
Mengelilingi tempat yang dipenuhi banyaknya pepohonan dan kebersihan yang terjaga membuanya suka akan perhaluannya saat ini. Membayangkan kebahagiaan yang akan dijalaninya bersama suaminya. "Ah tidak aku harus menyuruh Dery membawakan sepeda kemari" ucap Tiyara dengan senyumnya dan berdiri dari duduknya.
Tiyara mengambil ponselnya yang masih berada diatas ranjang dan menyalakannya namun tidak menyala. "**** mati" umpatnya dan langsung mencari cas untuk mengisi baterai ponselnya tersebut.
Dia meletakkan cas ditempatnya dan mengecas ponselnya disana. "Nanti dia akan memboncengku dan membawaku berkeliling tempat ini, Jika tidak......" Tiyara berpikir apa alasan yang hisa membuat suaminya mengiyakan permintaannya.
"Aku akan terus membujuknya sampai dia mau atau mobilnya aku bakar hingga tinggal sepeda dan memaksakan diri untuk menaikinya" ucapnya dengan senyum liciknya.
"Sekarang aku sudah memiliki tanggung jawab kepada istriku, Aku harus mempelajari pelajaran dokter umum agar nanti jika dalam keadaan darurat seperti kemarin tidak menyusahkan orang lain" ucap Jasson dan membuka lembaran demi lembaran buku yang mempelajari tentang obat obatan dan penyakit yang sering dialami pada umumnya.
Membaca dengan pokus membuatnya sedikit mengantuk hingga meminum teh yang sudah dibuat dan setelah itu kembali membaca buku. "Tapi yang seharusnya aku pelajari adalah beladiri" guman Jasson sudah membaca buku beberapa jam.
"Aku harus melindunginya" gumannya kembali.
"Namun selama ini tidak ada orang yang mencoba menyakitiku hanya aku saja yang terus mencari tentang keturunan paman Watsons untuk membalas dendam, Jika dendam sudah terbalas aku baru akn hhidup tenang bersamanya atau mungkin wanita yang aku cintai" guman Jasson dengan tatapan kosong menatap ke sembarang arah.
"Tuan" panggil pengawal. Farid Dwigantara langsung menoleh kearah suara dan terlihat pengawal berada dihadapannya.
"Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Farid dengan wajah datarnya.
"Saya belum menemukan anak dari Drean Polem namun saya menemukan anak dari Watsons Fredi Jaya tuan" jawab pengawal tersebut.
"Heh, Jika ada anak Watsons sudah ada pasti ada anak Drean, Kau selidiki baik baik jangan biarkan keturunan Drean hidup didunia ini tentang keturunan Watsons aku tidak peduli mau keturunannya hidup aku benar benar tidak peduli dan kau hanya perlu mencari tau tentang anak Drean" ucap Farid.
"Baik tuan" jawab pengawal dan langsung berlalu dari sana kembali melanjutkan tugasnya.
"Tuan ini minuman anda" ucap Cethlin Retuli.
__ADS_1
"Heh" Ferdi tersenyum dan langsung menarik tangan wanita itu.
"Sayang kau mendengar ucapan pengawal tadi? Mereka tidak menemukan anakmu namun menemukan anak Watsons, Apakah kau tau dimana anakmu saat ini?" tanya Ferdi dengan senyumnya mengusap dagu wanita tersebut.
"Maaf tuan saya tidak tau kemana putra saya dan saya juga tidak ingat bagaimana bentuknya karna....."
Brukkk
"Kau memang tidak pernah tau dan tidak akan pernah tau bagaimana putramu" teriak Ferdi dengan mendorong Cethlin hingga terjatuh.
"Karna sebelum hl itu terjadi kau tidak akan pernah melihatnya sebab aku akan membunuhnya dan membuang mayatnya ketempat dimana istriku dibuang oleh suamimu" teriak Ferdi kembali dengan menginjak tubuh wanita itu.
Cethlin memejamkan matanya air mata kesakitan menetes begitu saja saat diperlakukan seperti itu oleh Ferdi namun dia menahan agar tidak mengeluarkan suara agar Ferdi tidak mengamuk lebih. "T-tuan" Cethlin nampak kesakitan akan Ferdi yang menarik kencang rambutnya dan meremasnya.
