
"Siapa bi?" tanya Jasson dengan wajah penasarannya terhadap siapa yang menghubungi rumah tersebut.
"Tidak diketahui siapa tuan, Namun orang itu mencari nona Tiyara" jawab pelayan.
"Mencariku?" tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Iya nona" jawab pelayan.
"Ah baiklah biarkan aku kesana" jawab Tiyara dan berdiri dari duduknya.
"Aku keruang tengah dahulu" pamit Tiyara dengan senyumnya kepada suaminya tersebut. Jasson tidak menjawabnya dan hanya memasang wajah datarnya saja dan Tiyara melangkahkan kakinya menjauh dari sana menuju keruang utama untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa ini? Kenapa mencariku? Ini bukan rumahku" uvap Tiyara dengan nada datarnya.
"Ah maaf nona, Ini saya Dery, Saya tadi menghu...."
"Oh kau, Kenapa tidak menghubungi ponselku saja?" teriak Tiyara yang kesal akan Dery yang menganggu waktu sarapannya.
"Hey kenapa kau berteriak?" tanya Jasson dari dapur.
"Tidak" balas Tiyara.
"Nona dia adalah suami anda jangan berteriak kepadanya" ucap Dery dengan mendekatkan kembali ponselnya.
"Cih jangan ikut campur, Katakan apa tujuanmu menghubungiku?" tanya Tiyara dengan kembali dengan wajah dan nada datarnya.
"Sertifikat rumah sakit yang atas nama tuan Jasson ada didalam paperbag tadi pagi, Saya lupa mengatakannya, Hanya perlu tandatangan tuan maka rumah sakit itu sudah sah menjadi pemilik tuan Jasson" jelas Dery.
"Oh baiklah terima kasih sudah memberitahu" jawab Tiyara dengan senyumnya dan langsung meletakkan telpon itu ketempatnya hingga terputus dan kembali melangkahkan kaki menuju kedapur.
Tiyara kembali mendudukkan tubuhnya ditempatnya dan kembali melanjutkan makannya. "Siapa yang menghubungimu?" tanya Jasson dengan wajah datarnya namun penasaran.
"Siapa lagi jika bukan Dery" jawab Tiyara dengan senyumnya dan melahap makanan yang tersisa. Jasson tidak menjawabnya dan membiarkan saja dan kembali melanjutkan makannya pula.
Setelah selesai makan Tiyara berjalan menaiki anak tangga namun tidak dengan Jasson yang menuju kehalaman belakang. "Cih mati ponsel jelek ini" umpat Tiyara dan membuang ke sembarang tempat ponselnya yang kehabisan batrai itu.
__ADS_1
Tiyara mengambil paperbag tadi dan membukanya dan benar saja ada amplop berwarna coklat didalam itu. Dia langsung mengambilnya dan terlihat ada namanya.
"Pemindahan nama dari Tiyara Watsons ke Jasson Drean" bacanya.
"Dery ini katanya hanya memerlukan tanda tangan Jasson saja" ucapnya dan mengambil pulpen yang ada disamping ranjang dan menandatangani ditempat seharusnya.
"Jika seperti ini baru hanya membutuhkan tanda tangan Jasson" ucap Tiyara dan menutup map tersebut dan kembali keluar dari kamarnya.
"Mana Jasson?" tanya Tiyara yang tidak menemukan Jasson diruang utama.
"Tuan kehalaman belakang nona" jawab pelayan.
"Terima kasih" balas Tiyara dengan senyumnya dan langsung melangkahkan kakinya berjalan menuju kehalaman belakang dengan membawa berkas yang diberikan oleh Dery tadi.
"Jasson" teriak Tiyara saat berada dihalaman belakang.
"Biasakan jangan berteriak" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan menutup buku yang ia baca.
"Maaf" ucap Tiyara dan berjalan mendekat kearah lelakinya tersebut dan duduk dihadapannya namun kembali berdiri lagi.
"Em" Jasson hanya memasang wajah datarnya dan menyembunyikan buku yang baru saja ia baca dari pandangan istrinya.
"Dery tadi menelpon dan dia bilang jika berkas pemindahan nama rumah sakit atas namamu ada di paperbag, Aku keatas untuk mengambilnya dan juga sudah menandatanginya jadi tinggal tanda tanganmu saja setelah itu rumah sakit resmi menjadi milikmu" jelas Tiyara dengan membuka map tersebut.
Jasson menatap kearah surat tersebut dan benar saja rumah sakit melati dijalan xxx sudah dibeli olehnya. "Aku tidak membutuhkannya, Aku bisa membuka rumah sakit sendiri dengan uangku sendiri" balas Jasson dengan memundurkan tubuhnya dan membuang pandangnya.
