
Tiyara tidak menjawabnya dan masuk kedalam rumah tersebut dengan disambut oleh para apelayan. Tiyara memperhatikan seluruh pelayan teraebut untuk mencari Rere. "Bibi." gumannya saat bisa mengenali wanita yang tengah menundukkan tubuh itu.
Tiyara tidak ingin berhenti dan terus melangkahkan kakinya hingga menuju keruang utama untuk membahas pekerjaan dengan Ferdi.
"Silahkan duduk bu." ucap Ferdi mempersilahkan Tiyara untuk duduk. Tiyara tidak menjawab dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi tersebut.
"Siapkan minuman dan makanan." ucap Ferdi dengan melototkan matanya kepada Rere.
"Baik tuan." jawab Rere menganggukkan kepalanya mengiyakan perintah Ferdi.
Tiyara hanya diam dan menatap wanita paruh baya itu. "Itu benar benar bibi." guman Tiyara yang yakin jika itu adalah Rere.
"Ini proyek yang saya ajukan bu." ucap Ferdi dengan menyodorkan berkas miliknya tersebut.
"Saya sudah membacanya, Saya hanya ingin anda sedikit menjelaskannya saja kepada saya dan......."
Swirrrr
"Ah, Panas, Panas." ucap Tiyara saat betis dan tangannya terkena siraman air panas yang dibawakan Rere.
Rere menoleh dan langsung kebingungan menatap wanita tersebut namun dia langsung membantu membersihkan air tersebut. "Bagaimana bisa kau menjatuhkan air panas kepadanya." teriak Ferdi dengan mengangkat tangannya hendak memukul Rere namun Tiyara menahannya.
"Memukul pelayan termasuk tindakan kriminal, Apa anda ingin polisi datang kemari?." tanya Tiyara dengan wajah datarnya tanpa memperdulikan sakit di tubuhnya lagi.
"ma-maaf bu, Cuma dia patut diberi pelajaran karna lalai dan menumpakan minuman kepada anda." balas Ferdi dengan menatap kesal kepada Rere yang sudah mengacaukan suasana disana.
"Tidak apa apa, Boleh bantu saya membersihkannya?" tanya Tiyara dengan memegang bahu Rere dan tersenyum menatapnya.
Rere mengangkat kepalanya dan terlihat wanita dihadapannya tengah tersenyum menatapnya. Dia menatap kepada Ferdi dan Ferdi langsung melototkan matanya dan menggerakkan sedikit kepalanya. "Mari nona." ajak Rere dengan wajah ketakutannya.
Tiyara mengiyakannya dan mengikuti wanita itu menuju kekamar mandi umum. "Kenapa anda menyelunjurkan kaki anda saat saya datang? Apa anda sengaja melakukannya?." tanya Rere dengan keberanian lebih mengeluarkan suara kepada Tiyara.
__ADS_1
Tiyara belum menjawab sebab dia bisa mendengar ada suara kaki diluar toilet. "Ini tidak apa apa, Hanya kotoran kecil saja." jawab Tiyara yang entah kemana dengan telinga masih bisa mendengar suara orang diluar.
Saat orang orang tidak ada yang pergi Tiyara menarik tangan Rere dan mendekatkan bibirnya ketelinga Rere sehingga Membuat Rere semakin takut. "Bibi tidak usah hawatir, Ini aku Tiyara, Aku akan mengeluarkan bibi dari sini asalkan bibi diam dan melakukan seluruh aktivitas seperti biasa Ferdi tidak akan curiga sedikitpun kepada kita, Jalan keluar satu satunya dari rumah ini tanpa diketahui oleh orang adalah jendela kiri, Disana tidak ada penjaganya dan setelah itu Tiyara mohon dengan bibi agar bibi memanjat dan mengeluarkan tenaga sedikit dan Tiyara mohon juga agar bibi nanti hati hati takutnya bibi terluka terkena kawat pembatas, Diluar mungkin sudah ada beberapa orang orang Tiyara, Dia akan menyelamatkan bibi nanti." jelas Tiyara yang kembali duduk seperti semula.
Rere menatap lekat wajah wanita itu sedangkan Tiyara dia terus saja tersenyum menatal Rere. "Ka-kau benar benar Tiyara?." tanya Rere dengan memegang wajah wanita itu.
"Shhhttt., Kecilkan suara bibi nanti akan terdengar oleh Ferdi." bisik Tiyara kembali. Rere langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Tiyara.
"Yasudah ayo kita keluar, Ini sudah selesai." ajak Tiyara dengan senyumnya dan keluar terlebih dahulu.
