My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Jasson jangan kemari


__ADS_3

Ferdi menarik jas yang dikenakan wanita itu dan terlihat ada microphone disana. "Licik sekali kau."


Plakkkkk


Ferdi langsung menampar wanita itu sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah sedangkan Tiyara tidak merespon sama sekali dan hanya memasang wajah datar dan tatapan tajam menatap Ferdi.


"Tinggalkan dia disini dan biarkan dia mati, Sebelum Rere ditemukan aku tidak akan membiarkanmu bebas." ucap Ferdi dengan melototkan matanya dan meninggalkan Tiyara diruang bawah tanah itu.


"Hah, Hah." Tiyara langsung bersandar dan menatap sekeliling ruangan tersebut.


"Sudah tidak ada celah sedikitpun untukku kabur, Namun aku harap tidak ada yang kemari untuk menyelamatkanku agar semuanya aman, Tidak apa aku mati disini, Bibi juga sudah bebas dan Jasson tidak akan kesepian lagi." guman Tiyara dengan senyumnya dan nafas yang naik turun dengan cepat.


"Jasson jangan kemari, Aku sudah menyelamatkan bibi." ucap Tiyara dengan membuang nafasnya dan matanyapun perlahan terpejam akibat kelelahan.


"Nyonya bertahanlah." ucap pengawal yang membawa mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kerumah sakit.


Sesampai dirumah sakit semuanya turun dan memanggil dokter dengan nada tinggi. Para perawat langsung membawa troli kepada mereka dan Rere langsung diletakkan diatas sana.


"Ya tuhan, Aku lupa, Tadi bibi sedikit terluka, Bagaimana kabarnya?." ucap Tiyara yang langsung hawatir mengingat Rere.


Tiyara langsung berdiri dan melihat keluar namun dia sama sekali tidak melihat celah agar suaranya terdengar sehingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk berteriak dan mencari cara agar kurangannya bisa terbuka. "Ah." tangan yang terluka itu kesakitan sehingga membuatnya kembali duduk.


Tiyara memejamkan matanya, Tangannya langsung menggenggam satu sama lain, Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. "Ya tuhan aku mohon selamatkan bibi, Temukan bibi segera dengan Jasson, Sampaikan ini kepada orangku tuhan." gumannya berdoa meminta hal tersebut tanpa berharap dirinya selamat.


"Bagaimana keadaan nyonya?." tanya pengawal dengan tatapan tajamnya kepada dokter.


"Hah, Hah." Dery datang dengan nafas yang naik turun dengan cepat.


"Dimana nona? Apa nyonya Rere baik baik saja? Kenapa kalian sampai kerumah sakit?." tanya Dery dengan wajah hawatirnya.


"Pasien sedikit kehilangan darahnya, Entah karna apa yang jelas asien kekurangan darah dan kurang istirahat, Beliau harus menginap beberapa hari dirumah sakit untuk mengembalikan kondisinya, Setelah ini akan ada dokter yang membantu mentranfer darah kepada tubuh pasien." jelas donter dengan senyumnya.

__ADS_1


"Tapi dia baik baik saja?." tanya Dery dengan wajah hawatirnya.


"Selain yang saya jelaskan tadi beliau baik baik saja." jawab dokter.


"Syukurlah, Terima kasih." ucap Dery yang lega.


"Sama sama, Saya permisi terlebih dahulu." pamit dokter dan langsung meninggalkan Dery dan yang lainnya.


Dery tampak lega akan hal tersebut namun dia masih belum mendapatkan jawaban akan keberadaan Tiyara. "Kalian belum menjawan pertanyaanku, Dimana nona?." tanya Dery dengan melototkan matanya.


Pengawal langsung menundukkan kepalanya, Dia mencoba menyiapkan mental dan fisik saat tau jika Dery akan mengamuk sebab dia meninggalkan Tiyara. "Nona ditahan oleh Ferdi, Ada beberapa pengawal yang mencoba menyelamatkannya disana, Namun saya tidak tau bagaimana keadaan disana sekarang sebab Nyonya sudah tidak sadarkan diri." jelas pengawal.


"Huh, Hah." Dery mencoba menenangkan dirinya agar tidak membiat keributan dirumah sakit meskipun dia sangat kesal akan pengawal meninggalkan Tiyara sendiri namun dirinya juga cukup lega saat mendengar ada beberapa pengawal yang tinggal disana mencoba menyelamatkan Tiyara.


