Ini pak.” Ucap Tiyara dengan senyumnya.


“Terima kasih banyak nona.” Ucap sopir itu pula.


Tiyara tersenyum. “Terima kasih juga pak.” Balas Tiyara. Sopir masuk kembali kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat itu untuk kembali mencari penumpang lain.


Tiyara kembali mendorong kursi rodanya dan perlahan terdorong masuk ke area apartemen tersebut. “Selamat datang nona.” Sapa pelayan dengan sopannya dan menatap Tiyara yang terlihat lusuh itu.


“Kau layani.” Ucap kasir yang baru saja menyambutnya kepada temannya. Temannya barusan menganggukkan kepala.


“Maaf nona apa ada yang bisa saya bantu?.” Tanya pelayan lain.


“Siapa namanya?.” Tanya Tiyara dengan wajah datarnya menatap pelayang yang tidak menghargainya itu.

__ADS_1


Pelayan tadi bisa mendengarkannya namun tidak memperdulikannya dan menyambut tamu lain. “Cih sombong sekali.” Umpatnya kesal.


“Maaf nona apakah…….”


“Iya, Saya ingin melihat kamar disini.” Potong Tiyara dengan wajah datarnya.


“Ah baik, Mari nona saya bantu.” Jawab pelayan dengan sopan dan ramah dan membantu Tiyara mendorong kursi roda dan masuk kedalam lift untuk melihat lihat apartemen tersebut.


“Ah ****, Ini proyek bersama perusahaan A.” Gumannya saat sudah melihat seluruh ruangan dengan seksama.


“Bagaimana jika orang orang mengenalku dan mengetahui keberadaanku?.” Guman Tiyara dengan wajah bingungnya.


“Tapi aku tidak memiliki banyak uang untuk naik taxi lagi dan mencari apartemen lain.” Gumannya kembali dengan wajah bingungnya.


“Bagaimana nona? Apakah anda tertarik?.” Tanya pelayan dengan sopannya.


“Haisss ambil saja, Toh identitasku bukan identitas sebelumnya.” Guman Tiyara.


“Iya, Siapkan satu kamar untuk saya.” Ucap Tiyara dengan senyumnya.

__ADS_1


“Baik nona, Mari kita kekasir dan mengurus semuanya.” Ajak pelayan yang kembali membantu Tiyara untuk mendorong kursi roda tersebut.


Setelah sampai dikasir Tiyara memberikan kartu identitasnya dan memberikan uang sewa kepada kasir. “Loh ibu Tiyara?.” Suara itu terdengar memanggilnya sehingga membuatnya menoleh kearah suara tersebut.


__ADS_2