"Pak Ferdi?." ucap Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Ah maafkan saya bu, Saya hanya menghawatirkan anda." ucap Ferdi dengan senyumnya dan membantu Tiyara untuk kembali keruang depan dan kembali melanjutkan kerjanya.
Rere hanya berdiam diri dan Tiyara menganggukkan kepalanya saat Ferdi tengah lengah menjelaskan proyek kepadanya. Rere langsung pergi ketempat yang dimaksud oleh Tiyara dan menuruti perintah Tiyara tadi. Pengawal bisa mendengar perkataan Tiyara melalui microphone yang terhubung dan menunggu diluar.
"Nyonya sudah mulai menampakkan kepalanya." ucap pengawal saat bisa melihat Rere.
"Sudah ingin jam dua belas, Saya permisi sebab setelah ini saya akan melakukan penerbangan. " pamit Tiyara dengan senyumnya.
Ferdi mengiyakannya dan Tiyara berjalan keluar dari rumah itu namun dirinya dikepung oleh banyaknya pengawal Ferdi. Dengan wajah bingung Tiyara menatap Ferdi. "Kau fikir aku bodoh? Kau mengintai sejak pagi dengan mobil yang kau letakkan jauh dari area rumahku, Kau masuk kemari dengan iming iming proyek dan sebenarnya kau ingin menyelamatkan wanita tua itukan?." tanya Ferdi dengan senyum liciknya sehingga membuat Tiyara membulatkan matanya kaget mendengar perkataan Ferdi.
"Bawa Rere kemari." perintah Ferdi.
"Wanita itu sudah tidak ada diarea rumah tuan." ucap pengawal.
"Loncat nyonya." teriak pengawal yang berancang ancang untuk menangkap Rere. Rere yang takut masih terlihat ragu.
"Apa? Cepat dapatkan wanita itu." teriak Ferdi dengan kesalnya dan Tiyara langsung berlari untuk melarikan diri namun dirinya sudah dikepung oleh para pengawl Ferdi.
Dengan keahlian yang cukup dia melawan para pengawal sehingga tangannya terkena pisau. "Ah." Tiyara langsung melemah namun dia mencoba bangkit lagi namun langsung ditangkap oleh Ferdi.
__ADS_1
Prangg......
Piring makan Jasson langsung terjatuh, Lelaki itu langsung diam dan menatap piring tersebut yang sudah hancur. "Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?." guman Jasson dengan wajah bingungnya.
"Tuan, Apa anda baik baik saja?." tanya pengawal yang ikut dengannya.
"Kenapa kau ikut kemari?." tanya Jasson dengan wajah bingungnya.
"Akan aku lepaskan kau setelah kau memberikan wanita itu kepadaku." ucap Ferdi dengan mencengkram dagu wanita itu.
"Cepatlah nyonya." teriak pengawal yang membuat Tiyara hawatir dan langsung menyikut Ferdi. Saat terlepas dia langsung berlari ketempat dimana Rere kabur tadi dan terlihat Rere masih berada diatas.
"Tangkap mereka." teriak Ferdi sehingga seluruh pengawal mengejar Tiyara.
"Bibi cepat loncat." teriak Tiyara yang menghajar beberapa pengawal namun Ferdi datang dan hendak menembak Rere. Tiyara sadar akan hal itu dan langsung meloncat tinggi dan mendorong Rere hingga Rere terjatuh.
Dorrrr...
"Ah." lagi lagi tangan wanita itu kembali terluka terkena kawat sehingga membuat luka goresan panjang ditangannya.
"Ah." teriak Rere yang langsung mendarat ditangkapan para pengawal Tiyara.
Banyaknya pengawal Ferdi langsung keluar. "Bawa bibi pergi dari sini sekarang." teriak Tiyara sehingga pengawal membawa mobil dan pergi dari sana.
Pengawal Ferdi menembakkan pistol kepada mobil itu namun untungnya mobil itu di desain khusus agar tidak macetnjika terkena peluru pistol.
Ferdi langsung menangkap Tiyara yang sudah cukup lemah itu. Ferdi menyeret wanita itu dan membawanya. keruang bawah tanah, Dia langsung mengurung wanita itu didalam kurungan sedangkan Tiyara tidak memberontak sedikitpun sebab takut tenaganya terbuang sia sia.
Ferdi menarik jas yang dikenakan wanita itu dan terlihat ada microphone disana. "Licik sekali kau."
Plakkkkk
__ADS_1
Ferdi langsung menampar wanita itu sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah sedangkan Tiyara tidak merespon sama sekali dan hanya memasang wajah datar dan tatapan tajam menatap Ferdi.