"Buang mayat sampah ini." ucap Ferdi saat dua pengawal tumbang saat mencoba menyamatkan Tiyara.


"Cih, Dasar bocah ingus, Kau masih terlalu kecil untuk melawanku." umpat Ferdi dengan kesalnya saat melihat rekaman cctv yang memperlihatkan Tiyara tengah mencoba menembus tahanan.


Ferdi keluar dari kamarnya dan memanggil pelayan. "Berikan dia makanan." ucap Ferdi dengan wajah datarnya kepada pelayan dan kembali masuk kedalam kamarnya.


"Maafkan aku, Aku sepertinya tidak pulang malam ini, Dirumah sakit banyak sekali pasien dan aku harus menanganinya, Mungkin besok pagi atau siang aku akan kembali kerumah."


Tingg..


Pesan masuk kedalam ponsel Tiyara yang ada ditangan pengawal sehingga pengawal melihatnya dan terlihat pesan dari Jasson. Dery menatapnya dengan tatapan tajam dan pengawal langsung memberikan ponsel tersebut kepada Dery, Dery menerimanya dan membuka pesan dari Jasson itu.


Dia membacanya dan membuang nafas panjang setelah itu membalas pesan tersebut.


"Tidak apa apa, Aku juga mendapatkan pekerjaan mendadak diluar negeri, Awalnya aku ingin mengajakmu namun kau memberikan pesan seperti ini yasudah aku akan berangkat sendiri." balas Dery mengatas namakan Tiyara kepada Jasson.


"Kenapa mendadak sekali? Kita bisa pergi bersama besok, Tunda saja sampai besok, Besok aku akan kembali cepat setelah itu baru kita berangkat." balas Jasson pula.

__ADS_1


"Tidak bisa, Sekarang aku sudah berada di bandara bersama Dery yang mengantarku, Sampai jumpa." balas Dery kembali.


"Hey, Kau meminta izin saat kau sudah pergi, Bagaimana bisa kau melakukan ini." balas Jasson pula dengan disertai emoji kesalnya.


"Maafkan aku." balas Tiyara.


"Dokter pasien sudah berada diruang operasi." ucap suster.


"Baiklah hati hati, Kabari jika sudah sampai, Aku akan kembali keruang operasi menangani pasien." kirim Jasson.


"Baik." balas Dery singkat sehingga membuat Jasson mengerutkan dahinya namun dia tidak mempermasalahkannya dan langsung menuju keruangan operasi.


Krekkkkk


Pintu terbuka sehingga Tiyara menoleh kearahnya. Pelayan masuk dengan membawakan obat dan makanan untuk Tiyara. Tiyara hanya diam dan memperhatikan apa yang dilakukan pelayan kepadanya, Pelayan memberikan obat kepada luka Tiyara dan memberikan makan wanita itu. "Kenapa kalian malah merawatku? Bukannya tujuan kalian membunuhku?." tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Katakan kepadanya bahwa kalian kasihan dan diam diam melihatnya." ucap Ferdi.


"Aku bisa mendengarkannya." ucap Tiyara saat bisa mendengar perkataan Ferdi melalui mic yang ada pada pelayan.


Ferdi langsung mematikan mic yang terhubung. "Cih bocah kecil ini berani nya dia." ucap Ferdi dengan kesalnya.


"Jika kalian ingin membunuhku jangan seperti ini, Takutnya nanti saat aku sudah memiliki tenaga kalian tidak akan bisa menangkapku lagi." ucap Tiyara dengan wajah datarnya.


"Maaf nona, Kami permisi." pamit pelayan dengan meninggalkan makanan ditempat Tiyara dan meninggalkan Tiyara sendirian.


Tiyara sadar akan adanya cctv dan melihat pelayan yang menutup pintu dengan melihat tata letak pintu tersebut. "Aku bisa menorobosnya." guman Tiyara dan menatap pula ke cctv.


"Kalian tetap disini, Jaga nyonya dan perketat penjagaan, Besok aku akan membawa nona kemari, Melepaskannya dengan keadaan selamat." ucap Dery.


"Tapi tuan....."

__ADS_1


"Kau diam saja." potong Dery dengan wajah datarnya dan meninggalkan rumah sakit untuk pulang mengatur rencana untuk besok.


__ADS_2