
"Kalian tetap disini, Jaga nyonya dan perketat penjagaan, Besok aku akan membawa nona kemari, Melepaskannya dengan keadaan selamat." ucap Dery.
"Tapi tuan....."
"Kau diam saja." potong Dery dengan wajah datarnya dan meninggalkan rumah sakit untuk pulang mengatur rencana untuk besok.
"Kenapa mendadak sekali Tiyara pergi, Biasanya mau apapun dia selalu menghubungiku terlebih dahulu." guman Jasson dengan berjalan masuk kedalam ruang operasi.
"Semuanya sudah siap dok." ucap suster saat Jasson datang.
"Baik." jawab Jasson menganggukkan kepalanya dan memulai pekerjaannya dengan kembali fokus.
Jam dua malam saat ini, Jasson masih bekerja, Dery dia baru saja datang dengan beberapa pengawal yang mengikutinya untuk menyelamatkan Tiyara. Dia mencari celah masuk namun pengawal Ferdi langsung mengetahuinya sehingga terjadilah kembali perkelahian dirumah tersebut.
"Siapa lagi yang berkelahi." teriak Tiyara saat mendengar suara tembakan yang terus menerus dari ruang tertutup itu.
"Haisss." Dery dan beberapa pengawal memilih untuk menyembunyikan diri sehingga beberapa pengawal Ferdi yang mereka hadapi sudah tumbang seluruh pengawal yang dibawa oleh Dery terpaksa mundur saat lebih banyak pengawal Ferdi yang keluar.
Dery dan yang lainnya meninggalkan tempat itu. "Sudah ingin pagi aku belum bisa menyelamatkan nona, Bagaimana jika nyonya bangun." guman Dery yang sangat menghawatirkan Tiyara.
"Kenapa bisa seperti ini." teriak Ferdi saat banyak pengawalnya yang tumbang.
"Pengawal dari kurungan tadi menyerang kemari, Saat ingin melawan pengawal dari orang kurungan sudah menembak terlebih dahulu, Uhukkk." pengawal itu mengeluarkan darah dari mulutnya dan langsung tidak sadarkan diri dihadapan Ferdi.
"Bawa dia kerumah sakit dan yang sudah mati kau buat seperti biasa." ucap Ferdi dan langsung masuk kembali kedalam rumah.
Dia berjalan menuju keruang bawah tanah dan membuka pintu kurungan untuk menuju ke kurungan Tiyara. Tiyara langsung menoleh kearahnya dengan tatapan tajamnya begitupun dengan Ferdi. Ferdi membuka kurungan itu.
__ADS_1
Plakkkkk
Tiyara langsung terpental saat mendaatkan tamparan atau pukulan keras dari Ferdi. "Ah, ****." umpat Tiyara saat sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah.
Ferdi kembali mendekat dan mencengkram dagu wanita itu. "Berani sekali kau menyuruh suruhanmu kemari dan menghabiskan seluruh orangku yang tengah berjaga." pelototnya dengan semakin memperkencang cengkramannya.
"Apa? Orang suruhanku kemari?." tanya Tiyara dengan wajah bingung.
"Tidak usah berpura pura bodoh kau."
Brakkkk....
"Ah." Ferdi menendang wanita itu hingga punggungnya terkena kursi kayu yang ada disana.
"Hah, Tahan Tiyara." guman Tiyara dengan menarik nafas panjang mencoba menahan rasa sakit itu.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu kepadaku, Kau pikir kau itu siapa hah." teriak Ferdi dengan menginjak tubuh wanita itu.
Tiyara hanya diam, Wajahnya smaa sekali tidak mengekpresikan apapun saat ini. Ferdi menendang tubuh wanita itu dan menginjaknya lebih keras, Tiyara hanya memejamkan matanya kesakitan dengan disisi lain Jasson sangat fokus mengoperasi orang saat ini.
"Hah, Hah." Setelah lelah Ferdi akhirnya berhenti sendiri dan menghempaskan tubuh Tiyara ke dinding. Wanita itu masih diam saja dan Ferdi langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali kelantai umum. Wajah lelaki paruh baya itu sangat terlihat kelelahan sehingga tidak ada satupun pelayan yang menyapa dan hanya menundukkan kepala saja saat dia lewat.
"Tidak ada yang perlu ditangisi, Bibi sudah bebas, Begitupun dengan Jasson." guman Tiyara dengan senyum dan mata yang berbinar.
Tiga hari berikutnya.
"Wanita ini benar benar tidak menghubungiku? Bagaimana bisa dia bertahan lama tidak menghubungiku?." umpat Jasson dengan kaki yang terus melangkah di trotoar untuk berjalan menuju halte bis.
__ADS_1
Ferdi tersenyum saat melihat Jasson yang terus melihal ponsel dan memilih turun dari mobilnya tersebut. "Sebelum Tiyara kembali bagaimana jika aku belajar bela diri menembak dan semacamnya?." ucap Jasson dengan menurunkan ponselnya.
"Agar nanti saat Tiyara kembali aku bisa menjaganya, Dibandara kan biasanya banyak orang dan disana kesempatan orang orang jahat juga untuk beraksi, Jadi aku harus bisa melindunginya agar dia tidak....."
"Maaf anak muda, Saya dengar kau ingin belajar bela diri ya?." Potong Ferdi seperti wajah tidak mengetahui apapun.
Jasson langsung menoleh kearahnya. "Kenapa memangnya?." tanya Jasson dengan wajah datarnya.
"Ini." ucap Ferdi dengan memberikan selembar kertas kepada Jasson dan ternyata itu adalah brosur. Jasson menatap bingung kearahnya.
"Kau bisa membacanya." ucap Ferdi dengan tersenyum lebar menatapnya.
Jasson tidak menjawabnya dan membuka dan membaca brosur tersebut dan itu adalah brosur pelatihan menembak dan bela diri. Jasson menatap kepada lelaki yang tidak ia kenali itu. "Jika kau berminat bisa datang ketempat itu." ucap Ferdi dengan senyumnya menunjuk alamat yang ada di brosur tersebut.
"Kebetulan sekali aku tengah mencari pelatihan ini. Tapi......" Jasson menatap tajam kepada Ferdi namun tampang Ferdi tidak terlihat mencurigakan sama sekali.
"Guru." pemuda menyapa dengan wajah tidak percaya melihat Ferdi.
Ferdi menoleh begitupun dengan Jasson. "Oh, Guntur." ucap Ferdi dengan antusiasnya.
"Benar anda, Sangat senang bertemu dengan anda." ucap Guntur dengan senyumnya dan memeluk Ferdi. Tubuh kekar sangat bisa dilihat oleh Jasson, Jasson memperhatikan Ferdi yang tengah mengobrol bersama dengan lelaki bertubuh kekar itu dan melihat bentuk tubuhnya pula yang hampir mirip mirip.
"Yasudah guru saya permisi terlebih dahulu, Ada urusan yang harus saya urus." ucap Guntur dengan senyumbya dan Ferdi menganggukkan kepalanya, Gunturpun meninggalkan mereka.
"Maaf, Dia adalah murid saya yang juga mengikuti pelatihan itu, Yasudah saya memiliki urusan. lain ditempat latihan, Jika kau mau kau bisa langsung ke alamatnya ya." ucap Ferdi dengan senyumnya dan berjalan meninggalkan Jasson.
"Tunggu." Jasson menghentikan langkah kaki Ferdi dan mendekat kepada Ferdi.
__ADS_1
"Iya?." balas Ferdi dengan menoleh dan tersenyum lebar menatap Jasson saat ini.