My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Ah sebentar


__ADS_3

"Tiyara kau biasanya tidak seperti ini, Kenapa hari ini kau sangat terlihat kelelahan?." tanyanya kepada dirinya sendiri.


"Apa dia baik baik saja?." guman Jasson dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar istrinya.


Dengan perlahan dia membukakan pintu kamar tersebut dan tidak diketahui oleh siapapun. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan dan terlihat Tiyara tengah menatap keluar jendela. "Apa ya rasanya digendong hingga tertidur?, Aku rasa aku benar benar tidak pernah merasakannya." ucap Tiyara dengan mengingat ingat kenangan yang mungkin baik itu.


"Ah iya memang tidak pernah, Eh tapi kenapa aku tadi meminta Jasson menggendonku tadi?." tanyanya dengan wajah bingungnya.


"Ah sebentar, Kenapa aku menjadi seperti ini?, Apa yang aku pikirkan hingga menjadi sedikit sedih seperti ini?, Masalah orang yang mencuri sudah ditangani, Uang?, Aku tidak miskin sehingga sedih karna uang, Lalu apa yang aku sedihkan?." tanya Tiyara dengan memikirkan apa isi pikirannya.


"Heh, Wanita aneh." guman Jasson dengan senyumnya saat bisa mendengar suara tersebut.


"Mungkinkah karna pembunuh ayah dan paman belum terpecahkan hingga aku menjadi seperti ini?." tanya Tiyara. Jasson langsung memasang wajah datarnya dan menatap kedepan.


"Bukan itu juga, Jadi apa?." tanya Tiyara kepada dirinya sendiri.


"Pembunuhan ayah?, Ayahnya juga mati karna dibunuh?." guman Jasson dengan wajah bingungnya.


"Ah sudahlah lebih baik mencoba mengajaknya bicara saja dari pada dia nanti gila karna memikirkan apa yang dia pikirkan." gumannya dan berjalan mendekat kearah wanitanya yang tengah duduk santai itu.


"Jadi...."


"Memikirkan apa?." tanya Jasson dengan wajah datarnya dan mendudukkan tubuhnya disamping wanita nya tersebut.


"Memikirkan apa yang sedang aku pikirkan." jawab Tiyara jujur dengan wajah masih bingung sebab belum memecahkan apa yang ia pikirkan.


"Heh, Bagaimana bisa kau berpikir apa yang kau pikirkan?." tanya Jasson dengan diiringi oleh senyum manisnya.

__ADS_1


Tiyara terdiam dan menatap lekat lelakinya yang baru pertama kalinya tersenyum tulus menatapnya itu. "Wah kau memang tampan, Tuhan terlalu sempurna saat menciptakanmu." ucap Tiyara dengan memegang kedua pipi lelaki itu.


"Lihatlah, Mata yang besar, Hidung yang mancung, Bibir yang sedikit tipis, Ah tidak sedikit tebal dan bulu mata yang lentik, Benar benar tampan." ucap Tiyara dengan memegang satu persatu yang ia sebutkan tadi sambil tersenyum lebar.


Jasson terdiam saat mendapatkan sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh wanita tersebut dan menatap lekat wajahnya pula. "Saat melihatku apakah kau mengingat seseorang?." tanya Tiyara dengan menatap lekat lelaki tersebut.


"Tidak." Jasson langsung mengalihkan pandangnya kembali menatap keluar jendela.


"Baik baik." balas Tiyara yang kembali duduk seperti semula.


"Jasson, Apakah kau mau menggendongku seperti permintaanku tadi?." tanya Tiyara yang kembali ingin digendong.


Jasson langsung menatap wanita itu. Tatapan tulus penuh keinginan sangat bisa dilihat olehnya. "Tapi sebentar karna....."


"Iya" jawab Tiyara yang langsung menggelayut dileher suaminya tersebut. Jasson tidak melarangnya dan mengusap lembut punggung wanita itu.


"Ini sangat nyaman." bisik Tiyara dengan wajah senang dan perlahan memejamkan matanya.


"Sudah tidur?, Cepat sekali." ucap Jasson dengan menyingkirkan rambut yang menghalanginya melihat wajah istrinya.


"Cepat sekali kau tidur, Apakah benar benar kelelahan?." tanya Jasson yang kembali mendekat kearah ranjang.


Dengan sangat perlahan dan hati hati dia membaringkan tubuh kecil itu diatas ranjang. "Mengurus perusahaan besar memanglah tidak mudah, Pantas saja kau benar benar kelelahan." ucap Jasson dengan senyumnya menatap wanita yang tengah tertidur itu.


"Tidurlah dengan nyenyak wanitaku." bisiknya lalu mencium pucuk kepala wanitanya tersebut.


"Aku akan kembali kekamarku." ucapnya dengan mengusap kepala itu dan keluar dari kamar itu menuruni anak tangga kembali kekamarnya.

__ADS_1


Dua hari berikutnya.


"Gaun ini tidak pernah aku pakai kemana mana, Jadi untuk menghadiri pesta dengan lelakiku tercinta aku harus terlihat cantik dan menggunakan gaun yang cantik juga." ucap Tiyara dengan senyumnya dan langsung menganti pakaiannya dengan gaun yang sudah disiapkan nya.


"Dua hari ini pengawal hanya mendapatkan robekan kain saja ditempat kejadian dan itu menandakan penyelidikan dahulu tidak diselidiki dengan bagus." ucap Tiyara yang sedikit kesusahan menarik kancing baju yang terletak dipunggungnya.


"Cih susah sekali." umpat Tiyara yang terus saja mencoba namun tidak bisa.


"Jika sudah seperti ini terpaksa meminta bantuan orang." ucapnya dan keluar dari kamarnya.


"Bibi." panggil Tiyara saat membuka pintu dan terlihat pelayan berlalu dihadapannya.


"Iya nyonya, saya." ucap pelayan tersebut dengan menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Tiyara.


"Tiyara kesusahan menaikkan kancing baju ini, Bisa tolong Tiyara?." tanya Tiyara dengan nada lembutnya.


"Ah iya nyonya, Saya bisa." jawab pelayan tersebut. Tiyara tersenyum dan langsung mengalihkan tubuhnya membelakangi pelayan tersebut.


"Tiyara apa....."


Langkah kaki Jasson terhenti begitupun dengan ucapannya saat melihat punggung wanitanya yang terbuka lebar dihadapannya. "Eh?." ucap pelayan saat melihat bekas luka dipunggung Tiyara.


"Maaf nyonya, Punggung anda kenapa?." tanya pelayan yang menghentikan tangannya dan menyentuh bekas luka itu.


"Ah tidak apa apa bi, Apakah sudah selesai?." tanya Tiyara.


"Ah sebentar nyonya." ucap pelayan dan menaikkan kancing baju tersebut.

__ADS_1


"Sudah selesai nyonya." ucap pelayan dengan menjauh dari Tiyara.


"Bukankah cukup lancang menyentuh tubuh majikan?." tanya Jasson dengan wajah datarnya membuat pelayan langsung menoleh kearahnya begitupun dengan Tiyara.


__ADS_2