"Bukankah kau ingat bagaimana suamimu membunuh istriku? Awalnya si bodoh Watsons itu yang aku suruh untuk membunuh suamimu namun tidak aku sangka dia benar benar teman sejati suamimu hingga mereka matipun tetap bersama, Tapi tentang kematian wanitaku dia menembaknya tepat dibagian jantung hingga istriku tidak bisa diselamatkan padahal waktu itu wanitaku tengah mengandung anakku, Anakku pergi bersama dengannya sedangkan keluarga kalian dengan mudahnya berbahagia?" bisik Ferdi dengan mata memerah menahan tangis dan dada yang sesak menahan sedihnya mengingat wanita yang dicintainya mati dengan cara yang tidak bagus.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia dalam penderitaan anak dan istriku"
Ferdi langsung menghempaskan kepala wanita itu hingga terbentur kelantai dan membuat kepada itu mengeluarkan darah.
"Jasson" teriak Tiyara dengan senyum yang mengembang dan berjalan sambil meloncat layaknya anak kecil.
Pranggg
"Eh kenapa?" Tiyara langsung menghampiri suaminya tersebut saat mendengar pecahan beling. Dengan wajah hawatir dia langsung menghampirinya.
"Jangan turun" teriak Tiyara dengan mengangkat kaki Jasson yang hendak turun kelantai dan meletakkannya kembali keatas kursi.
__ADS_1
"Perasaanku kenapa menjadi tidak enak seperti ini?" guman Jasson dengan memegang dadanya dan wajah nampak panik.
"Kau bisa terluka jika kau menginjaknya" ucap Tiyara dan mengambil pecahan beling yang bisa diambilnya.
"Jangan kemana mana, Awas saja jika kau turun dari kursi ini" ucap Tiyara dengan melototkan matanya kepada Jasson dan langsung berlari untuk mengambil sapu dan juga tempat sampah.
"Hanya pecahan beling saja sehawatir itu" ucap Jasson dengan wajah bingungnya. Tiyara kembali ketempat dimana ada pecahan beling disana dan menyapunya memasukkannya ketempat sampah dan memastikan jika disana benar benar tidak ada sedikitpun beling dengan menggunakan tisyu.
"Ah ****" tangan wanita itu tertusuk oleh pecahan gelas kecil.
"Sudah tau ada pecahan gelas masih saja menyentuhnya" ketus Jasson dan mengambil tangan wanita itu namun dengan segera Tiyara menarik tangannya.
"Aku tidak apa apa, Angkat kakimu kembali atau aku potong" ucap Tiyara kembali menyapu dengan bersih sebersih bersihnya tempat itu hingga mengkilau.
Tiyara meletakkan tempat sampah dan juga sapu didekat tiang belakang dan duduk dihadapan Jasson dengan kaki Jasson yang diletakkannya diatas pahanya. "Nona, Maaf tadi saya ada kerja didapur" ucap pelayan yang bisa mendengar teriakan Tiyara yang mencari sapu.
"Kakimu tidak ada yang terluka?" tanya Tiyara dengan wajah hawatir nya memperhatikan seluk beluk kaki suaminya yang masih mulus tidak ada luka sedikitpun.
"Nona apakah...."
"Ambilkan kotak obat" potong Jasson saat pelayan yang mungkin akan bertanya apa yang harus dibersihkan.
"Baik tuan" jawab pelayan dan langsung berlalu mengambil kotak obat diruangan obat dirumah tersebut.
Jasson menurunkan kakinya dari paha wanitanya tersebut dan menarik tangan yang sedikit mengeluarkan darah itu. "Hey kenakan sendalmu" ketus Tiyara dengan menundukkan tubuhnya dan mengenakan sendal yang ada dikakinya kekaki suaminya namun itu sempit.
"Kakiku jauh lebih besar dari kakimu bodoh" ucap Jasson dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Tiyara tidak menjawabnya dan kembali keposisi awal dan berbalik kebelakang mengambil sendal suaminya dan setelah itu kembali menunduk mengenakan kaki suaminya sendal sedangkan Jasson dia hanya menatap datar wanita tersebut. "Kau benar benar...."
"Ini tuan kotak obatnya" ucap pelayan membuat ucapan Tiyara terpotong. Jasson menerima kotak obat tersebut dan kembali menarik tangan yang menjauh darinya tadi dan melihatnya.