"Hey, Aku sudah membelikannya untukmu kenapa kau malah berbicara seperti itu dan menolaknya?" tanya Tiyara dengan wajah kecewanya.
"Aku sudah bilang jika...."
"Aku yang ingin memberikannya kepadamu, Rumah sakit tempatmu bekerja saat ini masih atas namaku, Apa mau kau aku pecat sekarang?" potong Tiyara dengan melototkan matanya menatap suaminya tersebut.
Jasson menatap kembali kearahnya dengan wajah datarnya dia menatap tajam wanita itu. "Jika kau menandatanganinya terserah mau bekerja atau tidak dirumah sakit ini, Aku tidak suka orang menolak pemberianku" ucap Tiyara kembali dengan memberikan pulpen dan juga surat tadi kepada Jasson.
"Apa kau tidak tau arti tidak?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Tau, Hanya saja aku tidak menerima penolakan" jawab Tiyara dengan menatap tajam suaminya tersebut.
Jasson terdiam sejenak dan beradu tatapan dengan wanitanya tersebut. "Tuan....." pelayan menghentikan langkah kakinya saat melihat tatapan mematikan dari kedua orang itu.
Tiyara langsung membuang pandangnya dan menatap ke sembarang arah sedang Jasson menoleh kearah pelayan yang memanggil. "Nanti saya...."
"Bawakan kemari" potong Jasson dengan wajah datarnya terus terusan. Pelayan mengiyakannya dan berjalan kearah keduanya dan meletakkan teh diatas meja.
"Saya permisi tuan, Nona" pamit pelayan. Tidak ada yang menjawab membuat pelayan langsung berlalu dengan cepat meninggalkan mereka berdua.
"Jika aku menandatangani ini kau tidak boleh lagi memaksaku apapun, Mau itu menguntungkanku atau tidak yang jelas kau tidak boleh memaksaku" ucap Jasson saat istrinya yang hanya diam.
"Baik, Aku tidak akan memaksakan mu apapun tapi kau tandatangani ini dahulu" balas Tiyara. Jasson tidak menjawabnya dan langsung menandatangani surat perpindahan nama rumah sakit.
"Jika menurut seperti ini membuatku tambah jatuh cinta kepadamu, Terima kasih suamiku tercinta" ucap Tiyara dengan mencium pucuk kepala lelaki itu dan langsung berlalu dari sana dengan membawa map berisikan berkas tadi.
Jasson terdiam saat mendapatkan ciuman tersebut dan mematung ditempat. "Kecuali mama tidak ada yang pernah mencium dahiku ini" guman Jasson dengan memegang dahinya yang baru saja dicium oleh wanitanya.
"Masalah pengalihan nama sudah selesai tinggal membuat sertifikat kepemilikan saja" ucap Tiyara dan menyimpan berkas tersebut ditempat yang aman.
"Tidak tau lagi apa yang harus aku kerjakan" guman Tiyara dan menatap sekeliling kamar namun dia tidak menemukan apa apa.
"Jika aku ke dekat Jasson pasti akan sangat mengganggunya, Tadi saja buku yang ia baca langsung ia simpan nampak sekali jika dia tidak mau aku tau apa yang sedang ia baca tadi" ucap Tiyara dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi didepan jendela kamar tersebut.
"Aku baru sadar jika disini hanya ada rumah dia dan ada dua rumah lainnya. Tempat ini nampak cukup terpencil" ucap Tiyara saat memperhatikan sekeliling pekarangan rumah yang hanya berdiri dua rumah lainnya.
"Apa dia merasa terancam tinggal dikeramaian?" guman Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Ah tidak mungkin, Mereka yang menyerang waktu itu sudah dipastikan mengincar ayah bukan paman jadi mana mungkin akan menyerang Jasson" ucapnya kembali.
"Atau mungkin dia memang menyukai ketenangan seperti ini?" tanya Tiyara kembali dengan menatap banyaknya pepohonan segar.
"Eh tapi jika menaiki sepeda berdua dengannya bukankah sangat romantis? Melewati banyaknya pepohonan dengan sama sama menggunakan pakaian putih, Astaga bukankah itu cukup romantis?" ucap Tiyara membayangkan apa yang ia ucapkan.
Mengelilingi tempat yang dipenuhi banyaknya pepohonan dan kebersihan yang terjaga membuanya suka akan perhaluannya saat ini. Membayangkan kebahagiaan yang akan dijalaninya bersama suaminya. "Ah tidak aku harus menyuruh Dery membawakan sepeda kemari" ucap Tiyara dengan senyumnya dan berdiri dari duduknya.
__ADS_1